29 November 2011

Saya masuk fokus pada permasalaan, bukan tebar pesona di TV

Rabu, 30/11/2011 09:15 WIB

Bela Nazaruddin, Hotman Serang Penyidik KPK & Tak Sentuh Politikus PD

Indra Subagja - detikNews


Jakarta - Hotman Paris Hutapea punya cara yang berbeda dengan OC Kaligis dalam membela Nazaruddin. Saat membela Nazaruddin, Kaligis giat 'menyerang' KPK dan sejumlah politikus Partai Demokrat. Namun berbeda halnya dengan Hotman. Pengacara eksentrik ini tak menyentuh politikus PD yang kerap disebut Nazaruddin.

"Saya fokus pada permasalahan. Ini Nazaruddin tidak pernah disidik soal Wisma Atlet," kata Hotman saat dihubungi detikcom, Rabu (30/11/2011).

Saat ditanya akankah dia mengungkap politikus PD yang kerap disebut Nazaruddin terkait kasusnya, Hotman lebih memilih mempersoalkan penyidikan KPK. Nazaruddin berkali-kali dalam pernyataannya menyebut nama politikus PD.

"Ini kenapa tiba-tiba diadili, jaksa tidak pernah membuat berita acara yang dituduhkan. Ini melanggar hak asasi manusia," jelasnya.

Hotman pun yakin dengan strateginya ini, yan lebih fokus mempersoalkan KPK dibanding politikus PD bisa membebaskan Nazaruddin.

"Saya masuk fokus pada permasalaan, bukan tebar pesona di TV," tuturnya.

Kaligis menurut pengakuan Hotman tidak lagi memegang Nazaruddin. Hotman merujuk pada surat kuasa yang baru. Nazaruddin pagi ini diadili di Pengadilan Tipikor. Dia didakwa menerima suap terkait kasus wisma atlet. (ndr/vit)

http://www.detiknews.com/read/2011/11/30/091559/1778787/10/bela-nazaruddin-hotman-serang-penyidik-kpk-tak-sentuh-politikus-pd





27 November 2011

LPI Diboikot, MNC Group Pangkas Nilai Kontrak

TEMPO.CO, Jakarta - Mundurnya sejumlah klub dari Liga Prima Indonesia (LPI) membuat nilai kontrak antara Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) dengan MNC Group selaku pemegang hak siar kompetisi terkoreksi. Nilai kontrak yang semula Rp 100 miliar per musim kemungkinan akan menciut.

"Kita sama-sama tahu ada konsekuensi dan kompensasi dalam kontrak. Akan ada koreksi nilai kontrak, tapi berapa nilainya kami belum tahu," kata Ketua Kompetisi PSSI Sihar Sitorus ketika dihubungi, Ahad, 27 November 2011.

Kompetisi Liga Prima semula akan diikuti 17 klub. Namun belakangan tiga klub, yakni Persipura, Mitra Kukar, dan Persib Bandung, memboikot. Mereka enggan tampil dalam laga lanjutan Liga Prima, Sabtu kemarin.

Tak hanya tiga klub tersebut, Persidafon dan PSMS Medan juga kemungkinan bakal menyeberang ke Liga Super Indonesia. Sehingga klub yang akan berlaga di Liga Prima praktis tinggal 12 klub. Namun kepastian berapa jumlah klub yang akan berlaga di Liga Prima ini menunggu hasil keputusan dari komisi disiplin PSSI.

Sihar mengatakan pihaknya akan membahas persoalan ini dengan MNC Group. Saat ini, kata sihar, MNC Group telah mendapat laporan adanya beberapa klub yang mundur dari liga. Sihar mengapresiasi sikap MNC Group yang hingga saat ini masih percaya Liga Prima akan tetap bergulir. "Ada satu perubahan tidak membuat mereka mundur, itu positif," katanya.

Dwi Riyanto Agustiar

http://www.tempo.co/read/news/2011/11/27/099368637/LPI-Diboikot-MNC-Group-Pangkas-Nilai-Kontrak

24 November 2011

Lima Media Cetak Tolak Pembatasan Iklan Kampanye

Sandro Gatra | Heru Margianto | Kamis, 24 November 2011 | 15:59 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Lima media cetak nasional yakni Harian Kompas, Media Indonesia, Republika, Indo Pos, dan Majalah Gatra menolak pembatasan iklan kampanye partai politik ketika Pemilu.

Hal itu terungkap dalam rapat dengar pendapat umum antara perwakilan media cetak dengan Panitia Khusus Rancangan Undang-undang Pemilu di Komplek DPR, Kamis (24/11/2011).

Harian Kompas diwakili Redaktur Pelaksana Budiman Tanuredjo, Media Indonesia diwakili Direktur Pemberitaan Usman Kansong, Republika diwakili Kepala News Room Irwan Ariefyanto, Indo Pos diwakili Pemimpin Redaksi Don Kardono, dan Majalah Gatra diwakili Direktur Pemberitaan Hedi Lukito.

Mereka dimintai pandangan terkait iklan partai politik di media cetak. Menurut Ketua Pansus Arif Wibowo, ada penilaian ketidakadilan iklan partai politik yang tampil di media. Partai bermodal besar dapat jor-joran beriklan.

Budiman menjelaskan, mayoritas media cetak di Indonesia, salah satunya Kompas, hidup berdasarkan iklan. Pers, kata dia, tidak mungkin bisa sehat jika tidak sehat dari segi bisnis.

Di Kompas, lanjut Budiman, terdapat dinding api (fire wall) yang memisahkan antara editorial dengan komersial sehingga keduanya tidak bisa saling mempengaruhi. Dalam kesempatan itu, Budiman meluruskan persepsi publik mengenai iklan partai politik di Kompas.

"Orang sudah pasang iklan di Kompas seakan-akan beritanya akan baik-baik saja. Itu asumsi yang sangat keliru," kata Budiman.

Mengenai pernyataan Arif bahwa ada ketidakadilan iklan partai di media, menurut Budiman, Kompas memberi kesempatan yang sama kepada seluruh partai untuk memasang iklan. Namun, mereka tetap harus mematuhi aturan di Kompas.

Usman mengatakan, RUU Pemilu seharusnya hanya mengatur penyelenggaraan pemilu, tidak sampai mengatur iklan partai di media. Pasalnya, kata dia, kerja media cetak sudah diatur dalam UU seperti UU Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

"Ketika ada masalah (iklan kampanye di media cetak), undang-undang mana yang mau dipakai," kata Usman.

TERKAIT:

23 November 2011

KPI akan Panggil Silly untuk Jelaskan 'Charity Settingan' Nograhany Widhi K - detikNews

Jakarta - Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) akan kembali memanggil tvOne untuk menjelaskan tentang acara 'Sosialite' pada Sabtu (19/11) malam lalu. KPI juga akan memanggil Valencia Mieke Randa (Silly) sebagai pihak yang dirugikan.

"Dalam pertemuan kami dengan tvOne, kami ingin undang Bu Silly. Kami belum memutuskan untuk Fifie (Fifie Bundaran, red) karena yang ini (Silly) pihak yang merasa dirugikan. Kami sudah membicarakan itu dengan Bu Silly," ujar Wakil Ketua KPI Nina Muthmainnah ketika dihubungi detikcom, Rabu (23/11/2011).

Nina menambahkan, belum tahu kapan tepatnya akan memanggil Silly. Pertemuan dengan tvOne akan diadakan kembali karena KPI perlu mengklarifikasi beberapa hal.

"Belum tahu kapan akan mengundang Bu Silly. Kami minta tvOne mengeksplorasi sejumlah hal, ada yang harus dijelaskan lebih lanjut oleh tvOne," jelas Nina.

Dalam pertemuan KPI dengan tvOne pada Senin (21/11) lalu, dari pembicaraan BBM reporter tvOne dan Valencia Mieke Randa (Silly), KPI mengindikasikan stasiun televisi itu tahu adanya settingan.

"Soal di blog Ibu Valencia (percakapan BBM-red), pihak tvOne masih belum clear menjawabnya. Komunikasi seperti apa antara reporter dengan pihak pengadu. Sepertinya pihak tvOne tahu itu ada penipuan dan seharusnya sebagai jurnalis, fakta itu yang harus diungkap. Ada nama yang dirugikan yaitu Nando," kata anggota KPI Koordinator Pemantauan Isi Siaran, Ezki Suyanto.

Anggota KPI lainnya, Judha Riksawan mengatakan, masih ada hubungan yang terputus (missing link) dalam persoalan tahu tidaknya tvOne soal settingan charity itu. "Bahasa kami ada 'missing link' seperti liputannya tanggal 10 sampai tanggal 18, antara reporter dengan Valencia seperti apa komunikasinya," ujarnya.

Judha mengatakan, tidak ada yang dipersoalkan dari gambar yang tayang kecuali keberatan pengadu yang tidak diakomodir dan missing link itu.

"Tidak ada setting, indikasi penipuan, itu jawaban mereka. Yang kami persoalkan, bagaimana komunikasi reporter dengan Ibu Valencia. Soal gambar itu tidak berpengaruh. Ada BBM yang diberikan reporter kepada Ibu Silly seolah-olah ini ada penipuan dan seolah-olah tvOne sudah tahu. Ini yang masih belum bisa tuntas diklarifikasi," terangnya.

Sebelumnya General Manager News and Sport, Totok Suryanto mengaskan tvOne hanya meliput dalam acara itu. Acara itu merupakan acara pihak luar dan tvOne tidak melakukan settingan.

"Yang kami dapatkan memang acara itu ada, charity untuk keperluan orang yang membutuhkan. Persoalannya kan apakah pada saat itu ada beberapa orang yang diundang, fokus kami mengambil gambar pada kegiatannya," jelas General Manager News and Sports tvOne, Totok Suryanto.

Hal itu dikatakan Totok usai bertemu dengan KPI di Kantor KPI, Gedung Bapeten, Jalan Gajah Mada 8, Jakarta Pusat, Senin (21/11/2011).

"Charity itu bukan settingan, charity itu bukan penipuan dan charity itu benar adanya. tvOne tidak pernah melakukan settingan untuk acara itu, kecuali acara kita. Itu acaranya orang luar dan kita tidak mau melakukan settingan. Konteks yang dipersoalkan gambar itu yang diambil," imbuh Totok.

Kisah ini berawal saat Silly diminta oleh Fifie Buntaran untuk datang ke acara amal yang berlangsung di Hotel Sheraton, Kamis lalu. Pegiat sosial itu diundang untuk menjelaskan kepada peserta amal tentang Nando, bocah kecil yang menderita gagal ginjal.

Alangkah bahagianya Silly saat acara amal tersebut mendapat respons sangat positif. Gaun-gaun yang ditampilkan dalam acara Charity Fashion Show tersebut terjual puluhan juta, bahkan ada yang terjual Rp 100 juta. Ditegaskan dia, acara amal malam itu memang didedikasikan untuk menyumbang Nando.

Dalam hati, Silly berpikir semua uang yang dihasilkan dalam malam amal tersebut akan disumbangkan ke Nando. Tapi alangkah kagetnya dia. Saat acara selesai, ternyata tidak ada tanda-tanda transaksi, apalagi komitmen dari panitia untuk menyumbang Nando.

Silly, yang mendapat informasi acara itu merupakan settingan panitia dan tvOne, mengaku telah meminta tvOne meng-cut gambar dirinya dan juga Nando. Akan tetapi, kala melihat tayangan 'Socialite' tvOne, dirinya dan juuga Nando tetap tersorot kamera.

Fifie ketika dikonfirmasi membantah acara itu settingan. Menurut Fifie, Valencia Mieka Randa (Silly), pihak yang akan menerima sumbangan untuk nantinya diserahkan kepada Nando, bocah penyandang gagal ginjal, telat datang di acara amal. Sehingga uang hasil amal diserahkan kepada pihak lain yang juga membutuhkan.

"Karena dia telat datang, kita berembug dan akhirnya mengalihkan dana kepada pihak lain yang membutuhkan," kata Fifie saat dihubungi detikcom, Minggu (20/11). (nwk/fay)

http://www.detiknews.com/read/2011/11/23/105220/1773518/10/kpi-akan-panggil-silly-untuk-jelaskan-charity-settingan

Imbauan Iklan "Torpedo versi Gigi Palsu" Seluruh Stasiun TV


Kamis, 10 November 2011 00:00


Tgl Surat

10 November 2011

No. Surat

724/K/KPI/11/11

Status

Imbauan

Stasiun TV

Seluruh Stasiun TV

Program

Iklan "Torpedo versi Gigi Palsu"

Deskripsi Pelanggaran

Menayangkan adegan eksploitasi tubuh bagian dada seorang model perempuan melalui pengambilan gambar secara close up saat sebuah gigi palsu terlempar ke tubuh bagian dada sang model. KPI Pusat mengimbau seluruh lembaga penyiaran yang masih dan/atau akan menayangkan iklan tersebut untuk melakukan perbaikan internal dengan cara melakukan editing pada bagian adegan sebagaimana yang dimaksud.

Gambar

 

PDF Cetak Email
| Ditulis oleh ST

Dewan Pers Minta Pemilik Media Tidak Rangkap Jabatan Sebagai Bos Partai

Jakarta - Dewan Pers meminta penguasa media elektronik tidak merangkap jabatan sebagai penguasa partai. Hal ini untuk mencegah pemberitaan yang hanya menyoroti kelompok terentu saja.

"Coba banyangkan kalau Surya Paloh, Ical dan Hary Tanoe kalau berkoalisi akan seperti apa ?, jadi Surya Paloh lebih baik menjual saja Metro TV, Ical dan Hary Tanoe juga lebih baik mereka memilih," kata anggota Dewan Pers Bambang Harymurti, Rabu (23/11/2011).

Bambang menyatakan hal ini saat memberikan masukan dalam rangka pembahasan RUU tentang perubahan atas UU No 10/2008 tentang Pemilihan Umum anggota DPR, DPD dan DPRD di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.

Bambang mengatakan, larangan ini khususnya untuk media yang menggunakan frekuensi publik seperti televisi dan radio. Hal ini disebabkan frekuensi yang digunakan adalah milik publik.

"Saya ingin tegas saja, frekuensi publik itu milik publik. Kalau pemilik media itu pihannya jual medianya atau jadi penguasa partai. Kita melarang dwifungsi TNI tapi mengapa tidak melarang juga dwifungsi pemilik media. Tapi ini khusus yang menggunakan frekuensi publik seperti TV atau radio, kalau cetak atau online saya kira tidak masalah," katanya.

(nal/gah)

http://www.detiknews.com/read/2011/11/23/180352/1774054/10/dewan-pers-minta-pemilik-media-tidak-rangkap-jabatan-sebagai-bos-partai

16 Oktober 2011

IPB Siapkan Green TV

Subur Tjahjono | Nasru Alam Aziz | Sabtu, 15 Oktober 2011

BOGOR, KOMPAS.com -- Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam waktu dekat akan meluncurkan Green TV. Televisi penyedia isi (content provider) tersebut didedikasikan untuk pengembangan pertanian dan lingkungan menuju kehidupan yang lebih baik.

Rencana peluncuran Green TV tersebut dikemukakan Ketua Pengembangan Green TV Yatri Indah Kusumastuti dalam pelatihan jurnalistik IPB di Kampus Fakultas Kehutanan IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (15/10/2011).

"Kalau tidak ada halangan Green TV akan diluncurkan akhir bulan ini sekaligus penutupan rangkaian Dies Natalis IPB," ujar Yatri.

Untuk mengisi acara, Green TV memanfaatkan materi dari internal IPB, baik dosen maupun mahasiswa. Beberapa acara yang disiapkan antara lain soal pertanian, hewan kesayangan, pertamanan, lingkungan, dan isu pertanian dalam arti luas lainnya. "Kami tidak akan menyiarkan hal-hal yang tidak etis seperti merokok atau kekerasan terhadap binatang," kata Yatri.

Menurut catatan Kompas, perguruan tinggi yang punya siaran televisi adalah Universitas Dian Nuswantoro Semarang, Jawa Tengah, yaitu TVKU.

http://edukasi.kompas.com/read/2011/10/15/16045778/IPB.Siapkan.Green.TV