Tampilkan postingan dengan label TV BERLANGGANAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TV BERLANGGANAN. Tampilkan semua postingan

08 Oktober 2008

Sudah Diselesaikan Indovision (surat pembaca 09 10 2008)

Menanggapi permasalahan yang dialami oleh Ibu Lioe Beby yang disampaikan lewat Kompas (29/9) "Layanan Indovision Buruk" dapat kami jelaskan, permasalahan yang dialami oleh Ibu Lioe Beby sudah diselesaikan pada tanggal 23 September 2009. Kami selalu siap untuk melayani kebutuhan pelanggan. Arya Mahendra Corporate Secretary PT MNC Sky Vision

17 September 2008

Kelemahan Regulasi TV Berbayar - Komposisi Tayangan Lokal Minim

Kisah nyata mengenai semangat belajar seorang gadis belia yang mengalami penggusuran di bantaran Kali Angke, Jakarta Utara diangkat dalam drama seri berjudul "Kisah Sebening Kasih" produksi "DAAI TV". Sinetron yang diproduseri Garin Nugroho ini menonjolkan cinta kasih di antara sesama manusia tanpa melihat latar belakang. Dok DAAI TV

[JAKARTA] Industri penyiaran Indonesia belum memiliki aturan tegas mengenai isi atau materi siaran. Porsi tayangan lokal dan asing dalam stasiun televisi swasta atau televisi berbayar (Pay TV) tidak jelas. Akibatnya, persaingan tidak sehat mulai berakar dalam industri penyiaran, khususnya di televisi berbayar.

Kelemahan industri penyiaran tersebut diakui oleh Koordinator Bidang Isi Siaran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Yazirwan Uyun dan Corporate Secretary Indovision Arya Mahendra, kepada SP secara terpisah, Senin (16/9). Tidak adanya aturan yang tegas mengenai isi siaran, otomatis membuat televisi berbayar sangat bebas menayangkan siaran dari televisi asing.

"Pemerintah belum membuat peraturan mengenai porsi isi siaran dalam Pay TV ataupun dalam televisi lokal. Sampai saat ini, aturan yang ditetapkan hanya sebatas kepemilikan modal saja. Aturannya, asing bisa memiliki modal 20 persen sementara lokal 80 persen," ujar Yazirwan.

Saat ini, pertumbuhan televisi berbayar di Indonesia kian meningkat. Namun, harus diakui, persaingan tidak sehat juga terjadi antartelevisi berbayar. Siaran eksklusif dari luar negeri menjadi perebutan di antara televisi berbayar. Siapa yang sanggup membayar mahal, otomatis mendapat hak eksklusif untuk menayangkan sebuah program acara.

Sementara itu, KPI justru tidak mampu mengatur masuknya siaran eksklusif di beberapa televisi berbayar. Yazirwan mengakui, KPI dan pemerintah dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informatika, tidak memiliki hak untuk melarang sebuah televisi berbayar membeli siaran eksklusif. Hal tersebut dipandang lumrah dalam persaingan industri penyiaran.

"Sah-sah saja bila Pay TV memiliki siaran eksklusif. Pemerintah tidak bisa campur tangan, karena urusannya business to business. Kami hanya bisa menyarankan, agar perolehan siaran eksklusif dilakukan dengan fair (adil)," kata Yazirwan.

Khusus untuk isi siaran, ia mengatakan, setiap televisi berbayar diwajibkan memasukkan televisi lokal, yakni TVRI. Sementara untuk porsi tayangan lokal dan tayangan asing, pemerintah berencana membuat aturan yang konkrit. Nantinya, isi siaran akan ditentukan sama seperti kepemilikan modal asing dalam sebuah perusahaan.

"Pemerintah baru berniat membuat peraturan untuk Pay TV. Namun, sejauh ini saya belum tahu pembagian mengenai materi siaran lokal dan asing," ujar Yazirwan.

Saat ini, di Indonesia terdapat empat televisi berbayar yang memiliki pasar terbesar, yakni PT Direct Vision (Astro), Indovision, First Media, dan Telkom-vision. Tiap-tiap televisi berbayar berlomba menyajikan siaran eksklusif untuk pelanggannya. Ditambah lagi, harga yang ditawarkan untuk berlangganan cukup terjangkau, sekitar Rp 120.000- Rp 150.000 per bulan.

Secara terpisah, Arya menuturkan siaran eksklusif menjadi daya tarik utama untuk pelanggan. Televisi berbayar yang memberikan banyak siaran eksklusif otomatis diminati pelanggan. Sayangnya, siaran eksklusif justru menjadi alat mematikan bagi industri televisi berbayar. Persaingan tidak sehat tersebut akan berdampak pada siaran lokal. Televisi berbayar otomatis berlomba mencari siaran eksklusif daripada siaran dari televisi lokal.

Contoh kasus dari tidak adanya aturan mengenai isi siaran, yakni permasalahan siaran Liga Inggris yang menimbulkan kontroversi antara Indovision dan Astro. Arya menegaskan, seharusnya pemerintah bisa tegas memberikan aturan apakah siaran olahraga sepak bola tersebut ditayangkan eksklusif atau umum.

Kasus Liga Inggris

"Kasus siaran Liga Inggris yang sempat dimonopoli Direct Vision (Astro) menjadi pelajaran berharga. Kasus tersebut membuktikan Pay TV di Indonesia membutuhkan ketegasan, terkait dengan isi siaran dari pihak Depkominfo, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU)," lontar Arya.

Tidak hanya perdebatan tentang siaran eksklusif, Yazirwan menambahkan, televisi berbayar bisa memberikan tambahan porsi pada tayangan lokal. Sebut saja Indovision yang masih minim menyajikan tayangan lokal.

Program acara di Indovision kebanyakan dari luar, yakni MNC Entertainment, MNC Music, dan MNC News khusus untuk berita asing. Saluran alternatif lainnya, yakni Vision 1 untuk olahraga, Vision 2 untuk drama, dan Vision 3 untuk Baby TV. [EAS/U-5]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/09/17/index.html

13 Agustus 2008

Indosat: Siaran Al Manar Murni Bisnis

Rabu, 13 Agustus 2008 | 20:25 WIB

JAKARTA, RABU - Mendapat teguran dari Amerika Serikat untuk menghentikan siaran televisi Al manar milik jaringan Hizbullah di Lebanon, Indosat menanggapi dengan hati-hati.Perusahaan yang menyewakan transponder satelitnya kepada pengelola televisi tersebut tidak serta-merta memutus kontrak.  

Kepala Humas Indosat, Adita Irawati membenarkan bahwa pihaknya menerima informasi secara lisan dari Kedutaan Amerika di Jakarta. Alasannya, televisi tersebut milih Hizbullah Nah, sayap Hizbullah yang telah dimasukkan sebagai satu dari 35 organisasi teroris di dunia.

"Setelah itu kita berkonsultasi dengan regulator dan KPI untuk minta masukan dan arahan karena kita beroperasi di Indonesia dan tunduk pada regulasi di Indonesia," kata Adita. Dia mengatakan pemerintah melalui Depkominfo dan KPI tidak mempermasalahkan kerjasama bisnis Indosat dengan TV Al Manar dan Indosat bisa melayani TV milik Hizbullah tersebut.

Adita mengatakan Indosat menyewakan transponder Satelit Palapa C selama tiga tahun dari April 2008 sampai April 2011 kepada TV Al Manar. Ia mengatakan TV Al Manar mensewa transponder Satelit Palapa C2 seperti televisi lain. Jangkauan Satelit Palapa C2 sendiri meliputi negara di Asia Tenggara, Cina, Taiwan sampai ke Australia.

"Ini bisnis broadcasting biasa, tidak ada yang istimewa," jelasnya. Selain itu, lanjut Adita siaran TV AL Manar ditangkap dengan menggunakan parabola dan tidak disiarkan melalui siaran berbayar Indosat seperti dilaporkan sebelumnya.

http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/08/13/20252176/indosat.siaran.al.manar.murni.bisnis..

07 Agustus 2008

Penetrasi rendah, pemodal lirik TV berbayar

JAKARTA: Penetrasi pasar industri televisi berbayar yang masih di bawah 2% membuat sejumlah pemodal berminat menanamkan dananya di sektor tersebut, termasuk PT Karyamegah Adijaya yang meluncurkan Aora yang memulai siaran perdana terbatas hari ini.

Karyamegah merupakan perusahaan yang mayoritas 95% sahamnya dimiliki oleh Ongki P Soemarno dan Rini Mariani Soemarno - mantan menteri perdagangan era pemerintahan Megawati Soekar- noputri - lewat PT Arono Internasional.

Ongki, yang juga direktur utama Karyamegah, yakin total dana sekitar Rp450 miliar yang akan diinvestasikan untuk Aora akan impas (break even point/BEP) dalam waktu lima hingga enam tahun mendatang.

Untuk tahap awal, Aora hanya akan mengudara di tujuh, kota yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Balikpapan, Medan, Makassar, dan Bali. TV berbayar itu akan menayangkan beragam pertandingan dalam Olimpiade Beijing yang dibuka hari ini, sebagai sajian perdananya.

"Pada akhir Januari 2009 atau awal Februari 2009, kami akan launch secara komersial. Saat itu, kami akan mengudara dengan di atas 50 channel [kanal]. Saat ini kami memiliki fasilitas 12 channel dan akan mengudara dengan 10 channel," katanya dalam acara peluncuran Paket Perdana Terbatas Olimpiade Beijing 2008, kemarin.

Ongki juga yakin target 50.000 pelanggan hingga akhir tahun ini dan 300.000 pelanggan pada tahun depan akan dapat dicapai.

Rini, yang menjabat sebagai komisaris utama Karyamegah, mengklaim pihaknya telah memasang perangkat penerima siar (decoder) kepada 750 pelanggan baru dari total 1.500 pelanggan yang menyatakan minatnya untuk berlangganan Aora.

Sebelum memutuskan untuk meluncurkan televisi berbayar, Rini mengaku pihaknya sempat berencana untuk terjun ke bisnis televisi swasta terestrial (free TV) di daerah karena pemberian izin untuk televisi swasta nasional baru sudah tertutup.

"Namun, kalau free TV itu kan bergantung pada iklan. Akibatnya, kualitas bisa terabaikan. Dengan televisi berbayar, kami bisa memberikan kualitas program yang bagus. Investasi peralatannya memang lebih besar dibandingkan dengan free TV," ujar Rini.

Izin siaran

Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Sasa Djuarsa Sendjaja, yang dihubungi terpisah, mengatakan penetrasi pasar industri televisi ber- bayar di Indonesia baru akan mencapai 1,8% pada tahun depan.

Hal tersebut membuat banyak pemodal tertarik untuk masuk ke sektor tersebut. Buktinya, jumlah permohonan izin penyiaran untuk televisi berbayar saat ini sudah mencapai 32 permohonan.

"Prospek ke industri ini sangat terbuka lebar, karena kalau dilihat dari jumlah pelanggannya, belum ada 1 juta pelanggan. Peluangnya juga besar karena regulasi penyiarannya tidak seketat televisi swasta," kata Sasa.

Penetrasi pasar televisi berbayar yang masih minim itulah yang membuat Karyamegah yakin Aora akan mampu menggaet pelanggan sesuai dengan target.

"Penetrasi di Indonesia masih rendah diban-dingkan dengan negara lain. Rumah yang memiliki televisi saja baru mencapai 33 juta rumah. Kendala infrastruktur, yakni sam-bungan listrik hingga ke daerah-daerah menjadi salah satu penye- babnya. Ke depan, dengan program peningkatan pasokan listrik, kondisi ini tentu akan berubah," jelas Ongki.

Sasa menambahkan permohonan izin siaran untuk televisi berbayar tidak hanya datang dari pemain baru di industri televisi. Pelaku usaha yang sudah menekuni bisnis televisi swasta juga tertarik untuk masuk ke bisnis tersebut.

Hingga saat ini, sebanyak 14 stasiun televisi telah memiliki izin proses penyiaran (IPP) dan delapan diantaranya sudah mulai tayang (on air), a.l. Indovision, Telkomvision, dan Astro.

"Saya yakin akan ada kenaikan [penetrasi pasar] dua kali lipat, apalagi kalau yang telah mengajukan permohonan ataupun yang telah memperoleh IPP sudah mulai on air," kata Sasa. (maria.benyamin@bisnis.co.id/yeni.simanjuntak@bisnis.co.id)

Oleh Maria Y. Benyamin & Yeni H. Simanjuntak Bisnis Indonesia

http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL30&vnw_lang_id=2&ptopik=A17&cdate=08-AUG-2008&inw_id=618394

30 Juli 2008

Tjandra Wibowo: Idealisme yang Tertanam sejak Kecil

Didit MajaloloTjandra Wibowo

Pada 1991, wajah Tjandra Wibowo (41) mulai menghiasi layar kaca. Di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), tepatnya, sebagai reporter sekaligus produser untuk program spesial. Ia memilih nama panggilan sehari-hari, dari nama panjangnya yang indah, Sutjiati Eka Tjandrasari, dan menambahkan nama ayahnya.

Tjandra belum menyelesaikan pendidikan di Institut Pertanian Bogor (IPB) ketika bekerja di TPI. Alih-alih "nyambi bekerja", ia justru keterusan bekerja, apalagi acap mendapat tugas-tugas penting. Salah satu di antaranya, meliput penerbangan perdana N-250 pada 1995. Gelar sarjana biologi akhirnya berhasil disandang perempuan kelahiran 20 Juni 1967 ini, pada 1991.

Tjandra semakin dikenal ketika tampil sebagai presenter di Surya Cipta Televisi (SCTV). Di stasiun televisi itu, ia merangkap sebagai produser Liputan 6. Pekerjaan itu dilakoninya sampai dengan 2000. Pada 2002, ia menjadi Corporate Secretary PT SCTV, namun masih sempat mengerjakan program Potret, sebuah karya dokumenter.

"Program itu awalnya cuma jadi ending Liputan 6 Siang, tentang keragaman budaya. Lalu, muncul Potret sebelas episode yang ditayangkan setengah jam, secara stripping, menjelang ulang tahun SCTV," katanya.

Film dokumenter rupanya telanjur menjadi obsesinya. Obsesi itu pula yang membuatnya memutuskan keluar dari pekerjaan yang telah memberinya kenyamanan. Ada dorongan yang terus mengusiknya untuk membuat perusahaan sendiri, menelurkan ide-ide yang terus menggelegak dalam dirinya.

Tekad, semangat, gairah, ide, dan idealisme, itu kemudian ia wujudkan dengan mendirikan perusahaan pada 2002, PT Samuan Rumah Kreasi. "Saya mendirikannya bersama dua teman. Modalnya Rp 15 juta, dari menguras tabungan," katanya, dalam suatu perbincangan dengan SP.

Melalui perusahaan itu lahir karya-karya dokumenter lainnya, seperti Anganku, Kampoeng Halaman, Pijar, Satu Jiwa, dan karya-karya profil perusahaan. Program Anganku memotret anak-anak di seluruh penjuru Nusantara dan mimpi-mimpi mereka. Melalui program itu, Tjandra dan timnya meraih Femme Film Award dari Yayasan Jurnal Perempuan untuk kategori Dokumenter Terbaik pada Jiffest, Desember 2004.

Karya dokumenter Kampoeng Halaman, yang ditayangkan RCTI pada 2003, memotret keragaman budaya di Indonesia, berfokus pada interaksi warga dan lingkungannya. "Kekurangan-kurangan saat mengerjakan Potret menjadi bekal berharga saat membuat Kampoeng Halaman. Begitu ditayangkan, rating-nya tinggi. Tidak menyangka, karena itu karya dokumenter. Surprised banget," Tjandra tertawa, mengenang.

Prestasi berikut diraih Tjandra dan timnya melalui Program Pijar, karya dokumenter berdurasi 30 menit yang ditayangkan SCTV pada 2004-2006. Program yang memotret kemiskinan itu dibuat 117 episode bekerja sama dengan Yayasan Pundi Amal SCTV.

Program itu meraih The Asian Television Award untuk kategori Best Social Program, di Singapura, pada 2004. Program yang sama, yang berjudul "Aku Ingin Sekolah", dinominasikan meraih penghargaan dalam ajang festival Film Indonesia 2005 kategori Dokumenter Terbaik.

"Channel" Sendiri

Dari tiga orang, kini 27 orang terlibat dalam rumah produksi yang didirikan Tjandra. Kenyataan itu suatu saat pernah menyentakkannya. "Tiba-tiba saya harus menandatangani sejumlah besar uang untuk gaji karyawan?" istri Imam Sewoko, juru foto kantor berita asing itu, menggambarkan.

Tjandra jujur mengatakan, awalnya ia tidak mempunyai gambaran muluk menjalankan perusahaannya. Karena merasa sebagai pemilik, ia pergi ke kantor kapan saja. Perubahan terjadi ketika ia menggandeng teman kuliahnya. Mulanya hanya untuk merapikan laporan keuangan, namun kemudian merembet ke profesionalisme.

"Sama dengan proses dalam kehidupan, ada masa kanak-kanak, remaja, dewasa, berumah tangga, punya anak. Intinya, memang dari pemimpinnya. Kalau saya tidak bisa mengatur dan mengubah diri saya terlebih dulu, ke bawah pun tidak akan bisa saya lakukan," ujarnya.

Kepada rekan-rekan kerjanya, Tjandra menyatakan tekadnya untuk terus maju. Ia meyakinkan rekan-rekannya bahwa mereka bisa maju bersama. Ketika seorang instruktur dalam suatu pelatihan bertanya tentang impiannya ke depan, Tjandra langsung mengaitkan angannya dengan Discovery Channel atau National Geographic. "Kenapa nggak bikin channel sendiri? Karena kalau suplai ke tempat lain sangat bergantung pada tempat itu," ujarnya.

Tjandra tidak main-main ketika menyatakan keinginannya membangun stasiun televisi sendiri kelak. "Entah channel, atau apalah, yang jelas isinya karya-karya kami. Intinya, adalah perusahaan yang bisa mencerdaskan umat manusia di mana pun melalui karya audiovisual. Judul atau tag-nya mencerdaskan. Walau cuma satu orang pun yang jadi cerdas, tidak apa-apa. Tetapi, ada value pada produk kami," ia menambahkan.

Perusahannya, pada kenyataannya, berjalan baik. Tjandra tak menyembunyikan kegembiraannya ketika menceritakan kemampuannya menyisihkan keuntungan untuk mengirim karyawan dan keluarganya berekreasi tiga hari ke Bali.

Belakangan, Tjandra terjun memproduksi film layar lebar. Bekerja sama dengan adiknya, Satrijo Wibowo, dan iparnya, penulis Rachmania Arunita, ia memproduksi Lost In Love, yang ditayangkan di bioskop-bioskop 22 Mei lalu.

Lomba Karya Ilmiah

Jauh sebelum berkarya di televisi dan kemudian memproduksi film-film dokumenter, Tjandra sebetulnya sudah beberapa kali mencatat prestasi. Pada 1984, ia keluar sebagai juara pertama Lomba Karya Ilmiah Remaja LIPI/TVRI bidang kimia, melalui karyanya, "Kerang sebagai Indikator Pencemaran Lingkungan Perairan Pantai". Ia masih duduk di bangku SMA Regina Pacis, Bogor saat itu, dan aktif dalam kelompok ilmiah remaja.

Biro Pemasyarakatan Iptek Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang memayungi kelompok ilmiah remaja di sekolah-sekolah, acap membuat kegiatan bersama pada waktu itu. Tiga kegiatan besar yang rutin dilaksanakan adalah latihan dasar kepemimpinan, perkemahan ilmiah remaja nasional, dan lomba karya ilmiah.

Bertemu dengan teman-teman dengan hobi sama, dan kesempatan bertemu muka dengan para pakar di LIPI membuka wawasannya. "Mungkin karena dulu nyemplung di kegiatan-kegiatan LIPI itulah yang memberikan andil bagi saya membuat karya-karya dokumenter seperti Potret, Kampoeng Halaman, Anganku, Pijar, dan sebagainya," ujarnya.

Bukan hanya di lingkungan akademik Tjandra berprestasi. Setahun sesudah menang lomba karya itu, ia dinobatkan sebagai Puteri Remaja, ajang pemilihan gadis sampul yang diselenggarakan Majalah Gadis. Ajang itu juga menelurkan nama-nama terkenal seperti Petty Tunjungsari dan Tika Bisono.

"Bapak (almarhum, Red) sangat keras. Walaupun jadi Puteri Remaja, saya menghindari segala macam photo session dan sebagainya, untuk menghindari menjadi terkenal. Bapak tidak suka," kata anak sulung dari dua bersaudara itu, tersenyum.

Walau dilahirkan dari keluarga berada, ayahnya seorang dokter dan ibunya pengajar di perguruan tinggi, Tjandra dan adiknya, Satrijo, dididik dengan keras dan disiplin. "Sampai kuliah nggak pernah dikasih duit. Kalau ingin membeli sesuatu, harus upaya dulu," Tjandra mengibaratkan.

Ketika suatu saat ia menghilangkan kamera temannya, ia mendapat marah ayahnya. "Memang mudah cari uang? Ibarat tukang becak, kalau tidak nggenjot dulu, saya nggak bakal dapat uang," Tjandra menirukan kata-kata bapaknya. Tak mengherankan, ia terbiasa menulis sejak remaja, untuk mendapatkan uang saku.

Pendidikan seperti itu juga mengasah bakat berdagang adiknya. "Ia berdagang kecil-kecilan, seperti kartu nama dan sebagainya, sampai kemudian mampu mendirikan perusahaan sendiri di bidang desain grafis," tutur Tjandra.

Walau dididik dengan keras dan disiplin, Tjandra tidak menyesal. Ia bahkan bersyukur kini bisa menjadi pribadi mandiri. Kedisiplinan dan kehidupan keras yang diterapkan ayahnya benar-benar membekas dalam dirinya. Salah satunya, ia menjadi pribadi yang sangat komit.

"Dari kecil kepada saya ditanamkan nilai-nilai. Nilai kehidupan lebih penting daripada harta warisan, contohnya. Sampai besar dan dewasa seperti ini, saya tidak boleh prejudice, negative thinking, dalam bergaul. Walau dalam kenyataan kita menghadapi ada yang jahat kepada kita, pasti ada sisi baiknya, pasti ada nilai positifnya. Makanya dalam keseharian, walau tidak mendapatkan teman kerja yang terbaik tidak apa-apa, yang penting kerja sama berjalan dengan baik, saya bisa menangani," kata Tjandra, dalam beberapa kesempatan berbeda. [SP/Sotyati]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/07/29/index.html

07 Juli 2008

Televisi "Al Jazeera" dan Revolusi Media Arab

SP/Elly Burhaini Faizal - Lawrence Pintak

Revolusi besar sontak melanda media Arab setelah stasiun Televisi Al Jazeera diluncurkan pada 1996. Riak-riak efek pemunculan Al Jazeera dapat terlihat dari fenomena menjamurnya saluran-saluran satelit Arab yang bebas mengudara dan jumlahnya kini mencapai 300 lebih. Membeludaknya saluran-saluran satelit Arab terjadi di tengah meningkatnya kebebasan bagi jurnalis-jurnalis cetak di seantero kawasan, serta di sela-sela meningkatnya blogger-blogger yang membuka jalan bagi format reportase lebih agresif yang terbilang baru.

"Namun, kebebasan belum sepenuhnya dimiliki oleh jurnalis Arab," ungkap Lawrence Pintak, Direktur Kamal Adham Center for Journalism Training and Research, dalam diskusi "The Al-Jazeera Effect: Media and Political Change" yang diselenggarakan Program Kajian Wilayah Amerika (PKWA) Universitas Indonesia, Kamis (3/7). Di tengah bangkitnya kebebasan pers di Timur Tengah, organisasi-organisasi berita tetap punya "garis merah" seputar subjek-subjek yang terlarang. Misalnya, terkait kebijakan luar negeri bagi Qatar untuk Al Jazeera, rambu-rambu pemberitaan agama dan terorisme di dalam Arab Saudi bagi saluran berita Arab besar lainnya, yakni Al Arabiya, maupun aturan bagi media domestik di kebanyakan negara Arab ketika menyiarkan suksesi politik.

Lawrence Pintak mengungkapkan, sejak awal era pascakolonial di Timur Tengah, media Arab cenderung menjadi "corong" bagi mereka yang berada di kursi kekuasaan. "Bagi para jurnalis, biasanya pemerintah yang menentukan apa yang tidak benar," kata Pintak, yang juga Fulbright Visiting Specialist. Kebenaran masih belum bisa dijadikan patokan, kendati angin kebebasan mulai berembus di kawasan. "Kami punya self censorship sendiri," tutur Pintak menirukan penuturan seorang reporter surat kabar yang berpusat di Uni Emirat Arab, ketika diwawancarai untuk sebuah survei yang dipublikasikannya pada 2008. Menurut Pintak, jurnalis itu mengaku punya alasan untuk bersikap berhati-hati. Pasalnya, ia pernah diseret ke pengadilan tiga kali. Padahal, hanya kisah berita lokal sangat sederhana yang ditulisnya. Tetapi, ia harus diseret ke pengadilan. Semua yang dialami membuat ia lebih santun tidak ubahnya seorang kanak-kanak yang memang seharusnya bersikap santun.

Tidak terbayangkan apa dampak yang harus dipikul jika yang diberitakan adalah berbagai masalah politik, problem-problem politik, maupun berbagai ide tentang terorisme, masalah-masalah militer, atau tentang isu keamanan, yang semua itu tergolong masalah-masalah yang dapat benar-benar menempatkan jurnalis pada kasus-kasus serius. Dampak itu, menurut Pintak, setidaknya dapat ditemukan di penjara-penjara dari Maroko hingga Yaman, serta dalam berbagai kasus pelecehan, pemerasan, dan pembunuhan para jurnalis di seantero kawasan. "Banyak teman jurnalis saya yang dibunuh atau dipenjarakan," ujarnya.

Perubahan

Dalam survei yang dilakukan Pintak, bekerja sama dengan koleganya, Jeremy Ginges, terungkap bahwa media Arab tengah mengalami perubahan. Survei dilakukan untuk mengkaji faktor-faktor yang membentuk pendekatan para jurnalis tersebut terhadap misi jurnalisme Arab di Timur Tengah pascaserangan 11 September 2001. Memang, organisasi-organisasi berita Arab moderen maupun negara Arab moderen dilahirkan dari sisa-sisa Kekaisaran Ottoman. Mengacu sejarahnya, media Arab merupakan kendaraan untuk menyebarluaskan nasionalisme Arab, kebudayaan Arab, maupun bahasa Arab itu sendiri. Tetapi, kesetiaan utama sebagian besar jurnalis-jurnalis Arab ketika itu masih tertuju pada negara bangsa secara individual, dan bukan pada bangsa Arab secara keseluruhan. Selain itu, misi utama mereka adalah untuk mendukung status quo.

Sikap media-media Arab yang semacam itu boleh dibilang sekarang tengah mengalami pergeseran. Dalam survei yang dilakukan Pintak dan Ginges, terungkap bahwa jurnalis-jurnalis Arab pada penghujung abad ke-21 cenderung memandang misi mereka sebagai motor perubahan sosial dan politik di Timur Tengah dan Afrika Utara. Mereka mengidentifikasikan diri lebih dekat dengan kawasan pan-Arab dan dunia Muslim secara lebih meluas, serta tidak lagi sekadar dengan sebuah negara bangsa secara individual.

Media Arab, dapat disimpulkan, kini cenderung melihat reformasi politik, hak asasi manusia (HAM), kemiskinan, serta pendidikan, sebagai isu-isu paling penting yang dihadapi di kawasan. Ketika memproteksi masyarakat Arab, kebudayaan Arab, serta agama di kawasan itu, media Arab juga sudah tidak lagi secara terang-terangan bersikap anti-Amerika.

"Media Arab kini menempatkan diri sebagai agen perubahan," tegas Pintak. Al Jazeera, misalnya, punya tekad mendukung hak perorangan untuk memperoleh informasi serta memperkuat nilai-nilai toleransi, demokrasi, dan respek pada kebebasan serta penegakan HAM.

Mayoritas jurnalis Arab, yang disurvei Pintak dan Ginges, yakin bahwa mendorong reformasi politik adalah prioritas utama. Para jurnalis Arab juga dinilai tengah memainkan peranan untuk mendorong misi perubahan yang sedang bergulir, termasuk menggunakan berita bagi kepentingan sosial serta bertindak sebagai suara bagi kaum miskin. Hal ini di sisi lain juga harus dipahami dalam konteks peran sejarah media berita Arab.

Jika diamati, media di Arab cuma dipakai sebagai alat negara. Berita, atau lebih tepatnya, informasi dan propaganda, dipakai bagi kepentingan "bangsa dan negara", sebuah konsep abstrak yang kerapkali bertabrakan dengan kepentingan umum.

Ketimbang menggunakan berita mereka untuk kepentingan sosial, para jurnalis di Arab dulu kerap bekerja semata-mata untuk mempromosikan "keberhasilan-keberhasilan negara". Media Arab, dalam posisi itu, dipakai sebagai suara pemerintah di sejumlah negara, di mana rakyat kebanyakan, khususnya kaum miskin, tidak punya suara. Tetapi, sekali lagi, kecenderungan semacam itu sudah semakin berubah. [SP/Elly Burhaini Faizal]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/07/07/index.html

17 Juni 2008

TV Berlangganan Bisa Berikan Siaran Berkualitas Pada Publik

Anggota KPI Pusat, Don Bosco Selamun mengemukakan, peluang publik memperoleh informasi berkualitas akan semakin terbuka dengan makin banyaknya bermunculan lembaga penyiaran berlangganan (LPB). Peluang tersebut tentunya makin lebar jika setiap lembaga penyiaran memberikan penawaran harga langganan yang terjangkau.

"Jika harga yang ditawarkan oleh lembaga penyiaran berlangganan ke publik dapat murah, publik akan lebih mudah mendapatkan informasi yang baik," kata Don ketika berlangsungnya evaluasi dengar pendapat (EDP) antara KPI Pusat dengan tiga lembaga penyiaran berlangganan yakni PT Mega Media Indonesia, PT Biznet Multimedia dan PT Publik Akademika Sinergi di Kantor KPI Pusat, Senin (16/6).

Menurut data yang ada di KPI Pusat, sampai saat ini, lembaga penyiaran berlangganan yang sudah melakukan proses permohonan izin penyiaran ke KPI mencapai 31 LPB. Bahkan, beberapa di antaranya sudah mendapatkan izin penyelenggaraan penyiaran (IPP) prinsip dari Negara.

Dalam kesempatan tersebut, Don juga menegaskan, peluang bisnis di bidang penyiaran ini masih terbuka lebar. Menurutnya, lembaga penyiaran berlangganan yang ada sekarang belum banyak menyerap pelanggan yang jumlahnya cukup banyak. "Penyerapan pelanggan dari televisi berbayar ini masih kecil hanya beberapa persen saja," ungkapnya.

Sementara itu, wakil Ketua KPI Pusat, Fetty Fajriati menekankan pada setiap lembaga penyiaran berlangganan membuat self sensorship. Bahkan, menurutnya, sangat penting setiap lembaga penyiaran berlangganan mengharuskan pada setiap pelanggannya mempunyai parental lock dalam upaya mencegah anak-anak menonton tayangan yang tidak pantas untuk mereka.

Pada saat berlangsungnya sesi tanyajawab antara KPI Pusat, narasumber dengan pemohonan izin, ada beberapa pertanyaan yang sama yang ditujukan kepada PT Publik Akademika Sinergi tentang pemakaian nama TV Publik.

Mengenai hal ini, salah direktur TV Publik yang juga pengamat media, Effendi Ghazali memgklarifikasi, bahwa meskipun berbendera swasta, mereka berkeinginan menjadi TV Publik yang menyiarkan program-program soal publik. "TV swasta bisa disebut sebagai TV publik jika menyiarkan siaran-siaran publik, sebaliknya lembaga penyiaran publik bisa tidak sebut TV publik karena tidak menyiarkan siaran publik," jelas salah pengajar di UI ini.

Hadir pula dalam EDP sesi kedua ini Ketua KPI Pusat, Sasa Djuarsa Sedjaja, anggota KPI Pusat lainnya, Amar Ahmad, Bimo Nugroho Sekundatmo dan S. Sinansari ecip. Sementara itu, narasumber yang hadir yakni dari Ditjend Postel, perwakilan masyarakat, Balmon DKI dan akademisi. Red --kpi.go.id 16/06/2008

16 Juni 2008

Top TV Andalkan Program Pendidikan dan Hiburan

[JAKARTA] PT MNC Skyvision (Indovision) meluncurkan produk terbarunya yaitu Top TV. Kehadiran produk siaran televisi berbayar tersebut semakin meramaikan bidang pertelevisian di Indonesia.

Top TV mengandalkan program dunia pendidikan dan hiburan, yang nantinya akan berguna bagi para pelanggan. Tayangan televisi tersebut bersifat informatif dan edukatif bagi keluarga.

Menurut Presiden Direktur PT Skyvision, Rudy Tanoesoedibjo, memaparkan keinginan dari MNC membuat tayangan entertainment dan education, agar bisa dinikmati masyarakat Indonesia. Top TV menawarkan program bervariasi dan lebih terjangkau dari yang sudah ada, dengan harga langganan Rp 85.000 per bulan.

"Top TV terdiri dari 25 channel televisi ditambah dengan 18 channel radio. Channel andalannya ada pada bidang pendidikan yaitu Baby TV, National Geographic dan Nickelodeon. Sementara untuk bidang hiburan, vision 2 berisi teledrama, siap menayangkan telenovela terbaik dari negara Amerika Latin dan Asia. Program vision 1 menayangkan dunia olahraga secara live," tutur sang direktur utama kepada SP, di studio Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) Jakarta, baru-baru ini.

Rudy menjelaskan akan ada penambahan channel seiring dengan penggunaan satelit. "Pada tahun depan PT MNC Skyvision meluncurkan satelit baru, sehingga kapasistas bertambah. Top TV diluncurkan, agar masyarakat punya akses dunia hiburan dan pendidikan yang bermutu. Top TV sudah mempunyai 39 kantor cabang dan perwakilan di seluruh Indonesia." tambahnya.

Untuk memperkenalkan kepada masyarakat, Top TV menggelar program hiburan, dengan mengusung tema "Gemerlap Panggung Top TV" di Jakarta, tadi malam. Acara tersebut dimeriahkan oleh artis-artis ibukota seperti Duo Maia, band Radja, Cagur, Siti dan Lola KDI serta Ella Latah. Peluncuran produk Top TV tersebut dipandu oleh dua MC kocak, yaitu Indra Bekti dan Ulfa Dwiyanti. [HDS/U-5]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/06/16/index.html