Tampilkan postingan dengan label TRANSTV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TRANSTV. Tampilkan semua postingan

13 Oktober 2008

Menguji Wawasan Kuliner Pemirsa Kuis Kuliner

Hampir semua program baru Trans TV membidik pemirsa keluarga.


Jangan hanya bisa memakan, tapi juga harus mengetahui mengenai resep dan nama-nama bumbunya. Barangkali itulah yang akan dikemukakan kepada pemirsa oleh Trans TV lewat sajian program bertajuk, Kuis Kuliner. Kuis yang inovatif ini akan menguji wawasan pemirsa mengenai kuliner dan sekaligus menyuguhkan informasi berbagai masakan-masakan favorit.

Kuis yang menjanjikan hadiah jutaan rupiah bagi pemenangnya ini, hadir di layar Trans TV setiap Sabtu dan Ahad pukul 09.30 WIB. ''Sebuah program yang unik akan menemani pemirsa di pagi hari, yakni Kuis Kuliner,'' ujar A Hadiansyah Lubis, head of marketing public relations Trans TV. Acara ini, kata dia, merupakan sebuah program kuis berdurasi 60 menit yang akan menguji wawasan para pesertanya dalam hal yang berhubungan dengan makanan dan minuman.

Menurut Hadiansyah, yang dimaksud dengan kuliner pada acara ini adalah yang berhubungan dengan makanan dan minuman, seperti bahan-bahannya, cara membuat, cara penyajiannya, kandungannya, daerah asal, khasiatnya, serta menguji kemampuan peserta untuk mengolah atau meramu makanan atau minuman. ''Sesuai dengan namanya, acara ini juga menayangkan masakan-masakan dari berbagai daerah dengan kekhasannya masing-masing. Namun tidak hanya masakan daerah, tetapi juga menu-menu Indonesia dan menu mancanegara,'' paparnya.

Program Kuis Kuliner ini dipandu oleh Steny Agustaf dengan menghadirkan tiga orang peserta, juri tetap, chef Riany, dan juri tamu yang akan memberikan nilai bonus kepada peserta. Riany juga akan berbagi tips menarik untuk pemirsa yang memang gemar memasak.

Kuis Kuliner terdiri atas lima segmen, yaitu Menangkap Rejeki, Jawab Cepat, Tebak Bahan, Tebak Gambar, dan di segmen terakhir peserta akan diuji dalam Meramu Bahan. Dan, yang tak kalah serunya ialah hadiah menarik yang dapat dibawa pulang bagi para pemenang.

Di episode perdananya, Kuis Kuliner menampilkan peserta, antara lain Mpok Atik, Mpok Eli, dan Mpok Hindun. Acara semakin seru dengan hadirnya Vincent Club Eigthies sebagai juri bintang tamu. ''Kuis Kuliner bukan sembarang kuis, tapi kuis yang penuh kelucuan yang cukup menghibur pemirsa keluarga di rumah,'' tutur Hadiansyah berpromosi.

Tontonan ini, kata dia, akan menyasar pemirsa keluarga, yang memang selama ini menjadi incaran hampir semua program televisi. ''Setiap program acara baru yang kami tayangkan sengaja diperuntukkan bagi semua golongan usia dan masyarakat. Acaranya harus memiliki keistimewaan khusus dan tidak ketinggalan zaman.''

Drama komedi
Selain Kuis Kuliner, sejumlah program menarik juga akan meramaikan layar Trans TV di bulan Oktober ini. Salah satunya, menurut Hadiansyah adalah Penting Banget yang tayang setiap Senin pukul 20.00 WIB. ''Ini merupakan tayangan drama komedi situasi yang berisikan kejadian-kejadian lucu dan konyol,'' ujarnya.

Penting Banget! menampilkan tujuh orang sebagai lakon utama dengan berbagai karakter. Di setiap episodenya, Penting Banget! hadir dengan berbagai cerita segar dengan pemain yang berbeda-beda.

Penting Banget!, lanjut dia, merupakan acara yang intinya adalah memberikan hiburan dengan cara membuat pemirsanya tertawa. Format hiburan ini dengan kekuatan para pemainnya yang berperan dalam drama komedi singkat. Acara ini dibintangi, antara lain Bedu, Mpok Ati, dan Aming. ''Kami berharap drama komedi ini dapat menambah semarak acara hiburan komedi di Trans TV yang selalu menyajikan acara-acara yang unik, khas, dan punya karakter yang kuat,'' harap Hadiansyah. ruz

http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/22/kat/43

11 Oktober 2008

Perkara Korupsi di Layar Kaca

Dok TransTV / Kompas Images Rekaman penangkapan jaksa Urip Tri Gunawan oleh petugas Komisi Pemberantasan Korupsi. Rekaman dengan sisi dramatis seperti ini banyak dimanfaatkan TransTV untuk program Kumpulan Perkara Korupsi. Acara ini ditayangkan setiap Senin malam.


Budi Suwarna

Apakah para calon koruptor takut melihat begitu banyak koruptor ditelanjangi habis-habisan dalam program berita di layar kaca? Jika tidak, mungkin mereka tinggal menunggu waktu untuk "tampil" di episode-episode berikutnya sebagai tokoh pesakitan.

Kasus korupsi beberapa tahun belakangan menjadi santapan empuk pengelola stasiun televisi. Tidak hanya karena isu tersebut penting untuk diketahui khalayak luas, melainkan juga karena pengungkapan kasus korupsi, terutama oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kian dramatis.

Melalui penyadapan telepon dan pengambilan gambar dengan kamera tersembunyi oleh KPK, kita bisa mengetahui secara rinci bagaimana modus korupsi di Indonesia. Kita mendapat gambaran utuh bagaimana lembaga ini menangkap seorang jaksa bobrok yang baru saja menjemput uang suap dari seorang broker kasus.

Bagi pengelola stasiun televisi, unsur-unsur dramatis itu sangat menggairahkan untuk dieksploitasi, kemudian dikawinkan dengan fakta-fakta dan dikemas jadi berita yang enak ditonton.

Tengoklah acara KPK: Kumpulan Perkara Korupsi di TransTV setiap Senin malam (pengelola acara ini sengaja menamai programnya dengan akronim KPK, lembaga yang sedang giat memberantas korupsi). Program yang tayang sejak Juli 2008 ini berusaha memfilmkan kasus korupsi, mulai dari penyelidikan, penyidikan, proses pengadilan, hingga sang koruptor masuk penjara.

Salah satu kasus yang digarap adalah kasus suap yang melibatkan jaksa Urip Tri Gunawan dan Artalyta Suryani. Acara ini menggambarkan secara rinci bagaimana Urip disergap anggota KPK, lengkap dengan adegan meronta-ronta dan teriakan-teriakan panik Urip saat akan diborgol. Acara ini juga membeberkan bagaimana kasus suap itu terungkap sedikit demi sedikit.

"Pengungkapan kasus korupsi sekarang alurnya sudah membentuk cerita yang lengkap. Di situ juga ada 'unsur sinetron' (unsur dramatis), seperti adegan terdakwa korupsi menangis tersedu-sedu begitu mendengar vonis hakim," ujar M Rizki Arafat, produser program KPK TransTV, Kamis (9/10) malam.

Program KPK TransTV itu diramu dari gambar dan fakta yang diambil wartawan di ruang pengadilan, kantor KPK, hingga lokasi kejadian. Gambar dan fakta itu dirangkai menjadi cerita utuh sehingga berbentuk seperti film semidokumenter lengkap dengan narasi yang kuat, grafis, dan sound-bite (suara-suara yang membangun suasana tertentu).

Jika kru TransTV tidak memiliki gambar untuk menjelaskan satu bagian cerita, mereka mengakalinya dengan merekonstruksi ulang adegan yang diperankan para model. Reka ulang adegan, kata Rizki, dibuat berdasarkan pengakuan saksi- saksi, keterangan otoritas, dan fakta pengadilan.

Di layar kaca, rekaman gambar reka ulang oleh model diberi tulisan "Diperankan Model" untuk membedakan dengan gambar yang diambil dari hasil liputan.

Rizki mengatakan, pihaknya menggunakan gambar reka ulang sekadar untuk mengisi bagian cerita korupsi yang tak tersedia dokumentasi gambarnya.

Pada akhirnya, menyaksikan KPK TransTV seperti sedang menonton adegan dalam film gangster Hongkong atau Hollywood lengkap dengan kejutan- kejutannya.

Selain TransTV, di TVOne ada program Kerah Putih dan di Metro TV ada Metro Realitas. Berbeda dengan KPK TransTV, Metro Realitas dan Kerah Putih berbentuk liputan investigasi.

"Kami tidak memfilmkan kasus korupsi yang sudah terungkap. Kami memaparkan investigasi kami atas kasus korupsi," ujar Ecep Suwardani Yasa, Produser Eksekutif Program Investigasi TVOne, Sabtu. Pernyataan senada disampaikan Swasti Astra, Manajer News Magazine MetroTV.

Format ringan

Gaya penyajian berita di televisi Indonesia memang memperlihatkan banyak perubahan sejak 10 tahun terakhir. Dulu, penyajian berita semata fokus pada pemaparan informasi oleh pembaca berita dan penayangan gambar kejadian.

Kini, penyajian berita dilengkapi dengan grafis, sound-bite, logo, reka ulang oleh model, pendapat khalayak, bahkan interaksi dengan pemirsa. Pengelola televisi juga meningkatkan tempo penyuntingan gambar sehingga alur cerita bergerak cepat dan mencolok. Satu hal lain yang tidak dilupakan adalah "pemasangan" pembaca berita yang menarik.

Ini semua membuat program berita menjadi tidak tampak serius. Sebaliknya, program tersebut bisa menyenangkan pemirsa kendati isu yang disampaikan tergolong seram, mulai dari pembunuhan dengan mutilasi, korupsi, ancaman krisis finansial, hingga pengumuman kenaikan harga bahan bakar minyak.

Jika program berita dilepas begitu saja tanpa dikemas terlebih dahulu, Rizki yakin program itu tidak akan ditonton banyak pemirsa.

Ketua Jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Herlina Agustin, Sabtu, menilai, bagaimanapun, pengemasan berita berpotensi memunculkan bias. Dia mencontohkan, metode reka ulang, seperti yang digunakan KPK TransTV, sebenarnya bukan kegiatan jurnalistik. "Reka ulang itu biasa digunakan dalam film dokumenter," katanya.

Dia menambahkan, kegiatan jurnalistik mendasarkan diri pada fakta, sementara reka ulang berdasarkan pada interpretasi. "Kalaupun KPK TransTV terpaksa menggunakan reka ulang, mereka harus memiliki informan kunci yang bisa menjelaskan kepada penonton bahwa reka ulang itu mendekati kenyataan," katanya.

Herlina juga mengingatkan, program KPK TransTV berpotensi menghakimi orang, terutama pada kasus-kasus korupsi yang belum diputus pengadilan.

Terlepas dari adanya bias, program semacam KPK TransTV tetap memiliki pengaruh dalam membentuk persepsi publik. Pasalnya, kekuatan berita di televisi bukan pada kemampuannya memproduksi berita yang minim bias, melainkan pada kemampuannya menggiring khalayak untuk menerima konstruksi realitas yang mereka bentuk.

Artinya, kalaupun beritanya mengandung bias, sebagian khalayak tetap akan menjadikannya sebagai referensi pengetahuan. Hal itulah yang sebenarnya ditakuti banyak pihak, termasuk koruptor.

Rizki mengatakan, sebagian koruptor atau tersangka koruptor dan keluarganya keberatan kasusnya ditayangkan dalam program KPK TransTV. "Ada yang mengirim surat keberatan atau mengancam akan menyomasi. Kami tidak mundur sebab kami merasa liputan kami berdasarkan fakta dan berimbang," ujarnya.

Rizki menegaskan, sikap itu diambil karena pihaknya ingin jadi bagian dari gerakan pemberantasan korupsi di negeri ini.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/12/0213564/perkara.korupsi.di.layar.kaca

03 September 2008

Kontroversi Tayangan Televisi - Tokoh Kebanci-bancian Menghilang

Dok TPI - Tayangan �Tanya Aku Aja� dibawakan oleh Ivan Gunawan.

[JAKARTA] Dampak peringatan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) terhadap sejumlah stasiun televisi yang menayangkan tokoh kebanci-bancian mulai terasa. Sejumlah program dihentikan mendadak, artis banci menghilang dan sebagian tokoh tetap tampil dengan gaya normal..

Dari hasil pantauan SP hingga Rabu (3/9) pagi, memasuki Ramadan, peran kebanci-bancian itu menghilang. Pelawak Tessy dan Olga Saputra pada acara Saatnya Kita Sahur di Trans TV, terlihat mengenakan kostum biasa layaknya seperti laki-laki, tidak mengenakan pakaian perempuan maupun berperan sebagai banci. Begitu juga dengan Ruben Onsu saat membawakan acara Kiss di Indosiar, tidak tampil dengan gaya kebanci-banciannya.

Menurut Manajer Hubungan Masyarakat Indosiar Gufroni Sakaril, mengatakan pihak Indosiar menghargai hasil keputusan KPI, atas kepeduliannya terhadap program acara yang ditayangkan.

"Saat ini, belum ada rencana untuk mengangkat tokoh atau peran banci. Trendnya bisa berbeda-beda. Ada program baru nantinya dan format acara akan diganti serta dibuat lebih menarik lagi. Sekarang program sinetron lebih banyak dan ke depan akan melihat apa yang diingini masyarakat. Reality show punya peluang tersendiri, kmungkinan akan kembali ke format awal, yaitu lebih serius dalam acara," jelas Gufron di Jakarta, Rabu (3/9).

Senada dengan itu, Manajer Humas Trans TV, Hadiansyah Lubis menjelaskan secara bertahap akan menghilangkan unsur kebanci-bancian, karena memerlukan waktu untuk melakukan perubahan. Trans TV juga akan memperbaiki apa yang dianggap kurang maupun tidak boleh oleh KPI. Acara Extravaganza tujuan awalnya adalah murni untuk menghibur masyarakat, tidak ada niat untuk merusak tatanan nilai moral.

"Saat ini sudah ada perubahan pada acara Extravaganza. Dari sisi kostum biasa yang paling banyak disorot, sudah kami ganti dengan pakaian yang layak. Formatnya akan sama, yaitu reality show komedi. Begitu juga dengan naskah (skript) maupun adegan komedi yang pantas untuk ditonton. Hal ini menjadi tantangan bagi kami untuk menghasilkan program acara yang berkualitas tanpa ada unsur kebanci-bancian," ungkapnya.

Namun, di sisi lain, bagi pemain yang memang terlahir dengan gaya kebanci-bancian, pihak Trans TV tidak bisa mencegah hal itu, seperti komedian Aming. Hadiansyah mengungkapkan, hanya kostumnya saja yang bisa dicegah, tetapi gaya bancinya tidak bisa dihilangkan. Pihaknya tetap merespons secara positif teguran dari KPI dan menerima aturan yang berlaku, walaupun ada pro- kontra.

Terkait dengan itu, Koordinator Pemantauan Langsung KPI Pusat, Yazirwan Uyun menuturkan teguran yang diberikan kepada stasiun televisi bertujuan baik. Baru tahap pertama yang diberikan untuk mengingatkan program acara-acara yang menampilkan unsur kebanci-bancian.

"Bila sudah tiga kali tayangan tersebut ditegur dengan menggunakan judul yang sama, tetap tidak perubahan yang berarti, maka sanksinya adalah penghentian sementara," tandasnya.

Tayangan dengan model kebanci-bancian dianggap melanggar peraturan KPI Nomor 03 UU No 32/2002. Hal itu dinilai tidak sejalan dengan Pedoman Perilaku Penyiaran Standar Program Siaran (P3SPS) Tahun 2007.

Bila dilihat sisi psikologis, adegan dari tayangan kebanci-bancian di televisi, dapat ditiru dan mempengaruhi anak-anak yang tidak mengetahui maknanya. Perilaku tersebut dapat menjadi trendsetter. Sementara dari sudut pandang pendidikan, kelainan identitas seksual (gender identity disorder), yang merupakan suatu penyakit yang secara klinis harus ditolong atau diobati.

Berdasarkan pantauan KPI, stasiun televisi yang banyak menayangkan reality show dengan sosok kebanci-bancian dan dinilai terlalu mengeksploitasi sosok tersebut, adalah Indosiar, Trans TV, Trans 7, dan TPI. [HDS/U-5]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/09/03/index.html

17 Juli 2008

"Trans TV" Hadirkan Lima Acara Baru

"Mahligai Cinta" produksi MD Entertainment akan ditayangkan stasiun televisi "Trans TV", dalam rangka Sinema Indonesia Spesial. MD Entertainment

[JAKARTA] Pemirsa televisi kembali dimanjakan dengan kehadiran lima program acara baru di Trans TV, yang akan tayang pada Kamis (17/7). Acara yang diperuntukkan bagi keluarga tersebut, yakni Penting Banget, Sinema Indonesia Spesial, Kumpulan Perkara Korupsi (KPK), Balada Sang Bintang, dan Missing Lyrics.

Keluarga, menurut Kepala Marketing Public Relation Trans TV A Hadiansyah Lubis saat ditemui SP, di Jakarta, Rabu (16/7), adalah sasaran yang paling diincar oleh semua stasiun TV. Acara untuk segmentasi keluarga, biasanya lebih diminati daripada acara bersegmen khusus.

"Setiap program acara baru yang kami tayangkan sengaja diperuntukkan semua golongan usia dan masyarakat. Acaranya harus memiliki keistimewaan khusus dan tidak ketinggalan zaman," papar Hadiansyah.

Balada Sang Bintang adalah program dokumenter yang dikemas secara drama. Bintang dalam Balada Sang Bintang tidak sembarangan, yakni seniman besar Indonesia yang sudah melegenda. Pada acara yang ditayangkan setiap Kamis pukul 10.30-11.00 WIB, masyarakat diberikan informasi tentang biografi sisi kehidupan sang bintang. Dimulai dari perjuangan hidup sebelum menjadi bintang sampai akhirnya menjadi orang terkenal.

Produser Balada Sang Bintang Ami Melan Rosa menuturkan, sang bintang akan hijrah ke tempat-tempat bersejarahnya dulu. Bahkan sang bintang juga akan menemui orang-orang yang memiliki ikatan khusus dengannya. "Berbagai kejutan akan kami tampilkan. Bisa saja sang bintang diberikan hadiah dari seseorang pada masa lalu, atau sebaliknya," ujar Ami.

Berbeda dengan Balada Sang Bintang, KPK yang tayang setiap Senin mulai 21 Juli 2008 pukul 19.00-20.00 WIB, adalah sebuah program yang mengangkat berbagai kasus korupsi di Indonesia. Setiap kasus yang ditayangkan sebelumnya sudah mendapat izin resmi dari Komisi Pemberantasan Korupsi. Bahkan, saksi-saksi dan fakta yang dihadirkan asli tanpa rekayasa.

Pada tayangan perdana, KPK akan menampilkan kisah Jaksa Urip yang terkait kasus suap BLBI dari Artalyta Suryani. Pemimpin Redaksi Trans TV Gatot Triyanto menjelaskan, semua kasus yang ditayangkan KPK memiliki kekuatan hukum tetap atau masih dalam proses persidangan.

Sementara itu, tiga program acara lainnya disajikan dengan konsep yang lebih menghibur. Sebut saja Missing Lyrics yang hadir setiap Minggu, mulai 20 Juli 2008, pukul 13.30-14.30 WIB, merupakan tebak lirik lagu yang hilang. Beberapa kategori musik, mulai dari pop, dangdut, dan rock akan ditampilkan dalam Missing Lyrics.

Acara menghibur berupa komedi situasi juga hadir dalam Penting Banget. Tayangan yang hadir setiap Senin pukul 20.00-21.00 WIB tersebut menceritakan kejadian-kejadian lucu dan konyol. Penting Banget akan dilakoni oleh tujuh orang pemain dengan karakter yang berbeda.

Tidak hanya acara komedi dan realita kehidupan, Trans TV juga menyajikan Sinema Indonesia Spesial bekerja sama dengan MD Entertainment, setiap Selasa, mulai 21 Juli 2008, pukul 19.00-21.00 WIB. Sinema Indonesia Spesial akan menyajikan berbagai kisah cinta dan keindahannya, di antaranya berjudul Mahligai Cinta. Gatot menambahkan, cerita cinta yang ditampilkan dalam Sinema Indonesia Spesial lebih banyak dikemas dalam cerita religi. [EAS/U-5]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/07/17/index.html

16 Juli 2008

Tiga Tayangan Bermasalah Dievaluasi

Surat teguran kepada Trans TV atas tiga program yang dinilai bermasalah oleh Komisi Penyiaran Indonesia atau KPI telah disikapi dengan evaluasi dan mendatangi KPI untuk menyamakan persepsi. Sebagai tayangan unggulan, Trans TV tak ada niat untuk menayangkan hal yang seronok. Namun, karena komedi, bisa saja spontan muncul hal-hal yang di luar skenario. Yang pasti, keinginan kedua belak pihak sudah disepakati.

Demikian dikatakan Manajer Humas Trans TV A Hadiansyah Lubis, Rabu (16/7), tentang teguran terhadap tiga program yang dinilai bermasalah KPI, yang diekspose pekan lalu.

Seperti dilaporkan KPI, pemantauan sepanjang Mei 2008, ditemukan empat tayangan bermasalah. Satu di antaranya adalah Extravaganza, mendapat teguran terakhir.

Koordinator Bidang Isi Siaran KPI Pusat Yazirwan Uyun mengatakan, tiga tayangan lain yang bermasalah adalah Ngelenong Nyok (Trans TV), One Piece (Global TV), dan Suami-suami Takut Istri (Trans TV). "KPI Pusat melakukan pemantauan terhadap 285 tayangan anak (episode) dari 92 judul pada sembilan stasiun televisi," ujarnya.

Uyun menjelaskan, suatu tayangan dinilai bermasalah apabila mengandung unsur kekerasan (fisik dan psikologis), baik dalam bentuk tindakan verbal maupun nonverbal, pelecehan terhadap kelompok masyarakat dan individual, tidak melindungi kepentingan anak-anak, remaja dan perempuan, serta tidak sesuai dengan norma kesopanan.

Dihubungi secara terpisah, Ketua Asosiasi Televisi Swasta Indonesia Karni Ilyas mengatakan, pihaknya sangat mendukung penilaian yang dilakukan KPI terhadap isi tayangan televisi-televisi. Namun, KPI sebaliknya juga diingatkan untuk hati-hati menilai suatu tayangan dan iklan.

Menurut Karni, sebagai lembaga independen, KPI mestinya mempunyai kekuatan untuk memberikan sanksi, tak hanya sebatas teguran. (NAL)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/17/01054432/tiga.tayangan.bermasalah.dievaluasi

10 Juli 2008

Akibat Ditegur, Kru Extravaganza Sambangi KPI

Kamis, 10 Juli 2008 - Sebagaimana pernah dijanjikan oleh Direktur Utama Trans TV, Ishadi SK, di beberapa media, rombongan kru "Extravaganza" dan "Ngelenong Nyok" mendatangi KPI Pusat siang tadi. Ishadi mengaku, kedatangan rombongan Trans TV ini untuk menyamakan persepsi antara KPI dengan rombongan personil pembuat program "Extravaganza" dan "Ngelenong Nyok". Menurutnya, hal ini penting karena supaya tidak lagi terjadi pelanggaran dalam program-program ini. "Masalah utama kami adalah sistem, bahan tayangan kadang baru datang sekitar 1 atau 2 jam sebelum tayang, ditambah lagi termasuk ada hal-hal yang beyond control seperti kru, ucapan artis dan lain sebagainya", jelas Ishadi, menanggapi teguran KPI terhadap program Extravaganza, Nglenong Nyok dan Suami-suami Takut Istri. Selain itu, setelah membaca rincian deskripsi pelanggaran yang diberikan KPI Pusat, Ishadi mengakui memang ada lelucon-lelucon dalam Extravaganza yang memang tidak pantas. Namun, dia juga menyatakan ada banyak deskripsi pelanggaran yang masih dapat diperdebatkan, misalnya soal adegan banci, "adegan banci-banci adalah suatu hal yang biasa terjadi, di Indonesia banyak terdapat banci", tandas Ishadi. Sedangkan mengenai adegan ciuman, dia mengatakan bahwa hal itu bukan sesuatu yang disengaja.
 

Menerima kedatangan rombongan Trans TV dan TV 7, Anggota KPI Pusat yang juga Koordinator pemantauan langsung, Yazirwan Uyun menjelaskan prosedur pemantauan yang dilakukan KPI Pusat. Mantan Direktur Utama TVRI ini menjelaskan bahwa hasil pemantauan langsung yang diterima dari analis akan diolah dahulu oleh koordinator yaitu Bobby Guntarto (Yayasan Pengembangan Media Anak) dan Razaini Taher (Mantan Praktisi Media) sebelum dibawa ke forum Panel untuk diperiksa kebenarannya. Setelah diperiksa kebenarannya oleh Tim Panel yang terdiri dari Prof. Dr. Arief Rahman (Ketua), Dedy Nur Hidayat Ph.D (wakil ketua),  dengan para anggota, Dr. Seto Mulyadi dan Dra. Nina Armando M.Si, hasil rekomendasi ini dibawa ke Pleno KPI Pusat untuk diputuskan secara resmi sebagai keputusan KPI Pusat. Selain menjelaskan prosedur, pria yang akrab dipanggil Iwan Uyun ini juga tidak menampik kemungkinan ada tayangan yang lebih buruk dari Extravaganza. "karena segala keterbatasan seperti alat, SDM dan lain sebagainya, kita hanya mampu memantau 3 sampai 4 jam sehari", kata Iwan Uyun. Dia juga menjelaskan bahwa untuk periode berikutnya KPI Pusat akan lebih fokus pada program sinetron.

Mengemuka dalam forum, walaupun diakui bahwa adegan banci memang berlebihan, namun Extravaganza adalah acara komedi, maka tidak mungkin seluruh banyolan dibatasi sampai rinci. para kru juga menyampaikan bahwa kalau dilihat sepotong-sepotong maka tayangan ini bisa memiliki makna parsial, untuk itu, semua harus dilihat secara utuh. Salah satu Kru Trans 7 menyatakan bahwa Extravaganza adalah acara komedi dampaknya tidak terlalu buruk bagi anak, berbeda dengan sinetron yang tayang hampir setiap hari dan membawa cerita anak-anak pacaran dan lain sebagainya sehingga berdampak sangat buruk bagi anak-anak.

Menanggapi persoalan ini, Anggota KPI Pusat, Don Bosco Selamun menyatakan penonton TV itu memang tidak harus melihat keseluruhan acara karena sangat mudah mengganti channel. Maka, ketika ada yang buruk tayang di awal cerita, walaupun di akhir cerita ada maksud baiknya, namun yang ditangkap oleh penonton adalah yang buruk itu. Jadi, memang TV harus berhati-hati dalam cara penyampaian pada program. Anggota KPI Pusat lainnya, S. Sinansari ecip menyatakan bahwa sistem kejar tayang ini yang perlu diperbaiki. ecip juga menjelaskan bahwa dengan dialog ini perlu disampaikan bahwa KPI tidak ingin menghancurkan industri lembaga penyiaran, namun lembaga penyiaran juga diminta untuk memperhatikan ketentuan mengenai isi siaran yang dibuat oleh KPI Pusat dan 27 KPI Daerah.

Wakil Ketua KPI Pusat, Fetty Fajriati menambahkan dan meminta kepada forum untuk berusaha memahami perspektif orang lain sebelum mengambil keputusan (mengenai tayangan-red). "KPI juga sudah melakukan teguran ke TV lain yang juga melecehkan fisik kaum minoritas dan mempertontonkan seksualitas", kata Fetty. Secara khusus, Fetty meminta memperhatikan permintaan MUI dan lembaga keagamaan lain yang meminta lembaga penyiaran mengurangi tayangan banci, "kami pun mendapat masukan yang sama dari masyarakat", tambah Fetty

Mengakhiri diskusi yang dihadiri oleh Anjasmara dari Rumah Produksi yang membuat sinetron komedi Suami-suami Takut Istri serta hampir 30 orang kru Trans TV dan Trans 7, Iwan Uyun menyatakan bahwa tujuan KPI bukan untuk menghambat kreativitas, namun ada rambu-rambu yang harus ditaati dalam bersiaran di Indonesia. "Jangan sampai hal ini menghambat kreasi, teruskan berkreasi, namun, perhatikan juga rambu-rambu yang ada", kata Iwan sambil membagi-bagikan buku UU No.32 tentang Penyiaran. Selain Fetty, ecip, Iwan Uyun, Don Bosco, acara ini juga dihadiri oleh Anggota KPI Pusat lainnya, Amar Ahmad.

Keluhkan Berita I Gosip

Selain itu, Don mengeluhkan tayangan I Gosip (Trans 7) yang tayang pada 15 Mei 2008 pukul 07.00 WIB. Don mengungkapkan bahwa dalam pemberitaan di I Gosip, baik sengaja maupun tidak telah terjadi misleading. Dalam narasi pemberitaan I Gosip ini, disebutkan bahwa KPI telah mencekal artis Ruben yang merupakan pembawa acara Super Seleb Show (salah satu acara bermasalah yang diumumkan pada periode pertama). Padahal, KPI sama sekali tidak pernah mencekal artis, "yang kita persoalkan adalah materi tayangannya dan bukan artisnya", tandas Don. Menyikapi persoalan ini, Ishadi menjelaskan bahwa tidak ada tendensi dari pihaknya untuk melawan KPI. Untuk itu, dia berjanji akan menyampaikan ke pihak rumah produksi yang membuat program I Gosip agar lebih berhati-hati.

08 Juli 2008

KPI Menegur Keras "Trans TV" - "Extravaganza" Ditinjau Ulang

Hasil pemantauan langsung Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat menetapkan empat tayangan bermasalah. Satu di antaranya, Trans TV yang sebelumnya sudah pernah mendapat teguran karena tayangan Extravaganza. Hal itu terkait dengan Undang-Undang No 32 tahun 2002 tentang penyiaran dan menjadi teguran terakhir. KPI akan meminta tayangan Extravaganza dihentikan, apabila pihak Trans TV tidak segera memperbaiki tayangan tersebut.

Menurut Anggota Tim Analis KPI, Nina Armando, setelah dilakukan preliminary analysis, diperoleh 10 mata acara atau episode yang paling tinggi frekuensi potensi pelanggarannya berdasarkan Standar Program Siaran 2007 yang ditetapkan KPI.

Hasil analisis dilakukan eksplorasi terhadap 4 mata acara.

"Ketiga tayangan lain yang mendapat teguran, yaitu Suami-suami Takut Istri, Ngelenong Nyok (Trans TV), dan One Piece (Global TV). Jenis tayangan yang dipantau KPI meliputi sinetron komedi, variety show, dan tayangan anak berjumlah 285 tayangan (episode) dari 92 judul dari 9 stasiun TV, yaitu Indosiar, SCTV, TPI, RCTI, Global TV, ANTV, TVRI, Trans TV, dan Trans 7. Program-program yang dievaluasi ini adalah program yang tayang pada 1-13 Mei 2008," kata Nana saat mengumumkan hasil pemantauan ke-2 di Gedung KPI, Jakarta, Senin (7/7).

Suatu tayangan dinilai bermasalah apabila mengandung unsur kekerasan (fisik dan psikologis) baik dalam bentuk tindakan verbal maupun non-verbal, pelecehan terhadap kelompok masyarakat maupun individual, tidak melindungi kepentingan anak-anak, remaja, dan perempuan, serta tidak sesuai dengan norma-norma kesopanan dan kesusilaan.

Senada dengan itu, Wakil Ketua KPI, Fetty Fajriati Misbach, mengatakan banyak acara tidak mencantumkan klasifikasi acara, yaitu penggolongan program siaran berdasarkan usia khalayak penonton. Seharusnya ada penggolongan A (Anak), R (Remaja), D (Dewasa), SU (Semua Umur) dan BO (Bimbingan Orang tua).

"Pada film kartun biasanya untuk anak-anak ditulis A, tetapi sebenarnya film tersebut bila dilihat isinya merupakan film dewasa. Acara tersebut menampilkan muatan dewasa yang vulgar atau menyiratkan seks dan kekerasan secara ekspresif," papar Fetty.

Penetapan ini didasarkan atas hasil evaluasi tim panelis yang diketuai oleh Arief Rahman, wakil ketua Dedy Nur Hidayat, dan anggota Seto Mulyadi, Nina Armando, Bobby Guntarto, dan Razaini Taher serta dibantu oleh 11 orang analis setelah melalui forum rapat dengan komisioner KPI Pusat.

Di lain pihak, Manajer Humas Trans TV, Hadiansyah Lubis akan menyesuaikan dan memperbaiki tayangan sampai memenuhi tuntutan KPI. Dengan adanya masukan dari KPI, pihak Trans TV meninjau kembali setiap tayangannya.

"Kami akan mengikuti aturan yang ada. Sebenarnya dari internal sudah mempunyai kebijakan sendiri dan nantinya akan dilihat perkembangan selanjutnya. Acara komedi Extravaganza sifatnya spontan, dan nantinya akan diberi batasan-batasan agar tidak keluar dari script. Acara Extravaganza tidak akan dipindahkan jadwal tayangnya, karena merupakan prime time," tangkas Hadiansyah saat dihubungi SP.

Sementara itu, Komisioner KPI Pusat, Yazirwan Uyun, mengungkapkan langkah-langkah yang dilakukan bila ada masalah dengan tayangan, yaitu teguran pertama, teguran kedua, penghentian sementara, penghentian, dan terakhir lapor ke pihak kepolisian. [HDS/U-5]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/07/08/index.html

12 Juni 2008

Ragam Komedi Ceria di TransTV

Trans TV ingin menyuguhkan keceriaan bagi pemirsanya

Aming dan Indra Birowo yang berdandan sebagai anak band memasuki sebuah hotel dan mengaku kepada room boy (Edric Tjandra), personel band Andra and Backbone). Keruan saja Edric tidak percaya dengan Aming dan Indra yang bertubuh kurus, apalagi tidak beberapa lama muncul para personel Andra and Backbone yang sesungguhnya.

Itulah penggalan skenario pembuka acara Extravaganza yang ditayangkan Trans TV pada Sabtu, (7/6) lalu pukul 19.00 WIB. Penampilan Aming cs di Extravaganza kian mendapat tempat tersendiri di masyarakat. Menurut Aris Ananda, planning & scheduling Dept Head Trans TV, ExtraVaganza yang mulai tayang 5 April 2004 mampu menembus kompetisi yang ketat di jagad komedi Indonesia saat ini. Format program acara komedi ini terbagi dalam beberapa segmen, yakni sitkom, komedi musikal, dan parodi. Di Extravaganza, pemirsa juga akan disuguhi penampilan penyanyi dan band-band papan atas, seperti: Peterpan, Christian Bautista, Keith Martin, Serieus, Gigi, Audy, Slank, Andra and Backbone, dan lain-lain.

''Extravaganza menyajikan sesuatu yang baru, baik pemain, gaya berkomedi, maupun kemasan komedi itu sendiri dan digabungkan dengan penampilan musik dari penyanyi dan grup band yang menjadi bintang tamu. Hal itu memiliki daya tarik tersendiri, semakin memiliki daya pikat,'' tutur Aris mengenai acara variety show terpopuler di Trans TV ini.

''Kini Extravaganza sudah menjadi trendsetter dan juga sudah dapat membentuk pemirsa tersendiri,'' tegas Aris. Agar dapat bertahan, kami berusaha berinovasi,'' terang Aris yang mengungkapkan, berdasarkan riset AC Nilsen, rating acara ini tetap tinggi dengan mencapai delapan poin.

Kesuksesan Extravaganza membuat Trans TV menjadi percaya diri untuk membuat beberapa program acara komedi dengan format berbeda. Seperti Sssst Usil Banget Deh, Coffe Bean Show, Sketsa, Jail, dan Akhirnya Datang Juga Plus-Plus.

Sssst Usil Banget Deh (SUBD) tayang kali perdana pada 10 November lalu itu dihadirkan setiap Sabtu pukul 18.30 WIB. SUBD yang masuk dalam kategori reality game show ini dipandu oleh komedian Bedu. ''Respons pemirsa terhadap tayangan SUBD ini juga cukup memuaskan. Perolehan rating maupun share pemirsa relatif bagus,'' ungkap Aris. Berdasarkan data harian yang dilansir dari lembaga riset televisi, AGB Nielsen berhasil menembus rating hingga 2,7 poin.

Kondisi serupa terjadi pada Coffe Bean Show (CBS). Diungkapkan Aris adapun, rating dan sharenya CBS selama dua minggu terakhir. ''Rating dan share ini mengalami peningkatan setelah selama ini share-nya di bawah 10 persen,'' ungkap Aris mengenai CBS yang kini sudah mencapai 30 episode.

''Bila dilihat dua minggu terakhir mengalami peningkatan, berarti memang terjadi respons yang positif dari pemirsa terhadap CBS. Untuk itu kualitas selalu berusaha ditingkatkan dengan cara menghadirkan bintang-bintang tamu yang variatif di setiap episodenya dan tidak lupa—terus meningkatkan kelucuannya,'' tutur Aris.

Tak kalah serunya, lanjut Aris, acara Sketsa yang tayang setiap Jumat pukul 19.30-20.00 WIB. Program ini menampilkan sketsa-sketsa komedi singkat namun memancing tawa maksimal. ''Kami ingin mengenalkan format baru yakni komedi real yang mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tidak dibuat-buat dan diangkat dari materi yang fresh,'' terang Aris.

Adapun Jail yang merupakan sebuah program comedy reality show menangkap kelucuan suatu situasi. Jail tayang setiap hari Jumat mulai pukul 19.00-19.30 WIB dengan menampilkan beberapa ide jahil yang telah dipersiapkan pada lokasi yang berbeda-beda.

Sedangkan Akhirnya Datang Juga Plus-Plus merupakan bentuk pengembangan dari kesuksesan program Akhirnya Datang Juga ini tayang setiap Rabu pukul 19.00 WIB. Program ini hadir memberikan hiburan menyegarkan melalui penampilan Nardji sebagai pembawa acara.

Hadirnya program-program komedi tersebut pada waktu primetime menegaskan upaya Trans TV untuk menciptakan hari-hari pemirsa yang penuh dengan keceriaan ''Hadirnya program-program komedi tersebut untuk membuat pemirsa terhibur dengan canda tawa di waktu primetime yang santai.'' ujar Hadiansyah Lubis, head of marketing public relations Trans TV.

''Kita sadar di primetime itu persaingan cukup berat. Karena pada slot tersebut hampir semua stasiun televisi menghadirkan sinetron. Nah, dengan sajian program ini kami berharap bisa menjadi alternatif tontonan yang bisa menghibur pemirsa di rumah.''

''Para pemirsa di negeri ini sudah terbiasa menyaksikan sinetron. Sekarang kami ingin secara perlahan mengubahnya lewat tayangan yang berbeda,'' tegas Hadiansyah yang menegaskan lagi bahwa memang program acara komedi menjadi unggulan di Trans TV selain program acara musik dan film.

Dengan hasil rating dan share yang cukup tinggi dari program-program komedi yang disajikan Trans TV menunjukkan bahwa acara-acara komedi tersebut dapat bersaing dengan acara-acara sinetron pada jam-jam primetime. ruz

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=337424&kat_id=476