Tampilkan postingan dengan label RAMADHAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RAMADHAN. Tampilkan semua postingan

27 September 2008

Penonton Tayangan Ramadan Turun 17 Persen

Sinetron "Aqso dan Madina" salah satu sinetron bertema Ramadan yang ditayangkan "RCTI".dok.sinemart

[JAKARTA] Minat masyarakat menonton hiburan dan tayangan Ramadan di stasiun televisi menurun hingga 17 persen. Pada kurun waktu 1-21 September 2008, jumlah pemirsa rata-rata berkurang 100 ribu-300 ribu per minggu. Fakta tersebut mengejutkan, mengingat program yang ditayangkan stasiun televisi pada 2008 lebih beragam dibandingkan Ramadan 2007 lalu.

Berdasarkan hasil riset AGB Nielsen Media Research, di 10 kota besar di Indonesia, pengurangan minat pemirsa terlihat di minggu kedua hingga minggu keempat. Rata-rata penurunan mencapai 2-5 persen per minggu, dari total 42,6 juta pemirsa. Pada minggu keempat Ramadan, tepatnya hingga Kamis (25/9), jumlah penonton kembali menurun dari 12,5 persen menjadi 12,2 persen.

Communication Executive AGB Nielsen Media Research, Andini Wijendaru, dalam pembahasan hasil riset, di Jakarta, Jumat (26/9) menuturkan, penurunan jumlah pemirsa bisa disebabkan banyak faktor. Minat pemirsa menonton program Ramadan kemungkinan berkurang karena tarawih, acara televisi kurang menarik, atau keluarga memilih buka bersama di luar rumah.

"Banyak faktor yang menyebabkan tayangan Ramadan kurang digemari oleh pemirsa televisi. Faktanya, keragaman program televisi ternyata tidak menjamin peningkatan jumlah pemirsa," papar Andini.

Namun, apabila dibandingkan dengan bulan Agustus 2008, jumlah penonton televisi bertambah hingga 18 persen. Sebelumnya, pada Agustus 2008 AGB Nielsen Media Research mencatat, jumlah penonton 42,6 juta orang. Pada September 2008, jumlah pemirsa meningkat sampai 5,5 juta orang.

Peningkatan jumlah pemirsa televisi terlihat tajam saat sahur (02.00-04.00 WIB) dan menjelang buka puasa (16.00-18.00 WIB). Jenis tontonan yang paling diminati pun beragam. Pada saat sahur, serial drama Para Pencari Tuhan 2, di SCTV, sangat digemari masyarakat. Rating Para Pencari Tuhan 2 (PPT 2) tertinggi yakni 4,2. Selain serial drama, tayangan olahraga sepakbola menjadi pilihan di kalangan pria dewasa.

"Olahraga sepakbola, di stasiun televisi RCTI menjadi pilihan pemirsa lelaki. Sementara, remaja dan perempuan memilih menonton serial drama komedi PPT 2," lontarnya.

Program religi yang mendapat perhatian paling banyak selain PPT 2, yakni Buka Kalbu (1,1), Mamah dan Aa Curhat Ramadan (0,7), dan Curhat Bareng Ustadz (0,5).

Tidak hanya tontonan menanti sahur, tayangan yang menjadi favorit menjelang buka puasa, yakni serial drama Jihan, di Indosiar. Rating drama tersebut mencapai 6,5. Setelah Jihan, tontonan lain yang diminati, yakni PPT, dan beberapa program reality show seperti Termehek-Mehek, Jika Aku Menjadi, dan Jaili.

Sementara untuk tayangan religi yang paling banyak ditonton saat berbuka, yakni Buka Kalbu (4), Membuka Pintu Kalbu (3,8), dan Kultum (3,3).

Ditegaskan Andini, jenis tayangan reality show tahun ini lebih mendominasi daripada sinetron. Pada Ramadan 2007 lalu, sinetron menjadi tontonan wajib setiap sahur dan menjelang buka puasa. Saat ini, minat pemirsa berubah ke program reality show yang lebih segar dan variatif.

Pada momen Ramadan ini, semua stasiun televisi juga mengambil kesempatan untuk menambah atau merubah program tayangan. Sebelumnya, pada Agustus 2008 total jam tayang di 20 stasiun televisi adalah 426 jam. Dominasi tayangan ada pada program hiburan, informasi, dan berita. Namun, pada bulan Ramadan, total jam tayang naik menjadi 449 jam.

Khusus untuk pembagian jam tayang, program sinetron, hiburan, dan religi otomatis bertambah. Semisal, sebuah stasiun televisi pada Agustus hanya menayangkan 3 persen program religi. Namun, pada bulan Ramadan bertambah menjadi enam persen.

Penambahan tersebut diimbangi dengan kenaikan jam menonton pemirsa terhadap program religi. Biasanya, pemirsa rata-rata menonton satu persen, berubah menjadi tiga persen dari total jam menonton. [EAS/U-5]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/09/27/index.html

24 September 2008

Dari Info Mudik Sampai Sejarah - Tayangan Spesial Lebaran

Dok.TPI - Sinetron �Ucup Santri Simelekete� akan menghibur pemirsa �TPI�.

Hari Raya Idul Fitri 1429 H, sebentar lagi tiba. Sejumlah stasiun televisi swasta juga memberikan sajian Idul Fitri kepada pemirsa. Mulai dari tayangan musik, sinetron, komedi, parodi, film lepas, info mudik, sampai menguak sejarah Islam hadir di layar kaca.

Head of Marketing Trans TV A Hadiansyah Lubis dan Direktur Utama TPI Sang Nyoman Suwisma, secara terpisah, Senin (22/9), mengatakan sajian spesial menyambut Lebaran sudah menjadi rutinitas bagi semua stasiun televisi. Program spesial di televisi, menjadi hiburan bagi masyarakat yang tidak pulang kampung atau hanya libur Lebaran di rumah.

Trans TV, menyambut Lebaran menyajikan program spesial dimulai dari 29 September sampai 4 Oktober 2008. Pada hari pertama Lebaran, sajian yang diberikan yakni Insert Pagi Spesial Lebaran, Program Siapa Suruh Datang Jakarta, Akhirnya Datang Juga Plus-Plus Spesial Lebaran. Maju Terus Pantang Mundur, dan Musik Spesial Lebaran.

Hari kedua Lebaran, Trans TV menyuguhkan Bioskop Indonesia Spesial, The Best of Extravaganza, The Best of Akhirnya Datang Juga Plus-Plus, dan Sketsa Lebaran. Hadiansyah menuturkan, semua program acara merupakan sajian terbaik. Misalnya, acara Siapa Suruh Datang Jakarta, mengisahkan perjalanan Narko yang baru pertama kali ke Jakarta. Program ini sekaligus menghadirkan tip-tip bermanfaat untuk menjalani kehidupan di Jakarta.

Program spesial lainnya di Trans TV, yakni Konser Takbir Cinta. Program tersebut menggabungkan cerita drama dengan musik. Konser Takbir Cinta bercerita tentang seorang ibu yang mengasihi anaknya dengan tulus. Kisah drama dibalut dengan penampilan para musisi dan band papan atas, yakni Peterpan, Nidji, D'Masiv, Alexa, Afgan, dan Rossa.

"Dalam sajian Konser Takbir Cinta, kami menghadirkan Ustaz Jefri Al Bukhori. Beliau membahas cerita bernapaskan syariat Islam. Pada program musik ini, akan ditampilkan serangkaian tari da'I cilik serta penabuh beduk takbir," papar Hadiansyah.

Sementara itu, stasiun televisi TPI menayangkan program unggulan pada 1-3 Oktober 2008. Serangkaian program spesial Idul Fitri, yakni Langsung Beken Spesial Lebaran (1/10) pukul 20.00 WIB, Sinema X-Tra Heboh Spesial Lebaran (3/10) pukul 20.00 WIB, serta Musik Asyik Spesial Lebaran: Rhoma Irama (4/10) pukul 20.00 WIB.

Menariknya, program dangdut unggulan TPI justru menampilkan Rhoma Irama sebagai ikon. Penyanyi dangdut yang terkenal pada era 1980-an tersebut dinilai tetap memiliki pamor sebagai Raja Dangdut Indonesia. Musik Asyik Spesial Lebaran Rhoma Irama, dapat disaksikan selama 3 jam. Selain Rhoma, pemirsa juga bisa menikmati penampilan bintang dangdut ternama serta Juara KDI 1-5.

Sementara itu, stasiun televisi Trans7 menghadirkan beberapa acara khusus, yaitu Kolak Spesial Takbiran & Lebaran, Empat Mata Spesial Takbiran & Lebaran, Bocah Petualang Spesial Lebaran, Si Unyil Spesial Lebaran, Mancing Mania Spesial Lebaran, Musik Spesial Takbiran, Mas Wahyu Mudik, dan Ayo Mudik 2008.

Trans7 pada program Musik Spesial Takbiran, Selasa (30/9), pukul 21.00 WIB menampilkan Pongky dan sang legenda Iwan Fals. Mereka menyanyikan lagu - lagu lawasnya, seperti Pesawat Tempur, Bento, dan Libur Kecil Kaum Kusam. Dalam acara musik spesial tersebut musisi muda yakni Afghan, Letto, Changcuters, serta Kristina yang juga hadir untuk menghibur pemirsa.

Tayangan istimewa lain Trans7 menayangkan Mancing Mania Spesial Lebaran. Pemirsa seolah diajak untuk ikut memancing ikan di Laut Sawu, Flores dan Binuangan, Banten. Sementara itu, kisah kehidupan yang hadir pada momen spesial tertuang pada Bocah Petualang Spesial Lebaran. Bocah-bocah di Desa Rendoraterua, Pulau Ende, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, akan menceritakan kegiatan mereka mulai dari malam takbiran hingga hari raya Idul Fitri tiba.

Dok.indosiar - Operet �Lebaran Dong� ditayangkan �Indosiar� menyambut Lebaran.

Info Musik dan Sejarah

Stasiun televisi lainnya, Indosiar menyajikan informasi spesial Lebaran. Selama Lebaran, Indosiar akan menayangkan Info Mudik untuk membantu pemirsa yang pulang kampung. Program ini berisi berbagai peristiwa yang terjadi selama periode mudik. Tahun 2008 ini, program Info Mudik direncanakan hadir pada H-7 sampai dengan H+7. Info Mudik ditayangkan pada Fokus Pagi, Fokus Siang, Breaking News Sore, dan Breaking News Malam.

Selain Info Mudik Lebaran, hadir juga dakwah, operet, FTV, sampai tayangan tradisional wayang. Tayangan dakwah akan membahas Hikmah Idul Fitri, dipandu oleh Mamah dan AA. Acara kemudian dilanjutkan dengan Best Moment of StarDut, operet Lebaran Dong Masa Lebaran lah. Khusus untuk sinetron, Indosiar menampilkan sinetron religi Hanya Atas Namamu (2/10), Mutiara Di Balik Cadar (1/10), dan Sajadah Cinta (2/10).

Acara lainnya, yang mengangkat tema budaya Indonesia yakni wayang. Beberapa dalang ditampilkan secara bergantian, mulai dari dalang Ki Agus Krisbiantoro lakon Bargowo (30/9), Ki Sukron Suwondo lakon Wahyu Mustiko Aji (1/10), Ki Bayu Aji lakon Bima Suci (2/10), dan Ki Mudo Wibowo lakon Petruk Mulyo (3/10).

Humas Indosiar Gufroni Sakaril, menyatakan variasi program unggulan dihadirkan untuk menemani pemirsa selama libur Lebaran. Tidak hanya hiburan musik dan sinetron, tetapi Indosiar juga sengaja menampilkan budaya jawa dalam acara spesial Lebaran.

Menyambut hari yang Fitri, Metro TV pun kembali menghadirkan rangkaian program spesial antara lain Indahnya Sholat, Live Event - Silaturahmi Di Hari Fitri, Islam: Empires of Faith, Kabaret Spesial Lebaran, dan Cafe Democrazy Spesial Lebaran.

Keistimewaan tayangan Metro TV terletak pada acara Islam : Empires of Faith. Tayangan tersebut bercerita tentang sejarah masuknya Islam ke beberapa negara. Diceritakan, penyebaran Islam meluas ke beberapa negara. Bahkan kekuatan Islam meresap ke Afrika hingga India Timur, Spanyol sampai India.

Pada hari spesial tersebut, Metro TV tidak ketinggalan menampilkan artis-artis ibukota. Mereka hadir dalam Kabaret Spesial Lebaran, Kamis (2/10), pukul 22.05-23.00 WIB. Sementara acara Kabaret Gado-Gado Politik episode spesial Lebaran hadir dengan tema Mudik. Artis yang terlibat dalam Kabaret dengan konsep teater, yakni Butet Kertaredjasa, Budi Ros, Emmanuel Handoyo, Ratna Riantiarno, Whani Dharmawan, Cornelia Agatha, dan sebagainya. [EAS/U-5]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/09/24/index.html

19 September 2008

Stasiun Televisi Kaji Kritik KPI

kapanlagi.com - Marshanda dalam sinetron �Aqso dan Madina�.

[JAKARTA] Kritik atas tayangan kekerasan dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Badan Informasi Publik Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) diterima positif oleh stasiun televisi. Pihak stasiun televisi akan mengkaji kritik dan evaluasi.

Sejumlah program acara televisi mendapat teguran serta peringatan dari KPI karena memuat penuh aksi kekerasan, vulgar, dan tidak mendidik, kembali menjadi sasaran utama. Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI), ikut menuai teguran dari KPI. Dua sinetron Ramadan RCTI, yakni Aqso dan Madina serta Faiz dan Faizah dinilai termasuk mengeksploitasi kekerasan.

Kepada SP di Jakarta, baru-baru ini, Presiden Direktur RCTI Sutanto Hartono, menyatakan terbuka menerima kritik dan masukan dari KPI. Terkait dengan dua sinetron yang dinilai mengandung kekerasan, pihak RCTI akan mengevaluasi dan memperbaiki isi tayangan.

"Kami menerima semua kritik dan masukan dari KPI atau lembaga pengawasan lainnya. Namun, perlu ditegaskan juga di mana letak kesalahan sebuah tayangan dengan alasan yang tepat," kata Sutanto.

Sinetron Aqso dan Madina ditayangkan setiap hari, selama bulan Ramadan, pukul 17.30- 19.00 WIB. Dalam sinetron religi tersebut, artis muda Marshanda, Dude Herlino, dan Carissa Putri menjadi pemain utamanya. Aksi kekerasan, dikatakan Sutanto, hampir tidak terlihat dalam tayangan sinetron ini. Terlebih lagi, Aqso dan Madina merupakan sinetron religi.

Penilaian KPI untuk tayangan-tayangan di stasiun televisi swasta, menurut Sutanto tidak semuanya salah. Namun, jika penilaian diambil hanya dari satu sisi maka hasilnya timpang. Di Indonesia, khususnya dalam hal penyiaran belum terdapat aturan yang jelas. Selama ini, pemerintah tidak memberikan batasan boleh dan tidak untuk perilaku, kata-kata, serta gaya berpakaian dalam sebuah tayangan. Untuk itu, aturan mengenai boleh dan tidak dalam sebuah tayangan harus diperjelas dahulu.

"Metro TV"

Pihak televisi swasta Metro TV mengaku terkejut setelah mengetahui bahwa lima program mereka yang ditayangkan pada saat Bulan Suci Ramadan, termasuk dalam program yang harus dipantau karena masuk dalam 802 tayangan yang dianggap tidak layak oleh Kelompok Pemantau Tayangan Ramadan.

Sebagaimana diketahui, dari 802 tayangan tidak layak menurut Kelompok Pemantau Tayangan Ramadan, lima di antaranya tayangan Metro TV, yakni Ensiklopedi Islam, Metro Hari Ini, Tafsir Al Misbah, Sukses Syariah, dan Periskop.

Humas Metro TV Henny Puspitasari kepada SP di Jakarta, Selasa (16/9), menjelaskan, pihaknya terkejut dengan adanya keputusan itu, karena memang pihaknya tidak diberitahu sebelumnya tentang adanya hal ini. "Kami tidak tahu, kami tidak diundang atau tak terundang. Sebab biasanya, kalau ada acara seperti ini, setiap stasiun televisi dikasih rilis," ujar Henny.

Justru yang membuat bingung, Henny menambahkan dari lima tayangan di Metro TV tersebut, salah satu di antaranya adalah tayangan Tafsir Al Misbah yang dipandu oleh Dr Quraish Shihab. Tayangan Tafsir Al Misbah ini merupakan program unggulan Metro TV yang selama ini mendapat anugerah dari MUI.

"Akan tetapi, kami tetap berpikir positif. Secara internal, dengan adanya keputusan itu, membuat kita harus mengamati kembali pada episode yang mana dari kelima tayangan itu, termasuk tayangan Tafsir Al Misbah yang dianggap kurang cocok untuk masyarakat," kata dia.

Yang pasti, Metro TV akan selalu mendukung program yang dilakukan oleh Kelompok Pemantau Tayangan Ramadan. Hanya saja, selama ini, Metro TV sudah melakukan komitmennya dengan tidak ingin melanggar UU Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS).

"Kami sangat dan selalu menjaga setiap program yang kami tayangkan. Bahkan, secara internal sendiri, kami melakukan filter yang kuat dengan adanya quality control dan internal censorship. Jika memang ada program yang lewat dan mendapat teguran dari pihak luar, kami akan memberikan tindakan kepada staf kami berupa teguran," katanya.

Sebagaimana diketahui, dari 802 tayangan yang dinilai tidak layak, Indosiar menduduki peringkat pertama dengan 148 adegan atau 18,5 persen yang berbau unsur kekerasan, mistik, dan pornografi. Posisi kedua dan ketiga diduduki Antv dan Trans TV dengan 15,5 persen dan 12 persen. Metro TV menduduki posisi terakhir dengan 0,6 persen. [EAS/U-5/F-4]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/09/19/index.html

18 September 2008

NU Jatim: Kuis Ramadan Haram, KPID Minta Masyarakat Melapor

kpigoid 17/09/2008

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menyatakan, acara kuis Ramadhan yang disiarkan beberapa televisi hukumnya haram karena sama dengan judi. Karena itu, pihak televisi maupun masyarakat diimbau tak meneruskan kuis-kuis tersebut.

"Kuis itu sama dengan judi. Unsur judi itu terlihat dari adanya kewajiban peserta membayar biaya tertentu melalui pulsa SMS premium dengan iming-iming hadiah uang besar. Padahal itu merugikan masyarakat sendiri karena mereka diajak untuk bermimpi mendapatkan hadiah," kata KH Miftahul Akhyar, Ketua Rois Syuriah PWNU Jatim, pekan lalu.

Menurut KH Miftah, selama ini kuis punya nilai kurang baik dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat diajari berharap sesuatu yang tak masuk akal. Akibatnya, akan muncul masyarakat pemalas karena hanya berharap hadiah kuis.

Pada bulan Ramadan, kuis juga mengganggu orang yang sedang beribadah. Misalnya, orang mau salat tarawih atau sahur, beberapa televisi menyiarkan kuis berhadiah. "Sahur itu ibadah, sebaiknya jangan diganggu dengan kuis," ujarnya mengingatkan bahwa fatwa kuis Ramadan haram itu juga pernah dicetuskan dalam hasil Batsul Masail PWNU Jatim pada 2004 lalu.

Diingatkan, bila masyarakat tidak hati-hati, ibadah puasa akan dikotori dengan judi. Padahal kuis hanya menguntungkan penyelenggara dengan menerima sejumlah uang dari SMS peserta. "Unsur judinya terletak pada tarif SMS. Misalnya, tarif SMS itu Rp 250 (pascabayar) dan Rp 350 (prabayar), namun untuk mengirim SMS kuis tertentu menjadi Rp 2.000 (pascabayar) dan Rp 2.100 (prabayar). "Berapa keuntungan diperoleh pembuat kuis," kata pengasuh Pesantren Miftachussunnah, Kedung Tarukan, Surabaya.

KH Miftah mengatakan, PWNU mengimbau aparat pemerintah juga bertindak untuk menanggulangi 'penyakit' masyarakat ini. Pemerintah harus mengeluarkan kebijakan yang melarang permainan kuis karena bisa menyesatkan masyarakat. Begitu juga dengan pengelola acara, sebaiknya memberikan acara lebih bermanfaat kepada masyarakat.

Selain kuis Ramadan, NU juga mengharamkan petasan, karena petasan dapat mengancam jiwa, mencederai orang, mengganggu orang, dan merupakan perbuatan sia-sia. "Islam tak melarang adanya kegembiraan dalam menyambut Ramadan, walau hanya sesaat, tapi bila sudah bersifat 'tabdzir' (sia-sia) akibat membakar uang dan menghilangkan nyawa manusia, maka nilai pahalanya tidak ada sama sekali, bahkan berdosa," katanya.

Ia mengatakan NU Jatim juga menolak perilaku yang mengganggu kekhidmatan puasa seperti sweeping menertibkan hal-hal yang menodai puasa seperti di lokalisasi, pedagang minuman keras, dan tempat perjudian. "Kami menolak sweeping, karena Ramadan itu sebaiknya tak disikapi dengan menggunakan cara-cara kekerasan. Penggunaan kekerasan justru akan menimbulkan fitnah bahwa Islam itu identik dengan kekerasan," katanya.

Sementara itu, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jatim, Fajar Arifianto Isnugroho mengatakan, akan mengklarifikasi lembaga penyiaran itu jika terbukti menyiarkan acara yang merugikan masyarakat seperti halnya kuis itu. "Selama ini kami belum ada laporan dari masyarakat tentang judi kuis itu. Kami bisa mengevaluasi program itu ketika mendapatkan laporan acara yang meresahkan masyarakat," katanya.

Ia menambahkan, dalam pasal 36 UU KPID 32 Tahun 2002 juga mengatur unsur perjudian yang dilakukan lembaga penyiaran. Kalau lembaga itu terbukti, maka izin penyiaranya dicabut. "Kami minta, kalau ada acara televisi meresahkan, masyarakat bisa melaporkan ke kami. Kami akan menindaklanjuti," tambahnya. Red dari berbagai sumber

15 September 2008

Melky Bajaj: Sikap Menghormati Bulan Puasa Menipis

By Republika Contributor, Jumat, 12 September 2008
Melky Bajaj: Sikap Menghormati Bulan Puasa Menipis

JAKARTA -- Melky, personel kelompok lawak Bajaj, prihatin melihat menipisnya penghormatan masyarakat terhadap bulan suci Ramadan."Sekarang ini, lagi puasa, orang merokok di tempat umum, bahkan di dalam bus, biasa aja. Dulu engga begini, sikap menghormati orang berpuasa terasa sekali," kata Melky, saat dijumpai di sela syuting sinetron Para Pencari Tuhan Jilid 2, di kawasan Jati Asih, Bekasi, Kamis.

Melky dan dua rekannya dalam Bajaj, Aden dan Isa, turut bermain dalam sinetron garapan Deddy Mizwar tersebut. Tiga pelawak muda jebolan Audisi Pelawak TPI (API) ini berperan sebagai preman insyaf, dan telah ikut membintangi Para Pencari Tuhan sejak jilid pertama tahun lalu.

Melky mengatakan bahwa sikap saling menghormati sangat diperlukan di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang sangat majemuk. "Kita ini kan berbeda-beda tetapi satu. Saya pikir sikap saling menhormati merupakan unsur terpenting di dalam menjaga kebersamaan yang telah terbina selama ini," katanya.

Melky mengatakan Para Pencari Tuhan Jilid 2, nantinya akan menghadirkan tokoh preman baru, yang diperankan oleh Tora Sudiro. Taralah yang nantinya mempengaruhi trio Bajaj untuk melakukan hal-hal yang tidak benar di mata Tuhan.
"Tora jadi preman, kita bertiga yang jalannya udah mau lurus diajak untuk belok lagi," kata Melky sambil tertawa.

Kegiatan syuting ditutup acara berbuka puasa bersama dengan mengundang 60 anak yatim piatu dari sejumlah panti asuhan sekitar Mushala At Taufiq, Jl. Koja 1, yang dijadikan lokasi pengambilan gambar.Sinetron Para Pencari Tuhan Jilid 2 merupakan salah satu program unggulan SCTV di bulan Ramadan tahun ini,ditayangkan setiap hari pukul 03.00-04.30 WIB, sejak 1 September lalu. ant/kp

http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/19/news_id/2773

14 September 2008

Pantauan Program Siaran Ramadan - 802 Tayangan Dianggap Tidak Layak

Sinetron "Assalamu'alaikum Cinta" dianggap kurang memahami tradisi keluarga muslim yang taat.dok.sinemart

[JAKARTA] Kelompok Pemantau Tayangan Ramadan yang terdiri dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Badan Informasi Publik Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), mendapati 802 adegan sarat dengan unsur kekerasan, mistik dan porno. Indosiar, Antv, TransTV, TPI dan Trans 7 menjadi lima stasiun yang terbanyak memuat kekerasan, mistik, dan porno-cabul.

Direktur Kajian Media dan Literasi Televisi, yang juga tergabung dengan Tenaga Ahli Monitoring Televisi Depkominfo, Teguh Imawan, 802 adegan yang ditayangkan di 11 stasiun televisi nasional menampilkan adegan kekerasan psikis.

"Tingkat persentasenya sampai mencapai 59,4 persen. Kemudian disusul kekerasan fisik 23,7 persen, porno-cabul 12 persen dan mistik 5 persen. Padahal pada ramadan tahun 2007, sembilan televisi tercatat, menampilkan 340 adegan yang sama. Hal ini perlu diberi catatan, secara kuantitas meningkat, tetapi kualitas adegan sangat menurun," tuturnya di Jakarta, Jumat (12/9).

Pemantauan dilakukan, kata Teguh, ketika waktu berbuka puasa yaitu antara pukul 17.00-19.00 WIB, karena dinilai jumlah pemirsa naik 35 persen. Begitu pula saat sahur pukul 03.00 -05.00 WIB, yaitu naik 12 kali lipat dan penontonnya adalah anak-anak, yang menjadi 22 kali lipat.

Stasiun televisi yang paling mendapati sorotan adalah Indosiar dengan 148 adegan dengan rating 18,5 persen tampilkan kekerasan psikis, fisik, porno-cabul dan mistik. Sedangkan urutan kedua ada pada Anteve 15, 8 persen dan ketiga Trans TV 12 persen. Pada urutan terakhir adalah Metro TV 0,6 persen.

Sementara itu, acara yang paling banyak disorot adalah program Saur Prise. Acara itu dinilai banyak umpatan, makian yang melecehkan serta kuis-kuis dengan pertanyaan dangkal yang tidak ada nilai edukasinya. Hal demikian dianggap suatu pembodohan publik.

"Apalagi disertai dengan adanya adegan anak-anak yang bermain petasan yang dianggap berbahaya dan perlakuan kurang ajar terhadap orang tua. Komedi reality show itu diperankan Eko, Parto, Gogon dan Tesy. Begitu juga dengan sinetron Assalamu'alaikum Cinta yang tidak relevan. Sinetron itu menggambarkan pemahaman kurang mendalam tentang tradisi keluarga muslim yang taat," tandas Teguh.

Di lain pihak, saat SP akan mengkonfirmasi ke humas stasiun televisi, sulit untuk dihubungi.

Penyiaran adegan kekerasan atau kecelakaan harus mengikuti ketentuan, yaitu tidak boleh disajikan secara eksplisit berlebihan dan vulgar. Pertunjukan pemukulan yang bertubi-tubi adalah bagian dari kekerasan yang tidak boleh ditampilkan.

Menurut UU Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) pasal 30 menyatakan, lembaga penyiaran harus memperhatikan keseimbangan, antara kebutuhan untuk memperlihatkan realitas dengan pertimbangan akan efek negatif yang ditimbulkan.

Sanksi Lanjutan

Senada dengan itu, Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), Fetty Fajriati, menegaskan apabila stasiun televisi tersebut tetap menayangkan tayangan kekerasan, seks dan mistik yang sebelumnya sudah mendapat teguran, tetapi tidak ada respons yang baik dan perubahan, maka kami melakukan pengurangan durasi, pemberhentian sementara, atau penghapusan.

Fetty juga melarang tayangan yang menampilkan sifat kebanci-bancian. Begitu pula pada banci yang mengalami kelainan, bukan laki-laki sesungguhnya (gender identity disorder), menggunakan kostum perempuan, untuk mencari uang dengan tampil di televisi. Mereka semua mendapat perlakuan yang sama.

"Tayangan seperti itu sebenarnya melecehkan banci, karena mereka digambarkan sebagai penjual seks, tukang ngamen atau orang jahat. Hal itu semakin merendahkan kaum waria itu sendiri," kata Fetty.

Pada dasarnya, ungkap Fetty, hal itu menjadi pergulatan jiwa seseorang yang memiliki bakat menjadi banci. Berdasarkan masukkan yang diterima KPI dari para psikolog, bahwa tayangan tersebut sebenarnya meresahkan mereka sendiri.

"Dengan adanya tayangan kebanci-bancian, mereka yang memang memiliki kelainan, akan semakin menjadi bingung dalam menentukan sikap. Sementara, tuntutan masyarakat luas, menginginkan yang sebenarnya. Apabila laki-laki, ya diarahkan seperti laki-laki tulen, jangan berperilaku seperti perempuan. Jangan pula menjadikan mereka semakin tidak punya arah yang jelas, dengan memberi masukan yang tidak pasti," tuturnya

Fetty khawatir kepada usia anak-anak dan remaja, yang masih belum mempunyai kearifan untuk menentukan jalan hidup. Sementara mereka masih dituntun orang tua yang menginginkan terbaik bagi anaknya. Begitu juga dengan orang yang bertubuh kecil (cebol) dan latah. Hal demikian tidak seharusnya menjadi ajang eksploitasi untuk mengambil untung yang sebesar-besarnya.

"Kami selalu memantau tayangan televisi, khususnya pada waktu prime time yang dianggap rawan, dimana anak-anak biasanya masih menonton pada pukul 18.00-22.00. Hal ini menjadi fokus kami pada perlindungan anak-anak," jelasnya.

UU sebagai Acuan

Fetty juga menambahkan UU P3 dan SPS, memang diakui belum memuat sanksi secara tegas, hukuman apa yang diberikan. Nantinya hal itu akan dikembangkan dengan melihat setahun ke depan, bagaimana baiknya. Stasiun televisi sudah bisa menggunakan UU tersebut sebagai acuan, untuk membuat program-program tayangan yang layak.

Pihak KPI memberikan apresiasi, berupa surat pernyataan terima kasih atas perbaikan-perbaikan dan adanya program-program yang sudah sesuai dengan pedoman perilaku dan standar penyiaran KPI, yang dilakukan oleh pihak stasiun televisi.

Terkait hal itu, Ketua Komisi Informasi Komunikasi MUI, Said Budairy menuturkan sebaiknya acara Ramadan dapat memberikan pelajaran yang berguna dan pencerahan bagi masyarakat. [HDS/U-5]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/09/13/index.html

13 September 2008

Selamat Datang, Ya (Pasar) Ramadhan...

KOMPAS/ARBAIN RAMBEY / Kompas Images

Ilham Khoiri

Dulu, Ramadhan di Tanah Air identik dengan laku asketisme. Beberapa tahun belakangan, ketika konsumerisme melanda kota-kota besar, bulan suci umat Islam itu menjelma sebagai perayaan komodifikasi ritual keagamaan. Bagaimana pergeseran itu terjadi?

Semarak menyambut Ramadhan tahun 2008 ini terasa sejak awal September lalu. Setidaknya itu terlihat dari layar televisi yang dipenuhi berbagai acara bernuansa puasa, mulai dari sinetron, kuis, humor, ceramah, berita, musik, sampai gosip artis. Acara-acara ini makin membeludak saat berbuka atau sahur.

Tayangan itu dikemas dengan melibatkan ikon atau simbol keislaman yang hampir seragam. Studio didesain dengan interior kaligrafi Arab atau beduk. Artis yang muncul pakai jilbab, baju koko, atau peci.

Selain citra keislaman, berbagai acara itu sama-sama dipadukan dengan berbagai iklan. Jangan heran jika acara-acara Ramadhan—yang banyak berupa humor atau kuis berhadiah itu—lebih terasa sebagai jualan produk ketimbang renungan agama. Menyaksikan acara-acara itu, pemirsa seperti tak henti dirayu untuk belanja berbagai produk.

"Ritual-ritual puasa di televisi telah dimanfaatkan untuk menggiatkan semangat konsumtif," kata Ahmad Sanusi (50), warga Pamulang, Tangerang.

Itu di layar kaca. Dalam kehidupan nyata sehari-hari, arus konsumsi selama Ramadhan juga kental. Keriuhan di pusat perbelanjaan, mal, atau pasar bisa menggambarkan betapa masyarakat makin getol belanja bersamaan dengan datangnya puasa.

Saking giatnya belanja, beberapa jalan raya di sekitar mal sampai macet total pada akhir pekan sebelum Ramadhan. Sabtu (30/8) lalu, misalnya, lalu lintas di jalan di seputar perempatan Lebak Bulus, di dekat Carrefour, macet total hingga berjam-jam.

Mal menyambut peluang ini dengan cekatan. Contohnya Sogo Plaza Senayan, yang menempelkan tulisan di setiap eskalator: "belanja sambil berbuka", "belanja sambil beramal". Jurus serupa diterapkan Metro, Seibu Grand Indonesia, beberapa gerai di Senayan City, Matahari Citos, Mal Taman Anggrek, hingga toko-toko di Mal Ambasador, dengan memajang busana muslim dan muslimah di bagian depan.

"Pengunjung meningkat pas Ramadhan ini, baik untuk makan maupun berbelanja," kata Manajer Humas Plaza Indonesia Titi Ndari.

Suasana Pasar Tanah Abang lebih hiruk-pikuk lagi. Hari-hari ini, pasar grosir tekstil terbesar di Indonesia itu diserbu ribuan pembeli yang mengincar busana muslim. Melihat potensi itu, presenter dan desainer Ivan Gunawan buka butik di Pusat Grosir Metro Tanah Abang. "Saya jualan pas puasa supaya bisa langsung terpakai," jelas Ivan.

Memang, begitu butik Ivan dibuka, Rabu (10/9) lalu, pembeli langsung menggeruduk. Banyak ibu-ibu memborong sampai sepuluh buah baju yang harganya bervariasi, antara Rp 80.000-Rp 260.000 per potong.

Komodifikasi

Apa yang sesungguhnya bermain di balik semarak konsumsi selama Ramadhan? Pasar. Ya, bulan suci umat Islam itu kini jadi ajang strategis untuk memasarkan berbagai produk industri. Kapitalisme yang semakin lihai berusaha menangkap peluang memanfaatkan ikon atau simbol agama demi mengeruk keuntungan bisnis.

Menurut pengamat komunikasi dan gaya hidup, Idi Subandy Ibrahim, Ramadhan sekarang memang telah dikomodifikasi besar-besaran. Segala sesuatu yang terkait ritual puasa disulap jadi komoditas untuk diperjualbelikan. Sadar atau tidak, masyarakat masuk dalam pusaran arus konsumsi itu.

Puasa yang semestinya mengajarkan hidup sederhana akhirnya dijadikan momen pentas gaya hidup yang boros dan glamor. Kesalehan dipamerkan lewat artefak simbolis yang instan, seperti jilbab, baju koko, atau surban. "Spiritualitas Ramadhan jadi 'spiritualitas bersenang-senang'. Puasa dimaknai lewat kemeriahan yang dangkal," katanya.

Komodifikasi itu ternyata berjalan seiring dengan formalisme agama. Muncul kelompok-kelompok Islam radikal yang bergerilya menutup panti pijat, diskotik, atau rumah makan pada siang hari dengan dalih dianggap mengganggu ibadah puasa. Gerakan ini meresahkan penganut agama lain atau pemeluk Islam sendiri yang kebetulan tidak berpuasa karena alasan syariat.

"Kelompok ini mengumpulkan ayat-ayat suci untuk membenarkan diri sendiri seraya memberangus orang lain. Saat puasa, semangat agama yang penuh kasih sayang menjelma jadi spiritualitas untuk 'berperang'," kata Idi Subandi.

Evolusi

Semarak konsumsi selama Ramadhan terjadi melalui evolusi watak keagamaan yang panjang. Dulu, hingga tahun 1980-an, bulan puasa identik dengan hidup bersahaja. Kemeriahan menyatu dengan gairah keagamaan, seperti kemeriahan pukul beduk, anak-anak riang gembira pergi ke masjid, shalat tarawih, atau baca puji-pujian.

Penulis asal Banyumas, Ahmad Tohari, mengenang suasana romantis puasa di kampungnya dulu, di Tinggar Jaya, Jatilawang, sekitar 30 kilometer dari kota Banyumas, Jawa Tengah. Orang-orang menunggu suara kokok ayam jantan sebagai tanda waktu imsak dan menanti kelelawar beterbangan pada sore hari sebagai tanda berbuka.

"Sahur dan berbuka dilakukan dengan sederhana. Puasa dianggap sebagai laku prihatin untuk mengendalikan nafsu," katanya.

Suasana berubah ketika televisi swasta tumbuh pada awal tahun 1990-an. Berbeda dengan TVRI—mengudara sejak tahun 1962—yang menyiarkan acara keagamaan secara formal dan monoton, televisi swasta mengemas acara keagamaan secara lebih atraktif dengan diselingi iklan.

Senior Manager Public Relation SCTV Budi Darmawan mengungkapkan, SCTV mulai menggarap waktu sahur tahun 1995. Ternyata siaran itu banyak ditonton dan berpotensi meraih banyak iklan. "Sejak itu, SCTV serius menggarap program Ramadhan di waktu sahur, buka, dan waktu lain," katanya.

Setelah Reformasi tahun 1998, seiring dengan bertambahnya televisi swasta lain, makin kencang pula tayangan keagamaan yang dipadukan dengan iklan dan gaya hidup materialis. Saat serbuan arus pasar global tambah deras, watak keagamaan pun bersentuhan dengan arus konsumsi.

Apa mau dikata, jika dulu Ramadhan identik dengan laku asketis, hidup sederhana, kini Ramadhan lekat dengan kemeriahan pasar. Marhaban, ya Ramadhan... (budi suwarna/susi ivvaty)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/14/01260882/selamat.datang.ya.pasar.ramadhan...

Menguak "Rahasia Sunnah" (Tayangan Ramadhan)

DOK TRANS TV / Kompas Images
Adegan Rahasia Sunnah.

Budi Suwarna

Di tengah serbuan program komedi dan sinetron, Trans TV menayangkan Rahasia Sunnah selama Ramadan tahun ini. Program yang mengombinasikan perjalanan dan liputan itu mencoba menelusuri kebenaran Al Quran dan Hadis dari kaca mata ilmiah.

Pada salah satu episode, Rahasia Sunnah, misalnya, membahas Surat An-Nahl Ayat ke-69. Dalam ayat itu antara lain disebutkan, madu lebah adalah obat yang bisa menyembuhkan manusia. Mengapa Al Quran mengatakan hal itu?

Kru Rahasia Sunnah mencoba menelusuri alasan di balik ayat tersebut. Pertama-tama mereka meliput sebuah peternakan lebah di Cibubur yang merupakan perbatasan antara Jakarta Timur, Depok, dan Bogor. Melalui liputan tersebut, penonton diajak untuk mengetahui bagaimana madu dihasilkan.

Setelah itu, kru Rahasia Sunnah mendatangi peneliti yang meneliti kandungan madu di sebuah laboratorium. Dari penelitian itu diketahui bahwa madu ternyata mengandung gula sederhana yang baik dicerna tubuh, memiliki penetral racun, dan antibiotik.

Rahasia Sunnah juga sempat membahas larangan menikahi perempuan sepersusuan sebagaimana disebutkan Surat An-Nisa Ayat 23. Mengapa? Ternyata berdasarkan penelitian, air susu ibu (ASI) selain mengandung hormon pertumbuhan dan antibodi juga mengandung RNA/DNA. Nah, RNA/DNA ibu akan diturunkan kepada anak-anak yang disusuinya. Karena itu, perkawinan antarsaudara sepersusuan tak ubahnya dengan perkawinan incest.

Pertanyaan

Program ini sebenarnya diproduksi oleh Trans 7, tetapi ditayangkan di Trans TV yang merupakan "saudara tuanya" sejak awal Ramadhan, 1 September hingga akhir Ramadhan kelak. Program ini diputar pada jam tayang strategis selama Ramadhan, yakni sekitar 10-15 menit sebelum waktu berbuka.

Produser News Trans 7 yang memproduksi Rahasia Sunnah, Ronny Suyanto, Rabu (10/9), mengatakan, program ini dibuat karena banyak orang ingin tahu penjelasan ilmiah atas ayat-ayat Al Quran atau Hadis Nabi.

"Orang sekarang makin bersikap kritis, termasuk dalam beragama. Nah, melalui program ini kami mencoba mencarikan jawaban logis atas pertanyaan umat," ujar Ronny.

Meski demikian, lanjut Ronny, sebagai sebuah show, Rahasia Sunnah dibuat dalam kemasan menghibur. Itu sebabnya Ronny memilih Dave Andrew Collin Smith alias Wahyu Soeparno Putro, seorang Muslim warga negara Australia kelahiran Skotlandia yang fasih berbahasa Indonesia.

"Wahyu sengaja kami pilih karena dia bule. Biasanya penonton senang dengan bule. Selain itu, biasanya orang Barat terbiasa berpikir logis," ujarnya.

Wahyu memang menjadi salah satu kekuatan dalam acara ini. Karakternya yang agak kocak dan aksen bicaranya yang kebarat-baratan memang cukup menarik. Kelemahan acara ini justru pada penelusuran ilmiahnya yang merupakan jualan utama Rahasia Sunnah.

Anda jangan berpikir bahwa penelusuran itu dilakukan seserius program-program setipe di televisi National Geographic yang bisa berlangsung berbulan-bulan. Penelusuran ilmiah Rahasia Sunnah dilakukan sambil lalu, kadang hanya meminjam mulut para pakar.

Ronny mengatakan, Rahasia Sunnah memang tidak ditujukan untuk menjadi program yang memaparkan hasil penelitian dengan sangat serius, melainkan program yang menghibur.

"Penelitian yang serius tidak mungkin kami lakukan karena waktu produksi kami hanya sekitar empat hari untuk satu episode. Padahal, ini program kejar tayang," ujarnya.

Karena penelusuran ilmiah baru sebatas bungkus, program ini memang belum bisa menghilangkan rasa dahaga pemirsa yang ingin mengetahui lebih banyak rahasia di balik Al Quran atau Hadis. Meski demikian, acara ini cukup informatif dan memberikan pendidikan singkat bagi pemirsa. Setidaknya jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan kebanyakan sinetron dan kuis yang dangkal.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/14/0148142/menguak.rahasia.sunnah

802 Acara TV Bermasalah Tayang di Bulan Ramadan

Jumat, 12/09/2008 22:33 WIB 
Didit Tri Kertapati - detikNews
Jakarta - Depkominfo bekerjasama dengan MUI dan KPI melakukan pemantauan terhadap tayangan televisi selama 10 hari pertama bulan Ramadan 1429 H. Hasilnya, sebanyak 802 acara bermasalah ditayangkan oleh stasiun televisi di Indonesia.

"Tujuan pemantauan melihat tayangan tv apakah masih menampilkan adegan yang tidak sesuai dengan spirit Ramadan 1429 H," ujar tenaga ahli monitoring televisi Badan Informasi Publik (BIP) Depkominfo Teguh Imawan di Gedung Depkominfo, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (12/9/2008).

Teguh memaparkan waktu pemantauan dilakukan dari tanggal 1-8 september 2008. Pemantauan dilakukan pada acara yang ditayangkan pada saat sahur dan pada saat berbuka puasa. Menurut teguh, seluruh tipe program ada pada saat dilakukan monitoring.

Teguh menambahkan bahwa aspek yang dipantau meliputi kekerasan fisik, kekerasan psikis, mistik-horor, dan porno-cabul.

"Dalam pemantauan yang dilakukan ditemukan 802 adegan kekerasan, mistik, porno dan cabul," sebut teguh.

Teguh kemudian merinci 802 adegan tersebut yaitu 59,4 persen berisikan adegan kekerasan psikis, 23,7 persen berisikan adegan kekerasan fisik, 12 persen berisi adegan cabul dan 5 persen berisi adegan mistis.

Selain itu, pemantauan juga dilakukan terhadap acara komedi dan kuis. Terhadap dua tipe program acara tersebut terdapat hal-hal yang dianggap tidak baik dikonsumsi oleh masyarakat.

"Selain belum kompatible dengan spirit suci Ramadan, banyaknya acara komedi dan kuis menggiring penonton menuju kultur mencela dan konsumtif," kritik teguh.

Adapun urutan televisi yang menanyangkan adegan-adegan tersebut pada program acara Ramadan-nya adalah: Indosiar (18,5 persen), ANTV (15,8 persen), TRANS TV (12 persen), TPI (11,7 persen), TRANS7 (10,8 persen), Global tv (9,4 persen), TV One (7,4 persen), RCTI (5,6 persen), TVRI (5 persen), SCTV (3,2 persen), Metro TV (0,6 persen).(ddt/irw)
http://www.detiknews.com/read/2008/09/12/223315/1005394/10/802-acara-tv-bermasalah-tayang-di-bulan-ramadan

12 September 2008

Bintang Sinetron "Para Pencari Tuhan 2" - Berbagi dengan Anak Yatim

Para pemeran sinetron "Para Pencari Tuhan" 2 (PPT2) berbuka puasa dengan puluhan anak yatim dari Yayasan Al Hanafiah, di Bekasi, Kamis (11/9) sore.

[JAKARTA] Di bawah pohon mangga rindang di halaman Musala At-Taufiq, Jl Koja 1, Kampung Kebantenan, Jatiasih, Bekasi, Jabar, Kamis (11/9) sore, terjadi interaksi terbuka dan menyegarkan antara para personel sinetron Para Pencari Tuhan Jilid 2 (PPT2) dengan puluhan anak yatim dari Yayasan Al Hanafiah, Pedurenan, Bekasi.

Pemeran utama sekaligus produser PPT2, Deddy Mizwar, para personel PPT2 seperti trio pelawak Bajaj (Melky, Aden, dan Isa), Zaskia Adya Mecca, Tora Sudiro, Agus Kuncoro, Asrul Dahlan, Annisa Suci Wulandari, mau tidak mau harus menjawab secara terbuka pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan sejumlah anak yatim.

Dipandu oleh Bajaj, suasananya menjadi sangat akrab dam penuh keceriaan karena diselingi dengan banyolan-banyolan yang segar dan sedikit konyol. Misalnya saja saat ada seorang anak yatim yang menanyakan kepada trio Bajaj, mengapa mereka menggunakan nama Bajaj.

Isa yang didaulat menjawab pertanyaan itu menjelaskan, sebenarnya mereka ingin menggunakan nama Dewa 19, tetapi sudah ada. Kemudian mau memakai nama Nidji, juga begitu.

"Nama terakhir yang kami inginkan untuk grup lawak kami adalah Deddy Mizwar. Tetapi, ternyata nama itu juga sudah ada," ujar Isa sambil melirik Deddy Mizwar yang duduk di sebelahnya. Deddy pun tertawa mendengar kelakar itu.

Isa menambahkan, nama Bajaj diambil karena ketika masih kuliah mereka yang tidak terpisahkan atau selalu bertiga ke mana pun berada, diejek oleh teman-temannya seperti roda Bajaj. Akhirnya, ketika mengikuti kontes pelawak, mereka pun memakai nama Bajaj sebagai grupnya.

Selain itu, ada juga pertanyaan yang menguak pribadi Tora Sudiro, yaitu ketika seorang anak perempuan yatim ingin tahu mengenai kesan Tora bermain sinetron religi seperti PPT2 ini.

Tora yang dalam sinetron itu berperan sebagai Baha, seorang pelaut yang gemar mabuk dan tubuhnya dipenuhi tato, berterus terang sebenarnya dia memang belum pernah nonton sinetron ini.

"Ini merupakan sinetron atau film religi pertama yang saya mainkan. Terus terang, setelah membaca naskah, saya bisa langsung menilai bahwa kata-katanya sangat bagus dan menyentuh sekali. Semoga dengan terlibat dalam sinetron ini, ada pencerahan dalam diri saya, khususnya dalam menjalankan ibadah," kata dia.

Rating Tinggi

Acara bersama anak yatim itu dijelaskan Deddy Mizwar merupakan syukuran atas sukses PPT2, baik dari segi kualitas (manfaat untuk masyarakat banyak) maupun kuantitas (jumlah pemirsanya).

"Kami patut bersyukur dan berbagi kepada anak-anak yatim dan sebagian warga yang ada di daerah yang menjadi tempat syuting kami, karena sinetron PPT2 menjadi salah satu tontonan yang bermanfaat yang ternyata banyak digemari oleh masyarakat Indonesia. PPT2 ini punya nilai ibadah baik untuk yang nonton maupun para pemainnya," ujar Deddy Mizwar yang terpaksa menghentikan syuting PPT2 untuk tayangan episode ke-15 dari 30 episode yang direncanakan.

Berdasarkan hasil riset AGB Nielsen, PPT2 yang ditayangkan SCTV setiap hari di bulan suci Ramadan mulai pukul 03.00 hingga 05.00 WIB dan tayang ulang sore harinya pukul 18.00 - 19.00 WIB, berhasil menduduki posisi teratas untuk tayangan program sahur pada periode minggu pertama Ramadan (1-6 September). Menurut angka rata-rata yang dikeluarkan AGB Nielsen, PPT2 mencapai angka rata-rata 24,9 persen.

Sementara itu, menurut Budi Darmawan, Senior Manajaer Humas SCTV, sejak awal penayangannya, PPT2 langsung mampu menyita perhatian pemirsa televisi di saat sahur.

"Kesuksesan PPT tahun lalu tentunya menjadi fondasi penting dalam mendongkrak PPT2 dari hari pertama tayang. Secara pasti, rating PPT2 bergerak positif dengan perolehan nilai tertinggi menurut AGB Nielsen, yakni mencapai 29,5 persen pada tanggal 5 September lalu," kata dia. [F-4]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/09/12/index.html

MUI: Banyak Kuis Judi pada Tayangan Ramadhan

JAKARTA--Majelis Ulama Indonesia (MUI) memprihatinkan banyaknya acara kuis yang cenderung merupakan judi pada tayangan Ramadhan di berbagai stasiun TV swasta.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Komisi Infokom MUI Said Budairy didampingi oleh Wakil Ketua KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) Pusat Fetty Fajriati Miftach, Kepala BIP (Badan Informasi Publik) Suprawoto, Sekretaris Umum MUI Ichwan Syam dan Tenaga Ahli Monitoring Televisi Depkominfo Teguh Imawan dalam jumpa pers pengumuman hasil pemantuan tayangan ramadhan 10 hari pertama di kantor Depkominfo Jakarta, Jumat.

"Hampir semua stasiun TV menayangkan kuis dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak berbobot yang cenderung menganggap bodoh pemirsa," kata Said.

Dia menjelaskan kuis-kuis tersebut ada yang cenderung menjadi arena perjudian.

"Kuis yang pesertanya bisa ikut dengan cara mengirim SMS yang tarif biaya SMS-nya dinaikkan tinggi dari yang standar, pemenangnya ditetapkan berdasarkan hasil acak no ponsel kuis, sedangkan hadiahnya diambilkan dari sebagian dana yang dibayarkan peserta tadi, maka MUI mengkategorikannya sebagai judi," jelas Said.

Dia mengatakan sebenarnya secara umum sudah ada upaya perbaikan program tayangan Ramadhan dibanding tahun-tahun sebelumnya

Komisi Infokom MUI bekerjasama dengan KPI Pusat dan BIP melakukan pemantauan program TV pada minggu pertama Ramadhan 1429 H yang mengacu pada UU tentang Penyiaran Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 SPS).

Sedangkan Tenaga Ahli Monitoring Televisi Depkominfo Teguh Imawan mengatakan pemantauan dilakukan pada waktu berbuka yaitu pukul 17.00 - 19.00 dan waktu sahur pukul 03.00 - 05.00 tiap harinya karena pada waktu tersebut tayangan yang paling banyak ditonton oleh masyarakat.

Pemantauan dilakukan pada semua TV swasta nasional yang berjumlah 11 dan dilakukan pada semua jenis tayangan pada dua masa tersebut dengan empat aspek yang dilihat yaitu kekerasan fisik, kekerasan psikis, mistik horor dan porno cabul mesum.

Dari hasil pemantauan MUI-KPI-Depkominfo, kata Teguh, terdapat 802 adegan yang tidak sesuai dengan semangat bulan suci Ramadhan yang bisa dirinci 114 adegan per hari atau 10 adegan per stasiun TV per hari atau 2 -3 adegan per jam per stasiun TV per harinya.

Keseluruhan adegan yang tak sesuai bulan Ramadhan itu ada pada tayangan di seluruh stasiun televisi termasuk TVRI yang terdiri dari 54 persen (476 adegan) merupakan kekerasan fisik, 24 persen (190 adegan) merupakan kekerasan psikis, 12 persen merupakan adegan cabul dan 5 persen adegan mistik.

Lima stasiun teratas yang memuat adegan tak pantas dalam Ramadhan yaitu Indosiar (148 adegan), Anteve (127 adegan), TransTV (96 adegan), TPI (92 adegan) dan Trans7 (87 adegan).

Sementara itu Wakil Ketua KPI Pusat Fetty Fajriati Miftach mengatakan hasil pemantauan bulan Ramadhan ini hanya bersifat "Media Literacy" dan belum sampai ke "Media Policy", yang berarti KPI hanya memperingatkan kepada stasiun TV dan tidak bisa memberi sanksi.

Dalam kesempatan tersebut MUI merekomendasikan tayangan yang sesuai dengan semangat bulan suci Ramadhan yaitu sinetron Para Pencari Tuhan dengan bintang utama Dedy Mizwar karena banyak mengajarkan nilai-nilai agama.

"Sinetron Para Pencari Tuhan itu bagus sekali, mencerahkan, mendidik tanpa orang bisa menggurui," tambah Said. antara/pt
http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/19/news_id/2807

Tayangan Ramadan di TV Tidak Bermutu - MUI Beri Rapor Merah

JAKARTA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau pengelola televisi agar mengurangi tayangan yang mengumbar gender identity disorder alias kebanci-bancian dan kuis yang tidak bermutu. Sebab, konten acara tersebut kian kerap muncul di masa prime time bulan Ramadan, yakni menjelang buka dan sahur.

''Walaupun secara umum sudah banyak perbaikan, tapi menurut saya, rapornya masih merah,'' ujar Ketua Komisi Informasi Komunikasi MUI Said Budairy dalam Forum Evaluasi Acara Televisi Delapan Hari Awal Ramadan yang diselenggarakan di kantor Depkominfo, Jakarta, kemarin (12/9).

Sepanjang awal Ramadan, MUI mencatat sejumlah tayangan yang patut diperingatkan. Sebab, tayangan tersebut tidak menampilkan konten yang sesuai dengan UU Kepenyiaran, Pedoman Perilaku Penyiaran (P3), dan Standar Program Siaran (SPS)-KPI. Di antaranya, Empat Mata Sahur (Trans7), Saur Prise!!!(RCTI), Assalamualaikum Cinta (RCTI), dan Sahur Cagur (Global TV). ''Namun, saya memberikan apresiasi kepada tayangan sinetron Para Pencari Tuhan di SCTV yang cukup mewakili acara dengan tema Islam,'' ujar Said.

Dia mengatakan, secara umum ada upaya perbaikan program tayangan Ramadan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Tapi, hampir semua stasiun TV menampilkan kuis-kuis dengan pertanyaan yang kurang berbobot dan membuat bodoh masyarakat. Bahkan, menjadi sarana perjudian. Dikatakan berjudi karena pesertanya bisa ikut kuis dengan mengirimkan SMS yang tarifnya sangat tinggi. ''Dan pemenangnya diambil dari nomor acak peserta kuis serta pemenangnya mendapat hadiah dari sebagian dana yang dibayarkan peserta tadi,'' ujarnya.

Data tersebut, menurut Said, didasarkan pada pemantauan pada 1-8 September 2008 selama waktu sahur yakni 03.00-05.00 WIB dan berbuka puasa 17.00-19.00 WIB. ''Karena dua waktu itu penontonnya paling banyak. Berdasar data AC Nielsen pada 2007, saat berbuka, pemirsanya naik 35 persen dan sahur naik 12 kali lipat dari hari biasa. Sedangkan saat sahur pemirsa anak naik 22 kali,'' beber dia.

Tak hanya siaran televisi yang menjadi perhatian. MUI juga mengadukan sejumlah majalah yang mengandung unsur pornografi ke Dewan Pers. Pada salinan surat sebanyak tiga lembar yang dilayangkan MUI ke Dewan Pers, dinyatakan majalah-majalah tersebut beredar luas dan dijual bebas di jalanan, kios koran, dan toko buku. Dengan begitu, siapa pun dapat dengan mudah membeli atau membacanya.

Menurut MUI, majalah tersebut telah menyebarkan pencabulan seperti majalah Playboy. ''Karena itu, kami mengimbau agar ada tindakan dari Dewan Pers,'' ujar Said. Majalah-majalah yang diadukan adalah Barbuk, X2, Maxim, Oke Magazine, ME Asia, Cosmopolitan, Fenomena Exo, FHM Indonesia, dan Popular. MUI berharap agar Dewan Pers menggunakan kewenangannya untuk segera membahas dan mengambil keputusan terhadap pengaduan tersebut. ''Karena MUI juga tidak menginginkan reaksi yang anarkis terjadi di tengah masyarakat kita,'' pungkasnya. (zul/oki)

http://www.jawapos.com/ Sabtu, 13 September 2008

Kuis-kuis pada Program Ramadhan Dinilai Judi

JAKARTA, KOMPAS - Majelis Ulama Indonesia atau MUI menilai program-program Ramadhan di hampir seluruh stasiun televisi swasta nasional yang memberikan kuis berhadiah adalah kategori judi. Apalagi pertanyaan-pertanyaan di kuis itu tidak berbobot dan cenderung menganggap bodoh pemirsa.

Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia HM Said Budairy mengemukakan hal itu, Jumat (12/9) di Jakarta, ketika memaparkan hasil pemantauan selama sepekan pertama Ramadhan terhadap program siaran televisi Ramadhan 1429 H. "Pemantauan MUI mengacu pada Undang-Undang tentang Penyiaran, Pedoman Perilaku Penyiaran, dan Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia, serta harapan umat yang disampaikan kepada MUI khususnya untuk siaran Ramadhan," katanya.

Bersamaan dengan itu, Komisi Penyiaran Indonesia juga mengemukakan hasil pemantauannya terhadap 802 adegan dari sejumlah program televisi, yang 59 persen di antara adegan itu berupa kekerasan psikis, lainnya kekerasan fisik, dan merendahkan martabat manusia.

Said Budairy menjelaskan, MUI mengategorikan kuis sebagai judi karena kuis yang pesertanya bisa ikut dengan cara mengirim >small 2<sms>small 0< (pesan singkat) yang tarif biaya >small 2<sms>small 0<-nya dinaikkan tinggi dari yang standar, pemenangnya ditetapkan berdasarkan hasil acak nomor telepon seluler (HP) peserta kuis. Sedangkan hadiahnya diambilkan dari sebagian dana yang dibayarkan peserta tadi.

MUI memuji sinetron Para Pencari Tuhan Jilid 2 (SCTV), yang memberikan tuntunan kepada pemirsa tentang berbagai hal yang berangkat dari bersikap dan berperilaku Islami dalam kehidupan sehar-hari. (NAL)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/13/00511461/kuis-kuis.pada.program.ramadhan.dinilai.judi

06 September 2008

Parade Iklan Waktu Sahur (Tayangan Ramadhan)

TRANS TV/ WENDY W / Kompas Images
Acara Saatnya Kita Sahur (SKS)


Budi Suwarna

Apa yang sebenarnya bisa kita tonton dari acara televisi saat waktu sahur? Kuis, sinetron, komedi, atau bujuk rayu iklan yang tiada putusnya?

Program sahur di televisi yang berlangsung sekitar pukul 03.00 hingga 05.00 WIB memang menawarkan berbagai tontonan. Tetapi, kalau kita perhatikan, sebagian acara itu sepenuhnya didedikasikan untuk pemasang iklan, bukan pemirsa di rumah.

Tengoklah acara Saursurprise di RCTI yang menampilkan antara lain Eko Patrio, Parto, Indra Bekti, dan Jojon. Sepanjang acara yang menggabungkan antara kuis dan sketsa komedi tersebut iklan tak pernah putus.

Latar belakang panggung juga seluruhnya ditutup dengan iklan operator seluler. Dengan begitu, pemirsa dipaksa untuk melihat iklan tersebut. Ketika kuis berlangsung, penelepon harus menyebutkan kata kunci yang isinya slogan produk pemasang iklan. Di luar itu masih ada deretan produk yang mengisi ruang iklan di sela acara.

Hal yang sama bisa kita temukan dalam acara Saatnya Kita Sahur (Trans TV) yang didukung Adul, Komeng, dan Olga; Empat Mata Sahur (Trans7) yang didukung Tukul dan Irfan Hakim; serta sinekuis Para Pencari Tuhan (PPT) Jilid 2 (SCTV) yang dibintangi Deddy Mizwar dan grup lawak Bajaj.

Pada PPT Jilid 2, iklan bahkan masuk dalam adegan. Pada episode 5 September, misalnya, ada adegan Pak RT berkali-kali bersendawa. Melihat itu seorang pengurus RT langsung menawarkan jamu tolak angin. Kamera kemudian meng-close up merek jamu tolak angin itu.

Episode sebelumnya ada adegan Azam (Agus Kuncoro) sedang memperbaiki mobil. Di dekat mesin ada sekaleng oli. Kamera kemudian meng-close up merek oli itu. Iklan build in macam ini tampak terlalu vulgar. Berbeda dengan iklan produk mobil di film-film James Bond yang memasukkan produk secara wajar sebagai bagian dari cerita.

Kuis yang didukung sponsor dan diletakkan di sela-sela sinetron semakin menegaskan dominasi iklan pada PPT Jilid 2. Akibat dominannya iklan, PPT Jilid 2 jadi kehilangan gereget. Pesan moral yang disampaikan dalam sinetron itu tenggelam oleh pesan-pesan iklan yang menganjurkan konsumsi sebanyak-banyaknya.

Mendulang iklan

Humas SCTV Budi Darmawan mengatakan, banyaknya iklan pada program sahur tidak bisa dihindari. Bagi stasiun televisi, sahur adalah saat tepat mendulang iklan. "Biasanya pukul 03.00-05.00 disebut jam tayang mati karena jarang iklan. Tetapi, pada bulan puasa jam ini justru jadi jam tayang utama," kata dia.

Untuk program PPT Jilid 2, lanjut Budi, semua ruang iklan sudah terjual. Tarifnya sekitar Rp 18 juta per 30 detik. Sinetron itu diminati pemirsa karena ceritanya menarik dan jenisnya berbeda dari sinetron lain. Untuk minggu pertama, audience share PPT Jilid 2 di atas 20 persen. Artinya, PPT Jilid 2 ditonton 20 persen dari pemirsa yang menonton televisi pada jam tayang itu.

Kepala Departemen Marketing PR Trans TV Hadiansyah mengatakan, program sahur bisa memberi tambahan pemasukan iklan hingga 16 persen dibandingkan dengan bulan-bulan lain meski sangat bergantung pada acara yang ditawarkan.

Hadiansyah bersyukur acara Saatnya Kita Sahur mendapat respons bagus dari penonton. Audience share-nya rata-rata mencapai 25,7 persen pada minggu pertama ini.

Dalam bisnis televisi, eksploitasi acara untuk mendulang iklan merupakan hal wajar. Sayangnya, pengelola televisi kadang tidak mengimbanginya dengan membuat acara lebih kreatif. Acara yang muncul tahun ini nyaris tak ada bedanya dengan tahun lalu.

Kuisnya pun masih saja menganggap pemirsa bodoh. Contohnya, Indra Bekti menyodorkan pertanyaan, "Apa yang sedang dilakukan Jojon?"

Jojon lantas memperagakan gerakan orang sedang menyuap makanan.

"Jawabannya: A. Jojon sedang makan di bulan Ramadhan. B. Jojon sedang memberi makan burung."

Kalau merasa cukup cerdas untuk menjawab pertanyaan macam itu, Anda bisa mencoba ikut kuis tersebut. Lumayan, hadiahnya Rp 1,5 juta.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/07/01401134/parade.iklan.waktu.sahur

Televisi: Ramadhan dan Rezeki Artis

dok CITRA SINEMA / Kompas Images
Grup Bajaj, dari kiri Isa, Melky, dan Aden, melambung pamornya berkat sinetron Para Pencari Tuhan.

Susi Ivvaty

Momen apa saat ini yang bisa "dijual" ke dalam bisnis hiburan? Jawabannya gamblang, Ramadhan. Dari bisnis yang disokong iklan "bejibun" ini, para artis pun menangguk rezeki.

Politik, ekonomi, bahkan agama kini tak lepas dari unsur entertainment. Setidaknya sejak lima tahun lalu, seperti dikatakan Michael J Wolf, kita berada di wilayah yang ia sebut sebagai entertainment zone.

"Locally, globally, internationally, we are living in an entertainment economy." (The Entertainment Economy: How Mega-Media Forces are Transforming Our Lives, 2003).

Mari cermati bagaimana stasiun televisi "beradu" program Ramadhan guna meraih rating dan audience share tinggi. Program sebisa mungkin ditonton oleh sebanyak-banyaknya pemirsa. Cara paling cespleng adalah menayangkan program hiburan. Pesan Ramadhan disampaikan lewat sketsa komedi, kuis yang dibawakan pembawa acara dengan kocak, musik religi, dan sinetron religi. Apakah pesan itu tersampaikan atau tidak, itu soal lain.

Artis, yang adalah barisan terdepan sebuah tontonan, menjadi mesin penggerak industri hiburan. Hampir semua stasiun televisi mempunyai semacam "ikon" Ramadhan. Khususnya saat sahur dan berbuka puasa, layar kaca ditaburi artis, mulai Eko Patrio hingga Titi Kamal, dari Adul dan Komeng sampai Laudya Chyntia Bella.

RCTI, misalnya, menayangkan sinetron Aqsa dan Madina dengan bintang utama Marshanda. SinemArt sebagai rumah produksi sinetron itu sejak empat tahun terakhir memilih Marshanda sebagai "ikon".

Tiga tahun sebelumnya, Marshanda berakting dalam sinetron Anak Cucu Adam. Karena sambutannya luar biasa, SinemArt kembali memasang Marshanda di sinetron Adam dan Hawa (2006) dan Sholeha (2007).

"Tahun ini kami memilih Marshanda lagi karena penggemarnya masih sangat banyak. Jam tayangnya pun pas, pukul 18.00. Pemirsa bisa berbuka puasa sambil menonton Marshanda," tutur Abdul Aziz, Manajer Humas SinemArt. Ia mengimbuhkan, Aqsa dan Madina berulang-ulang memegang rating tertinggi harian untuk kategori sinetron.

Indosiar tahun ini memutar sinetron Tasbih Cinta produksi MD Entertainment dengan pemeran utama Laudya Chyntia Bella. Ada pula sinetron Muslimah produksi Soraya Intercine dengan bintang Titi Kamal.

Untuk bisa meyakinkan pengiklan, stasiun televisi harus mampu menunjukkan keunggulan sebuah program. Para pengiklan biasanya akan menanyakan nama artis pengisi acara, kalau tidak terkenal mereka biasanya menarik diri. Stasiun televisi kemudian akan menunjukkan keunggulan lain.

"Titi Kamal baru pertama kali bermain sinetron religi, tetapi justru itu menjadi daya tarik. Apalagi, skenarionya kuat," kata Corporate Secretary Indosiar Andreas Ambesa.

Yang terjadi, tayangan saat berbuka puasa menjadi seragam, parade sinetron. Tren program buka puasa, ya sinetron, yang mau tak mau harus diikuti. "Kalau kami tiba-tiba memutar acara lain, siapa yang menonton. Iklan tak akan masuk," kata Andreas.

Rezeki artis

Soal rezeki Ramadhan, mari tanyakan Eko Patrio, yang 11 tahun terakhir selalu mengisi acara Ramadhan. Tahun ini ia tampil di empat stasiun televisi, mengisi acara Kolak Ramadan (Trans7), Sahurprise (RCTI), Sambil Buka Yuk (antv), dan Dewa-Dewi Special Ramadan (TPI).

Pada jam tayang sama, pukul lima sore, wajah Eko bisa disaksikan bersamaan di Trans7 dan antv. Khusus di dua stasiun ini, Eko bersama Comando Production miliknya mengurus produksi hingga tayang.

Berapa sebenarnya pendapatan Eko dari Ramadhan? Ia menyebut angka Rp 50 juta-Rp 100 juta per episode (sekali tayang) untuk biaya produksi yang dibayarkan stasiun televisi kepada Comando Production. Dana itu, selain untuk membayar pengisi acara, juga untuk honor kru dan bintang tamu. Adapun untuk penampilannya di RCTI dan TPI, ia dibayar sebagai pemain karena produksi diurus stasiun televisi.

"Ya lumayanlah buat membeli susu anak satu kontainer," sahut Eko.

Grup lawak Bajaj, dengan awak Isa, Melky, dan Aden, mendapat limpahan rezeki Ramadhan yang istimewa, tidak hanya materi, tetapi juga popularitas yang menanjak. Ramadhan tahun lalu Bajaj memulai berkiprah di jagat sinetron lewat Para Pencari Tuhan yang diproduseri aktor kawakan Deddy Mizwar. Tahun ini, mereka kembali muncul dalam Para Pencari Tuhan 2.

Isa menyebut angka Rp 20 juta-Rp 40 juta per episode untuk honor Bajaj. Dibagi tiga? "Karena kami selalu bertiga, honor ya dibagi tiga," sahut Isa. Di luar Ramadhan, Bajaj biasanya mengisi acara off air sebagai pemandu acara.

Nama Irfan Hakim sejak lima tahun lalu akrab dengan acara Ramadhan. Tahun ini ia mengisi Empat Mata Sahur Seru (Trans7), Sambil Buka Yuk (antv), dan memandu kuis (Trans7). "Alhamdulillah, ada saja rezeki," ujarnya.

Titi Kamal untuk pertama kali ambil bagian dalam sinetron religi dan ia gembira menerima tawaran. "Aku baru pertama ini berkerudung di sinetron," ujar Titi yang enggan menyebut honor.

Mengenai honor untuk artis-artis kondang, seperti Nirina dan Marshanda, Abdul Aziz menyebut nominal Rp 40 juta-Rp 75 juta per episode. "Honor itu bukannya mahal, tetapi pantas buat artis tertentu," ujarnya.

Dunia panggung

Bagaimana dengan dunia panggung? Ramadhan ini panggung pun meriah. Berbagai konser dihelat, baik ditayangkan televisi maupun tidak. Hampir semuanya bertemakan religi, seperti konser "The Spirit of Ramadan" yang akan digelar Selasa (9/9).

Grup band seperti GIGI dan Ungu pun laris manis. Baru beberapa hari Ramadhan, Ungu sudah manggung sedikitnya tiga kali, sedangkan GIGI sedang bersiap tur di 16 kota.

Tatang Suherman, promotor gelaran konser "The Spirit of Ramadan", berujar, biaya produksi lebih dari empat miliar rupiah sudah ditutup oleh pihak sponsor karena hasil dari penjualan tiket akan disumbangkan 100 persen ke berbagai lembaga. Bagi Tatang, menyampaikan pesan agama lewat hiburan menjadi terasa cair dan tidak menggurui.

Penyair Taufiq Ismail, yang akan membaca puisi di konser ini, berpendapat, hiburan adalah media yang tepat untuk menyampaikan pesan.

"Kalau puisi saya dimuat koran atau majalah, yang membaca paling-paling ribuan atau puluhan ribu orang. Namun, kalau puisi saya dilagukan, yang mendengar bisa berjuta-juta orang," ujarnya.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/07/01521687/ramadhan.dan.rezeki.artis

05 September 2008

Konser Ramadan - Musik Bersama Dakwah

Ahmad Dhani tampil bersama Dewi-Dewi dalam Konser Ramadan di Parkir Timur Senayan, Jakarta, Kamis (4/9) malam.

[JAKARTA] Stasiun Surya Citra Televisi (SCTV) mengawali bulan suci ini dengan membawa pesan religi lewat musik "Konser Ramadan". Sebagai grup band pembuka, Ungu yang menjadi band paling Ngetop versi pemirsa pada saat ajang SCTV Music Award 2008, langsung mengebrak penonton dengan lagu religi andalannya, Para Pencarimu.

Band yang diusung Pasha (vokal), Makki (bas), Rowman (dram), serta Endah dan Onci (gitar) langsung mendapat sambutan yang meriah dari para penggemarnya. Penonton terlihat sangat antusias dengan gaya panggung yang dibawakan oleh Pasha, dan mereka turut bernyanyi bersama-sama dengan Ungu.

Setelah lagu pertama selesai, penonton meminta lagu berikutnya, sambil berteriak "lagi, lagi...". Maka, tanpa berlama-lama, Ungu pun menyanyikan lagu keduanya Dengan Nafasmu. Lanjut, Ungu pun membawakan lagu lainnya seperti Andai Ku Tahu, Syukur, Sesungguhnya, Cahayamu, dan Hidup Hanya Sementara.

"Mari awali bulan puasa ini, dengan kedamaian melalui Musik Spesial Ramadan SCTV, yang dibawakan oleh band-band ngetop. Ada Ungu, Afgan, Dewa, Gigi, Dewi-Dewi, Mulan Jameela, dan Andra and The Backbone," ujar duet Teungku Wisnu (Aktor Ngetop) dan Andhara Early (Presenter Ngetop) SCTV, di Jakarta, Kamis (4/9) malam, yang memandu Konser Ramadhan dengan kompak dan saling mengisi.

Pengisi acara berikutnya, penyanyi muda Afgan. Ia membawakan lagu religinya Kepadamu Ku Bersujud. Namun, hal itu tidak mendapatkan respons dari para penonton yang memenuhi Parkir Timur Senayan, Jakarta. Penonton terlihat diam saja, ketika Afgan bernyanyi.

"Mungkin karena ini adalah lagu religi yang pertama kali saya bawakan dan belum banyak yang mengetahuinya," tegasnya.

Tetapi, ketika saat membawakan tembang andalannya Terima Kasih Cinta, penonton ikut hanyut dalam nada-nada yang dibawakan oleh Afgan. Lagu tersebut memang sudah akrab di telinga penonton dan sudah merambah ke belantika musik Indonesia.

Tidak kalah dengan penyanyi band lainnya, Dewa 19 turut memanaskan suasana di panggung, dengan membawakan tembang pilihannya Persembahan Dari Surga. Pentolan Dewa 19, Ahmad Dhani dan Once, membius para penonton dengan aksinya. Terlebih saat membawakan lagu Laskar Cinta, perpaduan dari Dewa 19, Dewi-Dewi, dan Mulan Jameela yang membuat aksi mereka semakin menggila dan hidup.

Penonton pun semakin semangat dan berjingkrak-jingkrak kesenangan dengan hiburan lagu yang ditawarkan. Begitu juga dengan tembang lainnya, Kuldesak dan Jika Surga dan Neraka.

Berganti-gantian

Sementara itu, agar suasana menjadi lebih hidup, pihak SCTV membuat urutan band secara acak. Setiap grup band hanya membawakan satu lagu, setelah itu berganti dengan grup band lainnya yang menyanyikan satu lagu juga. Hal itu dilakukan, agar penonton tidak cepat bosan dan membuat rasa penasaran, sehingga mengikuti Konser Ramadan itu sampai selesai.

Di lain pihak, Andra dan The Backbone berusaha menghibur penonton dengan lagu balada ciptaan mereka. Andra Ramadhan sebagai gitaris, Dedi Lisan pada vokal, dan Stevi Item yang menjadi gitaris band itu, menawarkan lagu Sempurna dan Main Hati.

Tidak mau kalah dengan band yang lainnya, kelompok musik pop alternatif Gigi, langsung menghibur para fansnya yang sudah menunggu. Grup band dimotori oleh Armand Maulana (vokal), Dewa Budjana (gitar), Thomas Ramadhan (bas), dan Gusti Hendy (dram) menyanyikan lagu religinya yang penuh pesan, seperti Rinduku Cintaku, Jalan Kebenaran dan terakhir yang menjadi penutup konser Dengan Menyebut Nama Allah. [HDS/U-5]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/09/05/index.html

04 September 2008

Kuis di Tayangan Program Ramadan

Berbagai tayangan televisi swasta berlomba membuat program tayangan Ramadan di setiap waktu, mulai waktu buka hingga sahur. Memang, itu hak mereka. Semacam mutualisme, kita menikmati, mereka juga untung.

Sayang, banyak tayangan yang cenderung penuh humor dan lawak. Tayangan tersebut sama sekali tidak mencerminkan sifat suci Ramadan. Bahkan, biasanya, di tengah-tengah acara disisipkan kuis-kuis berhadiah. Padahal, banyak yang mengatakan bahwa kuis semacam itu merupakan perjudian halus.Jika memang demikian, mengapa pemerintah hanya mengobrak-obrak praktik perjudian yang konkret? Sedangkan perjudian kasat mata seperti itu dibiarkan membiak? Jadi, kita tak ubahnya melecehkan bulan suci ini.

Untuk berhati-hati, alangkah baiknya pemerintah meluruskan acara-acara tersebut. Tujuannya meminimalkan jika memang itu sebuah perjudian. Hal tersebut dilakukan demi menjaga kesucian bulan yang penuh berkah ini. Jangan sampai berkah Ramadan yang seharusnya dinikmati semua umat muslim hanya dinikmati sebagian orang. Miqdam Musawwa, MA YPRU Guyangan, Trangkil, Pati [ Jawa Pos, Kamis, 04 September 2008 ]

31 Agustus 2008

Stasiun Televisi Berlomba Manfaatkan Ramadan

Minggu, 31 Agustus 2008 | 09:27 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kolak mulai menjamur saat Ramadan tiba. Meski kuahnya sama-sama cokelat dan manis, isi kolak beragam. Ada biji salak, ubi, singkong, pisang, atau kolangkaling.

Seperti kolak, acara televisi pun digarap dengan begitu beragam. Tak hanya sinetron beraroma religi, tapi juga talk show Ramadan, kuis, atau lawak pengisi sahur dan berbuka puasa, serta upaya mengubah komedi situasi menjadi alim.

Itulah pernak-pernik setahun sekali di layar gelas. Ada yang bikin terobosan baru, ada juga yang masih pakai konsep lama dengan alasan mempertahankan rating tahun lalu.

Tariklah stasiun televisi ANTV sebagai contoh pertama. Lima tayangan komedi dimunculkan sekaligus. Kelimanya adalah Sambil Buka Yuk (17.00-18.30 WIB), Pasrah (18.30-19.00 WIB), Bajaj Bajuri (19.00-20.00 WIB), Cagur Naik Bajaj (20.00-21.00 WIB), dan Tawa Sutra XL (21.00-22.00 WIB).

Tak cuma komedi, tayangan bercita rasa Islami pun dihadirkan. Misalnya saja Ramadhannya Farhan (16.30-17.00 WIB), Jazirah Nabi (04.00-04.30 WIB), dan lini pemberitaan bertema Ramadan dalam Topik Pagi, Siang, Petang, dan Malam. "ANTV memang sengaja menghadirkan tayangan beragam, biar pemirsa tidak bosan," ujar Reva Deddy Utama, Kepala Produksi ANTV.

Komedi memang sering dianggap sebagai tayangan yang menjual. "Apalagi kalau rating-nya bagus, pasti dipertahankan," ujar Reva. Untuk Ramadan kali ini, Reva mengaku akan membalutnya lebih alim.

Sementara ANTV menyajikan kolak aneka rasa, Trans TV memilih stok lama biar aman. Saatnya Kita Sahur, Suami-suami Takut Istri (SSTI), dan Sketsa Ramadhan masih dijagokan. "Meski stok lama, kemasannya jelas beda," ujar Aris Ananda, Kepala Departemen Perencanaan dan Penjadwalan Trans TV.

Trans memang berjanji membuat sitcom lebih alim. SSTI, misalnya, harus menghilangkan tokoh Mang Dadang, si satpam tukang ngobyek. "Mang Dadang akan diganti dengan Ki Daus," ujar Anjasmara, produser SSTI.

Sementara dua stasiun televisi ini minim opera sabun, SCTV tampil dengan deretan sinetron unggulan. STCV punya Zahra (18.00-19.30 WIB), Annisa (16.30-18.00 WIB), Para Pencari Tuhan 2 (13.00-14.30 WIB), Rinduku CintaMu (22.30-23.30 WIB), dan Kurma (13.00-14.30 WIB). SCTV juga menghadirkan siaran langsung Konser Ramadhan di empat kota. "Inilah tayangan yang paling kondusif menemani pemirsa puasa," ujar Budi Darmawan, Senior Manager Hubungan Masyarakat SCTV.

Pengamat televisi Arswendo Atmowiloto menilai acara televisi hanya mementingkan iklan. "Televisi nggak peduli, asal laku dipasang iklan saja," ujarnya. Menurut dia, televisi tidak peduli apakah tayangan bisa membuat pemirsa jadi lebih khusyuk beribadah atau tidak. "Karena memang televisi cuma mau cari duit saja," ujarnya.

Arswendo mengklaim, tipe acara yang cocok untuk Ramadan adalah dari segi isi tayangannya tetap Islami, meski diputar di luar Ramadan. "Seperti sinetron Kiamat Sudah Dekat dan Kultum-nya Alwi Shihab, yang bisa tetap dinikmati sepanjang bulan," katanya.

AGUSLIA HIDAYAH

http://www.tempointeraktif.com/hg/panggung/2008/08/31/brk,20080831-133015,id.html

30 Agustus 2008

Puasa, Bulan Rezeki Pelawak

Dua grup lawak, Bajaj dan Cagur, termasuk dua kelompok sukses meski kiprahnya belum terbilang lama. Khusus di bulan Ramadan, kesuksesan mereka meningkat berkali-kali lipat.

Sudah seperti tradisi, stasiun televisi (TV) di bulan Ramadan memang gemar menampilkan acara komedi. "Imbasnya ke kami. Alhamdulillah, setiap bulan puasa memang sibuk," kata Isa Wahyu Prastantyo, ditemani dua personel Bajaj lain, Aden dan Melky, saat ditemui di Senayan City belum lama ini.

Di bulan puasa, lanjut Isa, personel Bajaj bekerja sebulan penuh. Di luar itu, rata-rata Bajaj hanya menerima sekitar tiga tawaran kerja dalam sebulan. Itu pun acara off air alias bukan acara TV.

Untuk tayangan Ramadan, acara yang mereka bintangi selalu program religi. Akibatnya, Bajaj jadi identik sebagai bintang religius. Hal itu, menurut Isa, bukan masalah. "Lagian, nggak 100 persen religi. (Peran, Red) kami kan cowok-cowok yang baru belajar Islam. Sudah dapat pekerjaan saja kami senang dan bersyukur karena napas (Bajaj) tambah panjang," jelasnya.

Setidaknya, tambah Aden, dengan membintangi banyak program religi, mereka bisa belajar tambahan tentang agama. "Walaupun sedikit, ada ke arah kebaikan," tuturnya.

Toh, lanjut Aden, penggemar tidak kehilangan karakter Bajaj sesungguhnya. Sebab, mereka selalu mencoba tampil lucu ketika harus melucu.

Seperti tahun sebelumnya, pada Ramadan tahun ini, Bajaj tampil di serial religi komedi Para Pencari Tuhan 2 di SCTV. Mereka juga bermain bersama Cagur dalam sitkom Cagur Naik Bajaj di Antv.

Sama halnya dengan Bajaj, di bulan puasa Cagur juga ketiban banyak rezeki. Seperti apa perbandingannya, Narji sulit menjelaskan. "Pokoknya berlipat-lipat," ucap Narji saat ditemui di Restoran Sindang Reret Kamis lalu (28/8).

Beberapa stasiun TV, terang Narji, sempat menawarkan kontrak eksklusif agar tidak bermain di stasiun TV yang lain. Tapi, pihaknya selalu menolak. "Kami kerja profesional, tapi bisa ikut ke mana-mana. Namanya juga kerja," ujarnya. Jawa Pos 30/8/2008

Obral Komedi di Bulan Ramadhan

DOK INDOSIAR / Kompas Images
Selain tayangan komedi, Ramadhan juga bertaburan sinetron, salah satunya Tasbih Cinta di Indosiar, dengan bintang Laudya Chintya Bella.
Minggu, 31 Agustus 2008 | 03:00 WIB

Budi Suwarna

Seperti Ramadhan sebelumnya, sejumlah stasiun televisi tahun ini masih mengobral tontonan berbau komedi sejak dini hari (sahur) hingga malam hari. Apakah orang yang berpuasa memang butuh tertawa sepanjang hari?

Layaknya sebuah tradisi, stasiun televisi di Indonesia berlomba-lomba menawarkan berbagai acara spesial sepanjang bulan Ramadhan hingga Lebaran nanti. Jumlah acara yang ditawarkan kepada pemirsa sangat banyak. Sayangnya, acara-acara yang dibuat umumnya seragam.

Di waktu sahur, misalnya, hampir semua televisi menayangkan lawak yang cenderung slapstick atau konyol. Lawakan semacam itu biasanya diikuti kuis interaktif dengan pemirsa dan diselipi ceramah agama selama dua atau tiga menit sekadar menegaskan bahwa program itu acara Ramadhan.

Di siang dan malam hari, televisi dipenuhi tayangan sinetron religi yang ceritanya sama dangkalnya dengan sinetron di bulan lain. Adegan yang muncul pun sama naifnya dengan sinetron biasa, yakni selalu ada tokoh yang jahatnya minta ampun dan tokoh yang sabarnya minta ampun.

Mungkin hanya sinetron Para Pencari Tuhan yang cerita dan pengadegannya logis dan wajar sepanjang Ramadhan tahun lalu. Sinetron itu dibintangi grup lawak Bajaj, Deddy Mizwar, Zaskia Mecca, dan Agus Kuncoro.

Bagaimana acara Ramadhan tahun ini di televisi? Mari kita tengok. ANTV tahun ini benar- benar ingin mengajak pemirsa tertawa terus selama lima jam tanpa henti, dari pukul 17.00 hingga 22.00. Stasiun tersebut antara lain menawarkan program komedi Sambil Buka Yuk, Pas Ramadhan Dapat Berkah (Pasrah), Bajaj Bajuri, Cagur Naik Bajaj, dan Tawa Sutra XL.

"Dengan komedi kami ingin menghadirkan keceriaan selama Ramadhan," ujar Publicity Manager ANTV Mila Lubis.

Trans7 menyodorkan Empat Mata Sahur Seru yang merupakan kemasan lain dari Empat Mata. Acara yang akan ditayangkan dari Senin hingga Minggu sejak 1 September ini diasuh Tukul Arwana, Ruben Onsu, Irfan Hakim, dan Deswita Maharani. TV ini juga menyodorkan Komedi Lawak dan Musik Spesial Ramadhan.

Trans TV antara lain menjual Saatnya Kita Sahur yang dbintangi pelawak Komeng, Adul, Tessy, Kiwil, dan sejumlah artis, seperi Desy Ratnasari dan Olga Syahputra.

SCTV cenderung menjual sinetron sejak sahur hingga menjelang dini hari. Tahun ini, SCTV masih mengandalkan sinetron Para Pencari Tuhan. Tahun ini sinetron itu dibuatkan sekuelnya dengan judul Para Pencari Tuhan 2.

"Tahun lalu, sinetron garapan Deddy Mizwar ini sukses luar biasa. Harapan kami, sekuel kedua akan lebih digemari," ujar Budi Darmawan, Senior Manager Public Relations SCTV, pekan lalu.

Di luar itu, SCTV menjual empat sinetron lainnya, yakni Zahra, Annisa, Rinduku CintaMu, dan Kumpulan Cerita Ramadhan.

Indosiar juga menjual sederet sinetron seperti Tasbih Cinta, Jihan, Syarifah, dan Muslimah. Ada yang ditayangkan pada jam sahur dan malam hari. Selain itu, Indosiar menjual acara variety show dan kuis.

Tentu saja, stasiun-stasiun televisi di atas juga menayangkan acara-acara berbau rohani, mulai ceramah agama hingga tablig akbar. Namun, porsinya lebih sedikit dibanding sinetron, komedi, kuis, dan variety show.

Dari sekian televisi, tampaknya MetroTV yang memilih menyajikan acara Ramadhan dengan kemasan "lebih serius", seperti talk show Hikmah Ramadhan, Tafsir Al Misbah, Ensiklopedi Islam, Sukses Syariah, dan lain-lain.

Dibanding tahun-tahun sebelumnya, bisa dikatakan hampir tidak ada program Ramadhan tahun ini di televisi yang pendekatannya baru. Pelawak-pelawak yang tampil di acara sahur, misalnya, masih memancing tawa dengan membodoh-bodohkan dirinya atau orang lain. Tampaknya, kreativitas pembuat acara Ramadhan memang mandek di situ.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/08/31/01551530/obral.komedi.di.bulan.ramadhan