Tampilkan postingan dengan label RATING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RATING. Tampilkan semua postingan

09 Oktober 2008

AGB Nielsen Media Research (Indonesia)

PT. AGB Nielsen Media Research (Indonesia)

Kontak

PT. AGB Nielsen Media Research (Indonesia)
17/Fl. Mayapada Tower
Jl Jend Sudirman Kav 28
Jakarta 12920

Tel 62 21 521 2200 · Fax 62 21 521 1927

E-mail: info@id.agbnielsen.net

Managing Director:Irawati Pratignyo
Client Service Director: Hellen Katherina
Operations Director: Go Hadi Soendjojo

Sekilas TAM

Populasi:

222 juta
Populasi di cakupan survey TAM: 42 juta

Jumlah Panel:

2.273 rumah tangga

Awal produksi:

1997

Panel

Peoplemeters terpasang:

1.849 (Terrestrial) + 165 (Pay TV)

Universe:

42.645.493 (Aged 5+)

Data yang dimonitor:

Terrestrial, Pay TV (Jakarta only)

Metode pengambilan data:

Terrestrial TV:
56% Online
Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta

44% Offline (via Module) *Migrasi ke online pada July 2008
Semarang, Medan, Palembang, Makassar, Denpasar, Banjarmasin

Pay TV:
100% Online

Produk and Pelayanan

Databases:

Viewing, Demographic, Programs, Breaks and Ad Spots

Software Paket:

Arianna

Pelayanan:

TAM

Metoda pengiriman data:

Magnetic Media (CD), FTP

Main Clients

Stasiun TV:

ANTV, Bali-TV, Bandung-TV, Cakra-TV, Disney, GTV, Indosiar, JAKTV, JTV, Kabelvision, LATV, Metro-TV, Ochannel, RCTI, SCTV, SpaceToon, TPI, Trans7, Trans-TV, VOA, Yogya-TV.

Advertising Agencies
and Media Buyers:

Activate, Advantage, Advis, Artek, Asatsu, Avicom, BBDO, Bhakti, Bintang Pratama, Carat, Dentsu, DM Pratama, DwiSapta, FCB, Fortune, Go Ad, Grey, Hakuhodo, Hotline, IMI, Interact, JC&K, Matari, McCann, Megapro, Mindshare, Motivator, Optimedia, Starcomm, Tempo Pro, The Agency.

Advertisers:

Nutrifood.

Lainnya:

CBN, Fremantle, MD Entertainment, Multivision, SejatiPro, Sinemart.

Pengetahuan Dasar

Acuan Standar

AGB Nielsen Media Research (AGBNielsen) adalah perusahaan yang kini menyelenggarakan survei kepemirsaan TV atau TV Audience Measurement (TAM) di 10 kota di Indonesia dan merupakan bagian dari penyelenggara survei global kepemirsaan TV di lebih dari 30 negara di seluruh dunia. AGBNielsen merupakan kelompok perusahaan gabungan (joint venture) dari dua perusahaan riset TV terkemuka di dunia, yaitu AGB Group (beroperasi di sekitar 30 negara) dan Nielsen (beroperasi di sekitar 70 negara), yang berpusat di Eropa (Switzerland dan Italia). Di Indonesia, AGBNielsen merupakan penyelenggara survei kepemirsaan TV yang ke-empat (setelah SRI, ACNielsen, dan Nielsen Media Research).

Dalam melaksanakan survei kepemirsaan TV, seluruh penyelenggara harus mengacu pada panduan global, "Global Guidelines for Television Audience Measurement" (GGTAM) yang dibuat oleh Audience Research Method (ARM) Group dan disponsori oleh EBU (European Bradcasting Union), beserta lembaga-lembaga lain, di antaranya ARF (Advertising Research Foundation), ESOMAR (European Society for Opinion & Marketing Research) dan WFA (World Federations of Advertisers). Dokumen ini terakhir dipublikasikan pada tahun 1999 serta diperbarui setiap satu dekade sekali. Dengan mengacu pada GGTAM, AGBNielsen beroperasi pada standarisasi yang bukan saja terkini, tetapi juga menyesuaikan dengan kondisi pertelevisian di masing-masing negara dalam hal penerapan teknologi, baik perangkat keras (metering technology) maupun perangkat lunak (software production and analysis). Kondisi pertelevisian suatu negara yang mempengaruhi di antaranya menyangkut ada tidaknya siaran berbasis digital, model TV berlangganan (Pay TV), seperti Satelit dan Kabel, serta infrastruktur telekomunikasi untuk data transfer.

Pada pelaksanaannya, survei kepemirsaan TV bukanlah persoalan metodologi riset semata yang harus mengikuti standar internasional yang tertuang dalam GGTAM, tetapi juga menyangkut teknologi yang kerap berubah hampir setiap dua tahun. Selain kedua hal tersebut, ada pula proses 'production & delivery' hasil riset yang harus memiliki standar analisis yang sama di setiap negara karena tidak mungkin pengiklan suatu produk yang dipasarkan di berbagai negara mengevaluasi efektifitas iklan produknya di TV melalui berbagai macam tolok ukur (benchmark) sebagai standar analisisnya.

Dengan metodologi yang mengacu pada standar global, sistem yang digunakan AGBNielsen ini adalah hasil dari pengalaman selama bertahun-tahun, dari bagian riset dan pengembangan, serta kemampuan untuk berkembang sejalan dengan perubahan teknologi pertelevisian, teknologi riset dan kebutuhan pengguna atas sistem pengukuran kepemirsaan televisi.

TV Establishment Survey

Tahap ini adalah tahap pra-survei untuk menentukan besaran populasi individu yang memiliki TV di rumahtangganya sebagai jumlah pemirsa potensial yang memiliki kesempatan untuk menonton TV. Dengan berpatokan pada data populasi suatu kota, maka hasil Establihment Survey (ES) dapat memproyeksikan beberapa hal di antaranya, jumlah rumahtangga yang memiliki TV atau HUT (household using TV) dan jumlah individu yang tinggal di rumahtangga yang memiliki TV tersebut atau PUT (people using TV). PUT dikenal juga sebagai populasi TV (TV population). Selain itu, ES juga memberikan informasi karakteristik demografi individu di rumahtangga TV (seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, dsb.), serta karakteristik rumahtangga (seperti informasi pengeluaran rumahtangga, kepemilikan barang, kondisi rumah, dsb; yang akan menentukan kategori kelas sosial ekonomi rumahtangga tersebut). ES, yang menentukan populasi TV untuk TAM dan dilakukan melalui metode sampling secara proporsional dan bertahap (proportional stratified random sampling), selalu diperbarui setiap tahun dengan mengacu pula pada GGTAM. Untuk populasi TV, Indonesia menggunakan dasar perhitungan dengan batasan usia 5 tahun ke atas berdasarkan hasil studi terpisah tentang hubungan tingkat usia dengan kemampuan menyalakan dan menonton TV secara mandiri.

Pemilihan Panel

Setelah populasi TV diperoleh melalui tahap ES, maka tahap sampling kedua adalah pemilihan panel rumahtangga yang akan menjadi responden untuk survei kepemirsaan TV. Pada tahap ini, penerapan standar prosedur operasional survei (standard operating procedure) atas metodologi, tidak hanya mengacu pada GGTAM, tetapi juga pada standar pengujian operasional atau BDP (best demonstrated practice) dengan memperhatikan kekhususan suatu negara dalam menetapkan kaidah metode sampling secara proporsional dan bertahap (proportionate random sample). Kekhususan yang dimaksud di antaranya adalah struktur pembagian secara administratif suatu kota atau suatu negara. Negara kota, seperti Singapura dan Hongkong akan memiliki struktur pembagian administratif yang lebih sederhana dibandingkan dengan Cina dan Indonesia. Dengan demikian, stratified random sampling di Indonesia akan berbeda tahapannya jika dibandingkan dengan Singapura.

Rumahtangga terpilih pada tahap ini kemudian dijadikan panel, di mana anggota rumahtangga yang berusia 5 tahun ke atas menjadi responden survei kepemirsaan TV. Perekrutan panel ini dilakukan dengan memperhatikan kaidah kerahasiaan panel guna menghormati 'privacy' panel rumahtangga. Setelah rumahtangga bersedia menjadi panel, maka instalasi alat survei elektronik (peoplemeter) dilakukan pada semua TV yang berfungsi baik dan aktif digunakan oleh anggota rumahtangga terpilih. Pembantu, sopir, satpam, tamu, dll yang bukan anggota rumahtangga tidak termasuk responden. Jika ada TV yang dikhususkan bagi mereka, peoplemeter tidak akan dipasang pada TV tersebut. Jika mereka menonton TV yang digunakan anggota rumahtangga, maka melalui tombol khusus yang disediakan bagi mereka, data kepemirsaan mereka dapat secara mudah diidentifikasikan, tetapi tidak diolah (discarded).

Pemasangan Peoplemeter beralih ke Teknologi TVM-5®

Peoplemeter atau alat survei elektronik untuk survei kepemirsaan TV tidak hanya terdiri dari satu jenis. Sama halnya dengan telepon selular, peoplemeter pun beragam jenisnya sesuai dengan kondisi pertelevisian di suatu negara, namun tetap harus memiliki standar teknis yang disertifikasi secara internasional oleh lembaga internasional seperti ARM Group, yang juga mengeluarkan GGTAM.

Beberapa jenis peoplemeter di antaranya adalah untuk lingkungan dengan siaran analog (analog environment), lingkungan digital (digital environment), untuk pengumpulan data secara off-line melalui modul (seperti disket yang merekam data) dan pengumpulan secara on-line melalui transmisi data, baik telepon biasa maupun GSM.

Dengan tingginya penetrasi telepon selular di Indonesia, maka jenis peoplemeter dengan metode GSM online (series TVM-5®) akan menggantikan jenis peoplemeter dengan pengumpulan data secara off-line. Sementara teknologi off-line membutuhkan waktu seminggu hingga sepuluh hari dalam mengumpulkan dan menyajikan data, teknologi on-line memungkinkan tersedianya data kepemirsaan TV secara cepat, bahkan dalam hitungan semalam (Daily Rating atau Overnight TAM Data).

TVM5® mewakili generasi terbaru dari seri TV metering system. TVM5® dirancang agar sesuai untuk mengukur semua platform TV. Alat ini berbasiskan konsep non-intrusif dan menekankan pentingnya keterandalan dalam pengukuran kepemirsaan TV, baik analog maupun digital. TVM5® juga meminimalisir campur tangan anggota panel rumahtangga, sekaligus memungkinkan sistem manajemen jarak jauh, termasuk pemeriksaan on-line jarak jauh, pengecekan atas standar konfigurasi, dan pemrograman.

Setiap set TVM5® yang dipasang di setiap TV dilengkapi dengan suatu handset (seperti remote control untuk berkomunikasi dengan peoplemeter), yang memiliki tombol untuk masing-masing anggota rumahtangga (misalnya tombol 1 untuk Ayah, tombol 2 untuk Ibu, dsb). Handset tersebut digunakan oleh anggota rumahtangga untuk mencatat kepemirsaan TV hanya dengan menekan tombol saat menonton TV dan menekannya kembali untuk mematikan pengukuran (bukan TV) jika tidak menonton. Peoplemeter akan secara otomatis merekam kepemirsaan anggota panel rumahtangga dan mengidentifikasi saluran TV yang ditontonnya. Data ini kemudian ditransmisikan melalui GSM transmission unit ke pusat server di kantor AGBNielsen setiap hari untuk diproses secara otomatis.

Perangkat Peoplemeter: TVM5


Pengambilan Data

Pengambilan data di Indonesia saat ini dilakukan melalui dua sistem, yaitu on-line dan off-line. Kota-kota besar, seperti Jakarta dan Bodetabek, Surabaya dan Gerbangkertasila, serta Bandung telah beralih penuh ke teknologi seri TVM5® dengan sistem on-line, sementara ketujuh kota lainnya yang masih berada pada sistem off-line akan beralih teknologi mulai tahun 2008.

Pada sistem off-line, data yang direkam di dalam memori modul akan diambil setiap minggu oleh kolektor modul, untuk diganti dengan yang baru. Modul ini kemudian dihubungkan dengan pembaca modul di kantor AGBNielsen untuk mentransfer data kepemirsaan dari panel rumahtangga (seperti halnya mentransfer data melalui USB). Proses ini dilakukan setiap hari Minggu (untuk data pada periode hari Minggu hingga Sabtu pada minggu sebelumnya), sehingga data kepemirsaan tersedia seminggu sekali untuk periode 7 hari (Minggu s/d Sabtu) pada hari Rabu berikutnya.

Pada sistem on-line, data diambil setiap hari antara jam 2:00 pagi hingga 6:00 pagi melalui sistem transmisi data dengan menggunakan jaringan telepon selular (GSM) yang diset secara otomatis dan terhubung dengan sistem Compass® Data Calling & Polling System, yang merupakan sistem pengumpulan data di server pusat yang terkomputerisasi di kantor AGBNielsen, dalam hal ini Jakarta. Sistem ini juga selalu dalam pengawasan kantor pusat AGBNielsen di Switzerland. Monitoring ini merupakan bagian dari standar prosedur operasional untuk disaster recovery plan (rencana pemulihan setelah bencana) agar kesinambungan data terjamin. Terbukti saat bencana banjir melanda Jakarta pada Februari 2007 lalu yang mengakibatkan pemadaman listrik di beberapa tempat, data kepemirsaan TV dapat tetap disediakan tanpa hambatan yang berarti.

Diagram Koneksi Server untuk Penarikan Data (Panel rumahtangga -> Compass (Jakarta) -> Pollux (Jakarta) -> Compass & Pollux di Global Support Server (Switzerland))

Produksi Data

Data yang telah dikumpulkan oleh sistem Compass® melalui transmisi GSM kemudian diproses dan diproduksi oleh sistem Pollux®, yang berada di server AGBNielsen di Jakarta dan juga terkoneksi ke kantor pusat di Switzerland (Buochs dan Lugano) dengan back-up support di Malaysia (Kuala Lumpur).

Pollux® adalah sistem produksi dan penerimaan data TAM yang lengkap dan terintegrasi yang mengkombinasikan standar internasional dengan transparansi, dalam arti pelaporan yang luas dan fleksibel pada semua fase produksi datanya. Fungsi kerja sistem Pollux® mencakup fungsi:
1. Pusat sistem database hasil Establishment Survey
2. Sistem rekrutmen panel
3. Sistem pengelolaan panel (rotasi, drop-out, maintenance, dsb.)
4. Sistem polling dan line testing yang terhubung (melalui interface) dengan sistem Compass®
5. Sistem kendali mutu atas panel dengan menggunakan seperangkat standar KPI (Key Performance Indicators) untuk panel (indikator performa untuk panel)
6. Sistem validasi data dengan menggunakan seperangkat standar KPI untuk data (indikator performa untuk data)
7. Sistem proyeksi data ke populasi TV menggunakan pembobotan secara statistik
8. Interface ke sistem pemrosesan data untuk perangkat lunak analisis Arianna®

Semua proses dalam sistem Pollux® berjalan secara otomatis untuk menghindari kesalahan manusia. Pollux® inilah yang menjadi pusat operasi sistem TAM, yang mengendalikan proses penting konsolidasi, validasi dan analisis data kepemirsaan individu dalam panel rumahtangga. Hasilnya disimpan sebagai database pemirsa dan diproses untuk database yang dapat dibaca dalam sistem perangkat lunak analisis Arianna®.

Dengan terhubungnya sistem Pollux® di server pengolahan dan produksi data di setiap negara dengan Global Corporate Support Centres di Switzerland, maka indikator-indikator performa (KPI) atas produksi dan pemrosesan data harian atau mingguan dari semua negara, termasuk Indonesia terstandarisasi dan dapat terjaga. Umpan balik harian dari KPI ini diperoleh oleh kantor setiap negara untuk menjaga kualitas data. Contoh informasi pemrosesan dan produksi data ini meliputi informasi mengenai jumlah rumahtangga yang datanya berhasil ditarik setiap hari, jumlah keluarga yang datanya harus dibuang selama proses karena tidak lolos standar validasi serta alasannya, dan jumlah rumahtangga yang datanya lolos proses validasi dan berhasil diproduksi di penghujung hari.

Database panel di dalam sistem Pollux


TV Monitoring

Seiring dengan proses produksi data harian, dilakukan juga proses monitoring TV melalui sistem monitoring TV Events® yang berjalan selama 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu untuk memperoleh data program yang ditayangkan setiap TV, beserta iklan-iklan yang ditayangkan.

Sistem TV Events® merupakan sistem terintegrasi yang efisien dan handal untuk mengumpulkan database rekaman dengan kualitas yang baik. Sistem ini terdiri atas:

MultiGrabber®:

Modul digital penangkap gambar televisi yang dioperasikan secara digital, tanpa menggunakan kaset dan VCR pada tahap memasukkan data. Modul ini menerima siaran TV dengan memampatkan informasi audio dan video dengan teknologi MPEG-4 untuk memaksimalkan penyimpanan. Meski dimampatkan, kualitas audio dan video dipertahankan sampai 25 frame per detik.

Automatic Spot Recognition® (ASR®):

Modul yang beroperasi untuk mengidentifikasi iklan yang ditayangkan secara otomatis dengan menggunakan teknik perbandingan audio dan video, yang hanya membutuhkan validasi pengenalan dari tampilan grafisnya. Sistem ASR® ini bersinergi dengan sistem MultiGrabber® dan beroperasi pada perangkat keras yang sama


TelePad®:

Sistem yang memiliki jaringan untuk mengelola database di TV Events untuk stasiun-stasiun TV yang telah dimonitor. Telepad juga mengendalikan tahap memasukkan data untuk program dan iklan, melakukan tahap verifikasi data untuk program dan iklan, dan melakukan atribusi terhadap data harga iklan sesuai dengan yang dipublikasi (published rate card).

Pemrosesan Akhir dan Pengiriman Data

Data kepemirsaan, data rumahtangga dan demografi responden, serta data perpindahan channel yang ditonton per menit dari panel rumahtangga yang telah diproses, diproyeksikan dan diproduksi melalui sistem Pollux® kemudian digabung secara otomatis dengan data monitoring Program & Iklan TV yang diproduksi oleh sistem TV Event® untuk database di dalam perangkat lunak analisis TV Arianna®:

Arianna® merupakan sistem yang inovatif, fleksibel, dan modular sesuai dengan kebutuhan masing-masing pengguna. Pengguna data TAM AGBNielsen harus memiliki perangkat lunak Arianna untuk dapat membaca data hasil survei kepemirsaan TV yang dapat di-download melalui portal internet setiap hari dengan menggunakan sistem Arianna Smart Update®:

http://www.agbnielsen.com/whereweare/dynPage.asp?lang=local&id=485&country=Indonesia

27 September 2008

Penonton Tayangan Ramadan Turun 17 Persen

Sinetron "Aqso dan Madina" salah satu sinetron bertema Ramadan yang ditayangkan "RCTI".dok.sinemart

[JAKARTA] Minat masyarakat menonton hiburan dan tayangan Ramadan di stasiun televisi menurun hingga 17 persen. Pada kurun waktu 1-21 September 2008, jumlah pemirsa rata-rata berkurang 100 ribu-300 ribu per minggu. Fakta tersebut mengejutkan, mengingat program yang ditayangkan stasiun televisi pada 2008 lebih beragam dibandingkan Ramadan 2007 lalu.

Berdasarkan hasil riset AGB Nielsen Media Research, di 10 kota besar di Indonesia, pengurangan minat pemirsa terlihat di minggu kedua hingga minggu keempat. Rata-rata penurunan mencapai 2-5 persen per minggu, dari total 42,6 juta pemirsa. Pada minggu keempat Ramadan, tepatnya hingga Kamis (25/9), jumlah penonton kembali menurun dari 12,5 persen menjadi 12,2 persen.

Communication Executive AGB Nielsen Media Research, Andini Wijendaru, dalam pembahasan hasil riset, di Jakarta, Jumat (26/9) menuturkan, penurunan jumlah pemirsa bisa disebabkan banyak faktor. Minat pemirsa menonton program Ramadan kemungkinan berkurang karena tarawih, acara televisi kurang menarik, atau keluarga memilih buka bersama di luar rumah.

"Banyak faktor yang menyebabkan tayangan Ramadan kurang digemari oleh pemirsa televisi. Faktanya, keragaman program televisi ternyata tidak menjamin peningkatan jumlah pemirsa," papar Andini.

Namun, apabila dibandingkan dengan bulan Agustus 2008, jumlah penonton televisi bertambah hingga 18 persen. Sebelumnya, pada Agustus 2008 AGB Nielsen Media Research mencatat, jumlah penonton 42,6 juta orang. Pada September 2008, jumlah pemirsa meningkat sampai 5,5 juta orang.

Peningkatan jumlah pemirsa televisi terlihat tajam saat sahur (02.00-04.00 WIB) dan menjelang buka puasa (16.00-18.00 WIB). Jenis tontonan yang paling diminati pun beragam. Pada saat sahur, serial drama Para Pencari Tuhan 2, di SCTV, sangat digemari masyarakat. Rating Para Pencari Tuhan 2 (PPT 2) tertinggi yakni 4,2. Selain serial drama, tayangan olahraga sepakbola menjadi pilihan di kalangan pria dewasa.

"Olahraga sepakbola, di stasiun televisi RCTI menjadi pilihan pemirsa lelaki. Sementara, remaja dan perempuan memilih menonton serial drama komedi PPT 2," lontarnya.

Program religi yang mendapat perhatian paling banyak selain PPT 2, yakni Buka Kalbu (1,1), Mamah dan Aa Curhat Ramadan (0,7), dan Curhat Bareng Ustadz (0,5).

Tidak hanya tontonan menanti sahur, tayangan yang menjadi favorit menjelang buka puasa, yakni serial drama Jihan, di Indosiar. Rating drama tersebut mencapai 6,5. Setelah Jihan, tontonan lain yang diminati, yakni PPT, dan beberapa program reality show seperti Termehek-Mehek, Jika Aku Menjadi, dan Jaili.

Sementara untuk tayangan religi yang paling banyak ditonton saat berbuka, yakni Buka Kalbu (4), Membuka Pintu Kalbu (3,8), dan Kultum (3,3).

Ditegaskan Andini, jenis tayangan reality show tahun ini lebih mendominasi daripada sinetron. Pada Ramadan 2007 lalu, sinetron menjadi tontonan wajib setiap sahur dan menjelang buka puasa. Saat ini, minat pemirsa berubah ke program reality show yang lebih segar dan variatif.

Pada momen Ramadan ini, semua stasiun televisi juga mengambil kesempatan untuk menambah atau merubah program tayangan. Sebelumnya, pada Agustus 2008 total jam tayang di 20 stasiun televisi adalah 426 jam. Dominasi tayangan ada pada program hiburan, informasi, dan berita. Namun, pada bulan Ramadan, total jam tayang naik menjadi 449 jam.

Khusus untuk pembagian jam tayang, program sinetron, hiburan, dan religi otomatis bertambah. Semisal, sebuah stasiun televisi pada Agustus hanya menayangkan 3 persen program religi. Namun, pada bulan Ramadan bertambah menjadi enam persen.

Penambahan tersebut diimbangi dengan kenaikan jam menonton pemirsa terhadap program religi. Biasanya, pemirsa rata-rata menonton satu persen, berubah menjadi tiga persen dari total jam menonton. [EAS/U-5]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/09/27/index.html

30 Agustus 2008

Rating Tayangan TV Menurun - Akibat Program Serupa dan Minim Edukasi

Jumlah penonton TV semakin menurun. Setidaknya, itu terjadi lima tahun belakangan ini. Ada beberapa penyebabnya. Dua yang dominan ialah karena maraknya peniruan dan semakin berkurangnya unsur edukasi.

Menurut Sulaeman Sakib, kepala Departemen Current Affair TVOne, angka rata-rata rating dan share setiap tayangan TV terus anjlok. Jika biasanya sebuah tayangan bisa mencapai nilai share 14, saat ini hanya 10. Bahkan, lebih rendah daripada itu. Data-data tersebut diperoleh dari lembaga pencatat rating dan share, AGB Nielsen. "Dan, itu merata di semua stasiun TV. Itu salah satu pertanda jumlah penonton menurun," ujarnya kemarin tanpa memaparkan angka pastinya.

Penyebabnya, lanjut pria yang akrab disapa Ule itu, setiap ada program sukses di salah satu stasiun TV langsung ditiru stasiun TV lain dengan program yang nyaris sama. "Akibatnya, penonton bosan dan memaksa orang-orang di balik layar harus sering melakukan pembaruan. Misalnya, bila sebelumnya pembaruan dilakukan setahun sekali, sekarang baru berjalan beberapa bulan harus diperbarui," jelasnya.

Penyebab kedua, unsur edukasi atau pendidikan semua stasiun TV semakin menurun. Hal itu, menurut Ule, membuat orang tua lebih memproteksi anak-anak agar tidak terlalu sering menonton TV.

Dengan jumlah penonton TV yang semakin berkurang, masing-masing stasiun harus lebih keras berkompetisi merebut hati pemirsa. Belum lagi, jumlah stasiun TV saat ini semakin bertambah.

Dengan kondisi seperti itu, tak heran bila stasiun TV mati-matian menciptakan program baru. Pada bulan Ramadan tahun ini, misalnya, demi mendapatkan penonton di dua prime time (jam utama, Red), pukul 17:00-22:00 WIB dan pukul 02:00 sampai 04:30 WIB, beberapa stasiun menciptakan sajian berbeda.

Stasiun ANTV, misalnya, memilih komedi untuk memenuhi prime time tersebut. Dimulai dari Sambil Buka Yuk! (SBY) pada pukul 17:00, kemudian Pasrah yang masih dengan genre komedi selama 30 menit, baru sitkom Bajaj Bajuri dan Cagur Naik Bajaj.

General Manager Produksi ANTV Reva Deddy Utama mengatakan, tayangan komedi dipilih untuk menghindari perebutan kompetisi dengan stasiun TV lain yang menyajikan program acara serupa. "Pangsa pasar sinetron itu pemainnya sama. Daripada head to head dengan stasiun TV lain, kami cari pangsa pasar lain," jelasnya saat ditemui di Jakarta kemarin.

TVOne juga mencoba tampil beda. Bahkan, tidak ada unsur sinetron dan komedi sedikit pun.(gen/tia) // Jawa Pos, 29 Agustus 2008

30 Juni 2008

Tayangan Piala Eropa - Pemirsa Laki-laki Meningkat 128 Persen

Pada musim Piala Eropa 2008, pemirsa laki-laki yang menyaksikan tayangan sepakbola semakin meningkat.

[JAKARTA] Tayangan sepakbola masih menjadi ton- tonan favorit pemirsa laki-laki. Pada musim Piala Eropa 2008, pemirsa laki-laki yang menyaksikan tayangan sepakbola semakin meningkat. Dibanding Piala Eropa 2004, kenaikan penonton laki-laki saat tayangan siaran langsung Piala Eropa 2008 di stasiun RCTI, TPI dan Global TV meningkat hingga 128 persen.

Berdasarkan data AGB Nielsen dengan basis survei di Jakarta dan sekitarnya, Bandung, Surabaya serta Yogyakarta hingga babak final 23 Juni lalu tayangan ini menyedot perhatian laki-laki dengan kategori usia 20 tahun ke atas, kelas menengah yang pengeluaran rutin bulanan rumah tangga di atas Rp 700.000. Sementara remaja laki-laki usia 15-19 tahun memilih menonton siaran ulangnya di pagi, siang ataupun malam hari.

Sementara itu, dibandingkan dengan Piala Eropa 2004, tahun ini menarik banyak pemirsa laki-laki yang ditayangkan pada waktu yang sama, yaitu sekitar pukul 06.00- 07.00 WIB dan 22.00-23.00 WIB. Di dalam kelompok ini, ada total penambahan pemirsa hingga 128 persen atau menjadi 1,2 juta penonton dibandingkan siaran langsung Piala Eropa 2004 yang hanya berjumlah 932.000 penonton.

Target pemirsa ini juga terlihat lebih banyak dibandingkan periode tayangan reguler yang terutama tampak pada saat Piala Eropa 2008 disiarkan secara langsung. Kenaikan penonton laki-laki usia 20-an ini bahkan meningkat tiga kali lipat dari periode tayangan reguler yang biasanya menghadirkan program musik atau film laga sebagai tayangan favorit yang mereka tonton.

Beberapa pertandingan yang paling banyak ditonton oleh laki-laki 20-an ini adalah pertandingan babak penyisihan grup yang terutama ditayangkan antara pukul 23.00 sampai 01.00 dini hari. Di antaranya adalah Italia vs Rumania dengan rating 3,8 dan share 18,8, Kroasia vs Jerman dengan rating 3,6 dan share 20,1 pada 13 Juni 2008 pukul 23.00-01.00 dan Prancis vs Italia pada dengan rating 3,6 dan share 51,3 pada 18 Juni 2008 pukul 01.30 - 04.00 WIB.

Menarik Penonton

Share adalah sebutan untuk presentasi dari besarnya pemirsa potensial (yang sering menonton) yang menonton program tertentu pada periode waktu yang sama.

Rating yang biasanya dikenal orang sebagai peringkat sebenarnya adalah presentase dari suatu populasi atau target populasi yang menonton program tertentu pada periode waktu tertentu.

"Lebih dari 50 persen penonton TV memasang mata untuk Prancis vs Italy yang ditayangkan pada dini hari. Selain karena mereka termasuk tim besar, kompetisi antarprogram sudah berkurang sehingga mampu menarik penonton yang cukup besar," ungkap Associate Director Marketing and Client Service AGBNielsen, Hellen Kathe- rina. [DGT/U-5]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/06/30/index.html

21 Juni 2008

Yang Berkualitas Itu yang Mendidik

Menyajikan informasi, menghibur, dan mendidik adalah tiga hal utama di antara fungsi sosial media televisi. Di antara ketiganya, Survei Kompas menunjukkan, fungsi mendidik menjadi parameter yang utama dalam menilai suatu acara berkualitas atau tidak.

Hasil Survei Kompas ini tidak terlalu berbeda jauh dengan hasil Survei Rating Publik yang dilakukan gabungan beberapa organisasi nonpemerintah beberapa waktu lalu. Acara-acara seperti Kick Andy (Metro TV), program berita seperti Liputan 6 (SCTV) dan Metro Realitas (Metro TV) menduduki peringkat atas sebagai acara yang dianggap bermutu oleh pemirsa televisi.

Adanya perbedaan hasil pemeringkatan oleh Survei Rating Publik—diselenggarakan Yayasan Sains, Estetika, dan Teknologi (SET), didukung Yayasan TIFA, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), The Habibie Center, dan London School of Public Relations—dan Survei Kompas ini disebabkan perbedaan metodologi dan pemilihan responden. Survei Rating Publik menggunakan metode Peer Review Assessment dengan responden yang dipilih secara sengaja (purposive). Sementara Survei Kompas melalui telepon dengan nomor telepon responden yang dipilih secara acak sistematis (systematic random).

Meski demikian, perbedaan tersebut tidaklah menghasilkan gambaran yang berbeda mengenai seperti apa acara yang berkualitas itu. Jika bisa disimpulkan bersama, kedua survei ini menunjukkan bahwa program berita dan acara bincang-bincang (talk show) secara umum adalah acara yang dianggap berkualitas oleh pemirsa televisi.

Lebih jauh, Survei Kompas mengungkap, mendidik, realistis, dan informatif adalah tiga alasan utama responden menilai sebuah acara itu berkualitas atau tidak. Bahkan, hal mendidik ini juga termasuk jadi alasan bagi sebagian responden yang memilih acara berita sebagai yang berkualitas. Artinya, acara-acara berita di televisi kita pun tidak hanya dituntut informatif dan aktual, tetapi juga harus mendidik.

Namun, meski acara berita dan talkshow dianggap acara yang berkualitas, hanya program-program berita saja yang benar-benar menjadi acara yang paling sering ditonton. Pada kenyataannya, responden masih lebih sering menonton acara-acara sinetron dan ajang kontes idola ketimbang menyimak talkshow.

Bisa jadi, karena memang sinetron adalah program acara yang paling sering tayang dan tentu saja paling banyak durasi waktunya. Bisa jadi juga, bagi sebagian orang sinetron itu memang menarik ditonton, tidak peduli pada kualitas baik atau buruknya.

Meski sinetron masih menduduki peringkat tinggi sebagai acara yang paling sering ditonton, namun Survei Kompas kali ini juga mengindikasikan penurunan kualitas sinetron. Dua dari tiga (67,1 persen) responden menilai kualitas sinetron Indonesia saat ini buruk. Sementara pada survei serupa enam bulan yang lalu, mereka yang memberikan apresiasi positif maupun negatif terhadap sinetron Indonesia ini relatif masih seimbang.

Hal ini bisa berarti tidak ada perbaikan kualitas sinetron Indonesia selama enam bulan ini, yang terjadi malah penurunan. Setidaknya ini yang tergambar dari hasil survei. Sementara itu, umumnya harapan responden pada perbaikan kualitas sinetron Indonesia masih tetap sama, yaitu sinetron yang mendidik dan realistis.

Bagi kebanyakan keluarga di negeri ini, tampaknya menonton televisi itu adalah kegiatan kolektif daripada kegiatan yang bersifat individual. Survei menunjukkan, tidak sampai satu dari sepuluh (8,4 persen) responden yang tidak pernah menonton televisi bersama keluarga. Selebihnya punya acara-acara favorit yang selalu ditonton bersama anggota keluarga.

Dan ternyata, acara-acara favorit bersama keluarga itu tidak jauh dari tayangan ajang kontes idola dan sinetron. Maka tidak heran jika hal mendidik ini begitu sentral sebagai parameter menilai acara-acara televisi kita. Sebab, tontonan yang mendidik itulah yang sangat ingin dihadirkan di tengah ruang keluarga. BE Satrio

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/22/01005790/yang.berkualitas.itu.yang.mendidik

14 Juni 2008

Sinetron Religi Populer Lagi?

sinemart - Sinetron �Hamba-hamba Allah�

Sukses film bernapaskan agama seperti Ayat-Ayat Cinta, Kun Faya Kun dan yang terbaru Mengaku Rasul rupanya menggugah pengelola stasiun televisi untuk menghadirkan sinetron sejenis. Apakah sinetron religius akan populer lagi?

Kali ini RCTI memproduksi sinetron berjudul Munajah Cinta, berikut menyusul yang terbaru sinetron Hamba-Hamba Allah (HHA). Tontonan yang bernapaskan agama Islam yang diproduksi Sinemart itu mulai menjumpai pemirsa Senin (9/6) pukul 18.00 WIB dan tayang terus setiap hari kecuali hari Minggu. Program ini menggantikan sinetron Gara-Gara Cinta yang habis masa tayangnya.

Salah satu motif atau tujuan yang hendak dicapai penayangan sinetron-sinetron seperti itu adalah menyemarakkan dan melebarkan syiar Islam. Para ulama pun tampil lewat sinetron-sinetron sejenis. Jika sebelumnya ada Ustaz Yusuf Mansyur pada sinetron Maha Kasih, kali ini pada HHA tampil Opick, penyanyi lagu-lagu Islami yang tersohor lewat tembangnya Tombo Ati. Hamba-hamba Allah adalah sinetron perdana dari penyanyi yang kini dipanggil ustaz itu karena memerankan sosok Ustaz Jaelani.

"Ini pertama kali main sinetron. Saya pikir ini adalah peluang untuk berdakwah, setelah sebelumnya itu saya lakukan di bidang musik, dan teater," kata Opick saat ditemui pada lokasi syuting di Kramat Ganceng, Pondok Rangon, Cipayung, Jakarta Timur baru-baru ini.

Demi mencapai tujuan dakwah itu Opick mengaku membuat perjanjian dengan pihak produser (Sinemart) untuk konsisten pada isi yang berbicara tentang bagaimana menghadapi persoalan hidup dari sisi agama Islam. HHA berkisah tentang perjuangan keluarga Imam (Teddy Syach) dalam menghadapi hidup.

"Di sinetron ini tak ada mobil yang mewah, rumah yang lux, atau yang serba wah. Tidak juga adegan cinta yang berlebihan. Di sini tampil gambaran kehidupan orang Indonesia yang sesungguhnya," tambah Opick.

Head of PR dan Promotion Department Sinemart Abdul Aziz menambahkan Hamba-hamba Allah merupakan cerita kehidupan keluarga yang sangat dekat dengan kondisi sebagian besar pemirsa Indonesia. Serial ini walaupun dengan pemeran tetap tapi setiap episode punya cerita sendiri.

"Yang menarik persoalan -persoalan dalam cerita disampaikan dengan cara yang ringan dan dapat diterima secara logika. Apalagi dengan adanya Opick yg menjadi tokoh ustadz yang menjadi tempat untuk orang-orang di sekitarnya mengadukan berbagai persoalannya, dan selalu diselesaikan dengan cara-cara dan nasihat-nasihat yang selalu berlandaskan agama yang dapat dicerna dengan mudah karena disampaikan dengan sederhana," tuturnya.

Sinetron berdurasi 60 menit itu didukung oleh artis-artis ternama seperti Dea Imut, Haykal Kamil, Teddy Syach, Astri Ivo, Rheina 'Ipeh', Iszur Muchtar, Joy Octaviano, Deni Malik, dan tentunya Opick.

RCTI mengakui bahwa kehadiran sinetron religi cukup sukses. Humas RCTI, Pudji Purnomo mengatakan, di luar dugaan Munajah Cinta kini menjadi salah satu tontonan favorit pemirsa RCTI. Sinetron ini masuk dalam jajaran 10 besar rating AGB Nielsen. [W-10]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/06/14/index.html

13 Juni 2008

Mitos Rating: Mengapa Program Berkualitas Berating Rendah?

Beberapa waktu yang lalu, sejumlah surat kabar sempat mengangkat isu mengenai program televisi yang berkualitas tetapi memperoleh rating dan share penonton yang rendah.

Berdasarkan survei kualitatif yang dilakukan Yayasan Science Etika Teknologi (SET),Kick Andy (Metro TV), Liputan 6 (SCTV), Si Bolang (TRANS7) danMetro Realitas (Metro TV) dinilai sebagai program yang berkualitastinggi oleh 191 responden berlatar belakang pendidikan tinggi yang"peduli mengenai program TV dan mumpuni untuk menilai secarakritis" di 11 kota besar di Indonesia. Namun, program-programtersebut dikatakan memiliki rating yang lebih buruk dibandingkanprogram-program sinetron yang mendominasi jam tayang utama.

Pada titik ini, rating seringkali dituduh sebagai penyebab stasiun TVmenyiarkan program berkualitas rendah.

Tulisan ini dimaksudkan untuk meluruskan miskonsepsi di antara kritik-kritik tentang rating. Pertama-tama, tidak ada hubungannya antara angka rating kuantitatif (yang semata-mata menghitung jumlah penonton) dengan kualitas program. Kualitas program yang tinggi tidak selalu berhubungan dengan rating yang rendah atau sebaliknya.

Bagaimana sebenarnya rating bisa dianggap "tinggi" atau "rendah"? Apakah rating 1% selalu dianggap lebih buruk daripada rating 5%? Apakah yang menjadi acuan untuk mengatakan bahwa rating 5%, sebagai contoh, tinggi atau rendah?

Penilaian ini tergantung pada beberapa faktor, seperti jam tayang, target pemirsa, tipe program,
dll. Dengan demikian, artikel ini tidak akan membicarakan sisi kualitatif dari program yang "berating rendah", tetapi interpretasi mengenai tinggi-rendahnya rating dari program yang disebut sebagai program berkualitas tinggi. Rating selalu berhubungan dengan:

Jam tayang
Jumlah pemirsa potensial yang dapat diraih oleh stasiunstasiun TV beragam berdasarkan jam tayangnya. Program yang disiarkan pada siang hari (12.00-15.00) atau malam hari (22.00-24.00) akan bertemu dengan potensi pemirsa yang lebih sedikit daripada program yang ditayangkan pada jam tayang utama (18.00-22.00). Selama bulan Januari-24 Mei, pada jam tayang utama, terdapat 12 juta potensi pemirsa untuk menonton program TV yang ditawarkan, sementara hanya 5 juta orang pada siang hari dan 7 juta penonton pada malam hari.

Berdasarkan top program berkualitas di atas, mari kita telusuri lebih dalam mengenai ratingnya, contohnya Si Bolang yang tayang pada siang hari (12.20-13.00). Dengan target pemirsanya yang anak-anak (5-14 tahun), mari berfokus pada target tersebut. Selama Januari sampai 24 Mei 2008, di antara 11 stasiun TV nasional, terdapat 13,6% potensi anak-anak atau sekitar 1,2 juta anak-anak yang menonton pada pukul 12.30 sampai 13.00. Total populasi TV pada target pemirsa ini adalah 8,7 juta orang. Dengan potensi tersebut, masing stasiun TV seharusnya mendapatkan 1,2 poin rating atau sekitar 100 ribu anak-anak. Selama periode ini, rating Si
Bolang adalah 2,8 atau ditonton sekitar 239 ribu anak-anak. Rating ini lebih tinggi daripada rata-rata rating yang bisa diperoleh oleh masing-masing stasiun. Apakah kemudian dianggap rendah?

Contoh lain adalah Kick Andy yang tayang pada malam hari (22.00-23.00). Berdasarkan AGB Nielsen, pada periode yang sama, penonton Kick Andy adalah laki-laki berumur di atas 30 tahun yang berasal dari kelas atas. Pada jam tayang tersebut, ada 21,1% atau 549 ribu penonton yang potensial dari target pemirsa tersebut yang bisa diraih oleh 11 stasiun TV nasional, sementara populasi TV target pemirsa ini berjumlah 2,6 juta.

Dengan demikian, setiap stasiun TV mempunyai peluang untuk memperoleh 1,9 poin rating
atau sekitar 50 ribu orang, sementara Kick Andy memperoleh 2 poin rating selama periode tersebut; sedikit lebih tinggi daripada ratarata rating yang bisa diperoleh. Sebagai perbandingan adalah Metro Realitas (10.30 to 11.00). Selama jam tayang, potensi dari target pemirsa yang sama adalah sebesar 19,9% atau 518 ribu orang.

Pada jam tayang ini, setiap stasiun TV bersaing untuk mendapatkan ratarata 1,8 poin rating atau kurang lebih 47 ribu orang, sementara Metro Realitas memperoleh rating 1,2 atau 30 ribu orang; lebih rendah daripada rata-rata rating yang dapat diperoleh. Tinggi atau rendahnya analisis rating ini akan menunjukkan hasil yang berbeda pada target pemirsa yang berbeda. Karenanya ada analisis rating berdasarkan target pemirsa.


Target pemirsa
Kick Andy, sebagai contoh, tidak dapat dibandingkan dengan Si Bolang karena mereka memiliki target pemirsa yang berbeda, selain jam tayang yang juga berbeda. Kick Andy bisa mendapatkan rating 2 dan 0,5 pada waktu yang bersamaan. Karena Kick Andy dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, rating 2 menunjukkan jumlah penonton pada target pemirsanya yang laki-laki di atas 30 tahun dari kelas atas. Pada sisi yang lain, program ini hanya memperoleh rating 0,5 pada penonton anak-anak yang bukan target pemirsanya.

Sebaliknya, Si Bolang memperoleh rating 2,8 pada target pemirsanya (anak-anak 5-14 tahun), namun hanya berating 1 pada target pemirsa laki-laki kelas atas di atas 30 tahun, yang bukan merupakan target pemirsanya. Manakah yang rendah? Dan manakah yang tinggi?

Bahkan Liputan 6 memiliki penonton yang berbeda di antara program-programnya yang tayang pada pagi, siang, sore dan malam hari. Liputan 6 Pagi dan Liputan 6 Malam kebanyakan ditonton
oleh laki-laki, sedangkan Liputan 6 Siang dan Liputan 6 Petang biasanya ditonton oleh perempuan. Bagaimana dengan ratingnya? Liputan 6 Pagi memperoleh rating 1,2 atau sama dengan 31 ribu penonton laki-laki kelas atas berumur di atas 30 tahun, sedangkan Liputan 6 Malam ditonton oleh 66 ribu laki-laki dari kelas menengah atas berumur di atas 20 tahun atau berating 0,9.

Sementara di antara penonton perempuan, Liputan 6 Siang ditonton oleh 118 ribu penonton dari kelas menengah atas yang berusia di atas 40 tahun atau berating 2,7 dan Liputan 6 Petang ditonton oleh 107 ribu penonton berusia 40 tahun ke atas dari kelas menengah atau berating
4. Seperti halnya Kick Andy dan Si Bolang, Liputan 6 juga akan memperlihatkan angka yang berbeda saat dianalisis pada target pemirsa yang berbeda.

Bagaimana pun, analisis harus disesuaikan dengan target pemirsanya.


Periode analisis
Periode penayangan program juga akan menggiring kita kepada analisis yang berbeda, apakah analisis dilakukan hari ini, kemarin, minggu lalu, selama triwulan pertama, dll. Di antara penonton lakilaki kelas atas berumur di atas 30 tahun, Kick Andy mungkin hanya memperoleh rating 0,7 hari ini, tapi di minggu lalu perolehan ratingnya mencapai 3,9. Atau mendapatkan rating 2 di bulan Januari, sementara 2,4 di bulan Februari.

Contoh lainnya, Si Bolang yang ditayangkan setiap hari memperoleh rating rata-rata 3,5 pada minggu lalu (18-24 Mei). Namun rating rata-ratanya lebih rendah (2,9) pada minggu sebelumnya (11-17 Mei). Dengan demikian, periode analisis akan berpengaruh pula pada rating yang dihasilkan dari survei ini.

Tipe program
Berita, informasi, acara anak-anak, musik, dan program-program lainnya juga akan memberikan analisis yang berbeda. Selain berbeda jam tayang dan target pemirsa, program berita tidak dapat dibandingkan dengan program anak-anak. Pada top program berita di antara mereka yang berpendidikan terakhir universitas, Liputan 6 Petang memperoleh rating tertinggi ke-dua (2,9) setelah Seputar Indonesia (3) selama Januari-24 Mei. Pada target pemirsa yang sama, Kick Andy 2nd Anniversary memperoleh rating tertinggi (2,4) di antara program informasi talkshow.

Pada periode yang sama, Si Bolang memperoleh rating tertinggi ke-dua (2,8) setelah Laptop
Si Unyil (2,9) di antara program edukasi anak pada target pemirsa anak-anak. Tetapi, program ini hanya memperoleh rating 1 jika dianalisis pada target pemirsa yang berpendidikan terakhir universitas. Karenanya penilaian atas tinggi rendahnya rating perlu mempertimbangkan poin-poin tersebut di atas.*

sumber: abg nielsen newsletter Edisi ke-22 | Juni | 2008