Tampilkan postingan dengan label PRESENTER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PRESENTER. Tampilkan semua postingan

12 Oktober 2008

Wartawan Menjadi Caleg

Jakarta, Kompas - Wajar saja wartawan sebagai korps keempat pilar demokrasi tampil sebagai calon anggota legislatif atau caleg karena peran atau profesi apa pun punya peran sosial kemasyarakatan. Yang penting wartawan sebagai caleg tidak semata membawa ambisi politik, tetapi juga membawa tekad untuk membawa perubahan dan kesegaran baru.

Demikian mengemuka dari diskusi bertema "Wartawan Menuju Senayan" yang diselenggarakan National Press Club Indonesia, Jumat (10/10).

Dalam diskusi yang menampilkan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar, Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin, Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, dan wartawati Meutya Hafid ini dikupas fenomena masuknya 100 wartawan yang kini masuk dalam Daftar Calon Sementara untuk Pemilihan Umum 2009.

Mengamati hal itu, Anies Baswedan menyebutkan, di antara para caleg wartawan tersebut memang ada yang dalam posisi lebih diuntungkan satu dibandingkan dengan yang lain. Sebab, bisa saja para caleg wartawan tersebut sudah dikenal namanya dan juga wajahnya. "Ini tentu modal yang lebih kuat, meskipun kelak bila terpilih sebagai anggota legislatif," ujar Anies.

Ketua KPK melihat masuknya wartawan sebagai caleg memberikan harapan munculnya perubahan, khususnya di dalam upaya pemberantasan korupsi.

Meutya Hafid yang dicalonkan Partai Golkar untuk daerah pemilihan Sumut mengatakan, dia tidak bisa berjanji untuk bisa mengubah semua hal yang diharapkan oleh masyarakat sekarang ini. (nin)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/13/00244042/wartawan.menjadi.caleg

10 Oktober 2008

Presenter MetroTV Meutya Hafid Pamitan, Maju Jadi Calon Legislatif

Presenter dan reporter televisi terkenal Meutya Hafid
/

Wartawati dan presenter Metro TV Meutya Hafid (30) di Jakarta, Jumat (10/10) malam, berpamitan pada kalangan wartawan untuk maju sebagai calon anggota legislatif (Caleg) pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2009.

"Saya untuk sementara non-aktif dari kewartawanan," kata Meutya yang menjadi Caleg nomor urut dua dari Partai Golkar pada daerah pemilihan Sumatera Utara I tersebut.

Meutya mengaku menjadi politisi bukanlah cita-citanya, namun setelah melalui perenungan dan diskusi dengan berbagai pihak akhirnya ia memutuskan menerima tawaran dari partai berlambang beringin tersebut.

Ia membantah hanya latah atau ikut-ikutan terjun ke politik. Ia menyatakan memiliki idealisme serta visi dan misi yang jelas jika terpilih menjadi wakil rakyat.

Meutya mengaku banyak yang bertanya mengapa ia memilih bergabung dengan Partai Golkar, bukan partai yang lain. Menurut Meutya, Golkar adalah partai besar yang demokratis dan tidak bergantung pada kelompok tertentu.

"Golkar ini sosok partai sehat dan demokratis, juga memberi kesempatan luas pada kalangan muda," kata reporter yang pernah disandera oleh pejuang Mujahidin Irak (Jaish al Mujahideen) selama 168 jam (15-22 Februari 2005) ketika sedang melaksanakan tugas jurnalistiknya itu. MBK Sumber : Antara

http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/10/10/22472081/meutia.hafid.pamitan.maju.jadi.calon.legislatif.

29 Agustus 2008

Presenter MetroTV Meutia Hafidz Akan Nonaktif Sebagai Jurnalis

TEMPO Interaktif, Kamis, 28 Agustus 2008: Meutia Hafidz, jurnalis Metro TV, akan menonaktifkan diri dari dunia jurnalistik jika terpilih sebagai legislator. Ini dilakukannya demi menghormati kode etik jurnalistik.

"Saya akan nonaktif dari Metro TV. Bahkan saat KPU akan mengumumkan daftar caleg sementaranya pun, saya sudah akan nonaktif. Ini masalah kepatutan untuk menghormati kode etik," kata Meutia sat dihubungi, Kamis (28/8), di Jakarta.

Adapun mengenai proses pencalonan dirinya oleh Partai Golongan Karya sebagai calon anggota legislatif dari Daerah Pemilihan (dapil) Sumatera Utara I, Meutia mengaku belum bisa berbicara banyak.

"Semuanya kan masih proses. Saya belum bisa bicara. KPU juga masih melakukan verifikasi," kata wartawan perang yang pernah ditawan di Irak ini.

Meutia Hafidz saat ini dicalonkan oleh Partai Golongan Karya sebagai anggota legislatif DPR RI dengan nomor urut 2. Dirinya diproyeksikan menjadi wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (dapil) Provinsi Sumatera Utara I. Daerah ini meliputi Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Kota Tebing Tinggi.  TM. Dhani Iqbal

http://www.tempointeraktif.com/hg/gosip/2008/08/28/brk,20080828-132691,id.html

02 Agustus 2008

Sonia Wibisono & Kanker

Mulai Agustus ini adalah hari-hari sibuk bagi dokter Sonia Wibisono (31). Rabu (6/8) nanti, misalnya, ia menyelenggarakan talkshow tentang pencegahan kanker serviks dengan vaksin terbaru di Hotel Mulia, Jakarta. Acara hasil kerja sama dengan Yayasan Kanker Indonesia dan Wanita Indonesia Tanpa Tembakau ini berjudul "All for Love".

"Kanker serviks itu kanker pembunuh nomor satu bagi wanita di dunia, termasuk Indonesia; nomor dua, kanker payudara. Karena kanker belum ada obatnya, sebaiknya dicegah selagi bisa," katanya.

"Ibu saya meninggal karena kanker payudara, tante saya kena kanker ovarium. Karena itu, saya peduli pada perlindungan wanita sejak anak, remaja, sampai dewasa dari kanker kandungan, serviks, maupun payudara."

Bersamaan dengan talkshow itu, diselenggarakan pula fashion show Iwan Tirta dan Vera Abi-Ina Thomas. "Uangnya akan disumbangkan untuk Yayasan Asma, Yayasan Kanker Indonesia, dan Wanita Indonesia Tanpa Tembakau," tuturnya.

Ia lalu bercerita tentang kegiatannya yang lain di bulan Agustus, di antaranya membuat website tentang pelayanan kesehatan, menggarap buku amal bersama teman-teman, seperti Wulan Guritno dan Sandra Dewi.

"Isinya kisah-kisah pribadi, true story, yang inspiratif dan antistres," kata Sonia yang tengah menyusun konsep untuk membuka klinik wanita ini. (VIK)

http://cetak.kompas.com/namaperistiwa 02 08 2008

27 Juli 2008

VJ MTV Candice Anggunadinata: Aku Ini "Full of Life"

Mau tahu, bagaimana prototipe kawula muda zaman sekarang? Coba kita tengok sosok Candice Anggunadinata (22), seorang guest video jockey Music Television alias MTV. Gadis ini bisa mewakili apa yang sekarang kerap disebut sebagai "anak gaul".

Candice biasa tampil membawakan acara "MTV Ampuh" dan "MTV Total Request". Di dua acara itu, dara berwajah bulat-manis ini memandu informasi 20 tangga lagu Indonesia teratas serta melayani permintaan lagu dari pemirsa. Biasanya, dia muncul ditemani VJ lain serta bareng musisi atau satu grup band.

"Aku baru dua bulan jadi video jockey (VJ). Tapi, aku merasa, jiwanya aku banget. Ini seru, fun, gila," katanya.

Memang, menjadi pemandu acara musik di televisi cocok dengan pembawaan gadis ini. Dia selalu ceria, suka ngomong ceplas-ceplos, dan rada ngocol. Semua itu membuatnya leluasa berkomunikasi kepada pemirsa muda yang kerap disebut "anak-anak nongkrong", seperti terlihat saat dia memandu acara MTV Total Request, Jumat (25/7) sore lalu.

"Penampilan itu bermula dari hati. Kalau bisa membuat mood hati nyaman, kita enak saja bawa acara apa pun," katanya.

Mood yang baik itu juga terasa ketika kami ngobrol di sebuah kafe di Plaza Senayan, Rabu (23/7) sore lalu. Selain enak dan asyik, berbincang lama dengan gadis ini mungkin bisa membuat kita sedikit terkaget-kaget dengan cara pandangnya yang begitu ringan dalam memaknai segala sesuatu.

"Sebenarnya aku lebih suka 'haha hihi' daripada mikir," katanya seraya tertawa. Sore itu, Candice tampak segar dengan setelan tank-top merah marun yang dipadu dengan baju bermotif India dengan potongan leher v-neck. Rambutnya dicat coklat muda. Jam tangan merah yang lebih mirip gelang di tangan kiri memberi aksen yang dinamis.

Sebagai VJ MTV, Candice tentu akrab dengan dinamika musik di Indonesia dan mancanegara. Tren mode terus diikuti demi mendukung penampilan di depan publik. Selain piawai bercuap-cuap di depan layar kaca, dia juga aktif berbicara dalam beberapa bahasa asing.

"Menyajikan musik bagi pemirsa itu seperti tersenyum kepada banyak orang. Kalau kita senyum kepada semua orang, maka orang lain juga akan tersenyum kepada kita," paparnya.

Mencoba

Perjalanan Candice hingga menjadi guest VJ MTV bisa menggambarkan bagaimana anak muda ini selalu bersemangat mencoba hal-hal baru. Tahun 2002, perempuan ini masih menjajal jadi co-host program "DJ Kamu" di Radio Prambors, Jakarta. Setelah sempat jadi public relations di sebuah restoran dan klub dansa, dia lantas jadi co-host acara "Metro Kampus" di Metro TV, Jakarta.

Kesempatan itu juga memberinya celah untuk magang jadi public relations di Metro TV. Itu juga tak lama karena dia tertantang saat ditawari casting jadi penyiar cuaca berbahasa Inggris dalam program "Indonesia This Morning". Ternyata, dia diterima dan akhirnya muncul di televisi setiap hari, dari Senin sampai Jumat.

"Jadi penyiar acara cuaca itu menyenangkan, walaupun aku harus bangun jam 03.30 dan masuk kantor jam 04.00. Bayangkan saja, aku sudah bangun dan bersiap siaran saat banyak orang masih tidur pulas," katanya.

Setelah menekuni pembawa acara cuaca sekitar 1,5 tahun, Candice mencoba tantangan baru dengan masuk casting DJ MTV. Kini, dia menjadi salah satu guest VJ di televisi musik yang digemari anak-anak muda itu.

Meski dia menikmati kerja sekarang, Candice merasa, menjadi VJ hanya satu stasiun yang akan mengantarnya menuju stasiun-stasiun berikutnya. Suatu saat nanti, begitu cita-citanya, dia bakal jadi presenter di salah satu stasiun televisi internasional, katakanlah seperti MTV Asia, V-Channel, atau televisi olahraga ESPN.

"Aku ingin buktikan, anak muda Indonesia juga bisa menembus kancah internasional," katanya dengan bersemangat.

Mencoba

Namun, menjadi presenter di televisi internasional juga bukan tujuan akhir. Baginya, perjalanan hidup masih panjang, dan dia tak akan berhenti pada satu pencapaian saja. "Aku masih pengen mencoba hal-hal baru dan menantang," katanya.

Memang, punya mimpi apa lagi, Candice? "Salah satunya, nanti aku ingin punya sekolah atau yayasan yang mendidik anak-anak sesuai bakatnya. Pendidikan kita sekarang terlalu mendikte. Saya ingin mendorong anak-anak menemukan karakter, potensi, dan bakat dalam dirinya sendiri, kemudian membantu mereka mengembangkan potensi itu sampai jadi."

Candice belum tahu persis, bagaimana cara mewujudkan impian itu. Namun, dia yakin, jika dirancang sungguh-sungguh, semuanya akan tercapai pada suatu waktu nanti. "Impossible means i'm possible. Aku selalu punya energi untuk menjajal semuanya dan mewujudkan keinginanku. Aku ini full of life, penuh dengan daya hidup."

Apa sih arti hidup itu bagimu?

"Hidup itu seperti kita menyetir mobil dalam kegelapan. Kita punya tujuan, tapi hanya bisa melihat apa yang tersorot lampu mobil saja. Kita harus selalu siap menerima kejutan yang muncul, tapi tetap fokus pada tujuan awal."

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/27/01582760/aku.ini.full.of.life


"Dicuekin" Orang Perancis
Bagi Candice Anggunadinata, menguasai bahasa asing adalah syarat utama untuk mencapai cita-cita berkecimpung dalam institusi internasional. Untuk itu, sudah lama dia mempersiapkan diri dengan mempelajari bahasa Inggris, Perancis, dan Jepang. Belakangan, dia tengah menambah satu bahasa lagi, yaitu bahasa Mandarin.

Candice menguasai bahasa Inggris sejak kecil. Kebetulan, ayahnya selalu berbahasa Inggris di rumah. Meski bisa berbahasa Indonesia, ibunya juga sering menggunakan bahasa Inggris saat bersama keluarga.

Bahasa Perancis dan Jepang dipelajari sejak belajar di Gandhi Memorial International School, Jakarta—sekolah internasional setingkat SMP. Kemahiran bercakap dan menulis dua bahasa itu diasah lagi saat dia melanjutkan studi di Overseas Family International School, Singapura.

"Bahasa asing mengantar kita pada pergaulan internasional. Bahasa itu harta karun yang sangat berharga, dan orang lain tidak bakal bisa mencurinya," katanya.

Bagaimana pentingnya bahasa, Candice punya cerita unik. Saat masih kecil, dia pernah diajak jalan-jalan oleh orangtuanya ke Paris. Dia menyapa seorang Perancis dengan bahasa Inggris. Ternyata, orang itu enggan menjawab.

"Saya sakit hati dicuekin begitu. Rupanya, orang lebih senang disapa dengan bahasa ibunya. Setelah itu, saya serius belajar bahasa Perancis sampai lancar," katanya.

Kemampuan berbahasa itu kini terbukti sangat bermanfaat bagi profesi sebagai presenter di televisi. Setidaknya, dia selalu siap ketika harus mewawancarai narasumber asing. "Di luar kerjaan, bahasa asing itu sudah jadi hobi. Dengan senang hati, saya masih sempatkan untuk mengajar privat bahasa," katanya.

Selain hobi berbahasa asing, Candice juga senang belajar tari salsa, vokal, dan main gitar. Eh, gadis berkulit putih ini juga belajar boxing alias tinju lho.

Apakah tinju itu juga dalam rangka menyiapkan diri dalam pergaulan internasional? Candice menukas, "Itu untuk olahraga dan bela diri dong! He-he-he...." (iam)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/27/01573910/dicuekin.orang.perancis

Generasi Muda Tionghoa Kini Banyak Terjun di Dunia Jurnalistik

Chaterine Keng, presenter Metro Xinwen di Metro TV
/
Catharine Keng sudah delapan tahun menjadi presenter Metro Xinwen, acara TV yang dibawakan dalam bahasa Mandarin. "Ketika kali pertama aku mendaftarkan diri menjadi pembawa acara dalam bahasa Mandarin, aku masih kurang percaya. Benar enggak sih ada TV yang menyiarkan acara dalam bahasa Mandarin," cerita Chaterine Keng dalam percakapan dengan Kompas di sebuah kafe di kawasan Senayan, Selasa (22/7) malam.

Pertanyaan Catharine saat itu wajar. Selama 32 tahun Indonesia dikuasai rezim Soeharto, bahasa Mandarin tak boleh tampil di depan publik. Namun, pada tahun 2000, Metro TV milik pengusaha Surya Paloh ini mencatat sejarah pertelevisian di Indonesia. Metro Xinwen menghadirkan berira-berita yang dibawakan dalam bahasa Mandarin.

"Waktu itu kandidatnya tidak banyak. Belum banyak orang Indonesia yang bisa berbahasa Mandarin. Situasi ini berbeda dengan situasi saat ini di mana sekarang kursus bahasa Mandarin menjamur dan jumlah orang Indonesia yang menguasai bahasa ini makin bertambah," ungkap Catharine.

Setelah Metro Xinwen hadir, banyak orang Tionghoa di Indonesia, terutama yang sudah lanjut usia, menanggapi positif. "Saat itu tidak penting apakah cara pengucapannya salah dan apa isinya, tetapi yang penting ada generasi muda Tionghoa yang dapat berbahasa Mandarin. Tanggapan positif tidak hanya dari kalangan Tionghoa, tetapi juga masyarakat Indonesia umumnya. Ini menunjukkan orang Tionghoa sudah bagian integral dalam masyarakat Indonesia," kata sarjana Universitas Katolik Atmajaya Jakarta ini.

Catharine berpendapat, saat ini makin banyak orang muda Tionghoa yang tertarik terjun dalam dunia jurnalistik. Banyak lamaran dari anak-anak muda Tionghoa Indonesia. "Jika pada masa lalu banyak orang Tionghoa memilih terjun ke dunia usaha, itu karena hanya dunia itulah yang terbuka dimasuki. Tetapi, reformasi politik di Indonesia mengubah semuanya," kata anak kedua dari empat bersaudara ini.

Catharine Keng melihat sosok Surya Paloh sebagai pemimpin yang revolusioner dan berani. Menghadirkan Metro Xinwen di Metro TV sejak tahun 2000 dan bertahan sampai kini, memberi pengaruh besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kini banyak orang Indonesia terbiasa mendengar bahasa Mandarin, sama seperti mendengar bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya.

"Walaupun masih banyak orang muda Tionghoa yang belum fasih berbahasa Mandarin, suasana sekarang membuat orang muda Tionghoa tidak merasa berbeda dengan yang lainnya. Cara berpikir kaum muda Tionghoa yang dulu hanya ingin menjadi pengusaha, sekarang mulai berubah. Banyak yang ingin menjadi jurnalis, artis, juga politisi," kata perempuan lajang ini.

Catharine mengatakan, saat ini ia melakukan apa yang disukainya dan yang penting berguna untuk bangsa dan negara Indonesia. "Sebagai orang Tionghoa, aku tidak merasa berbeda. Justru kalau merasa beda, kita akan diperlakukan berbeda," kata Catharine yang belajar bahasa di Taiwan itu.

Ayah Catharine, Frank Ho, memang suka menulis dan membaca sehingga darah itu mengalir ke darah putrinya. Catharine bercerita, suatu hari dalam kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke China, ia termasuk jurnalis yang ikut serta. "Pak SBY meyakinkan orang-orang China di negeri itu bahwa saat ini tak ada lagi diskriminasi rasial di Indonesia. Pak Presiden memberi contoh, Catharine Keng yang menjadi jurnalis dan presenter Metro TV. Orang-orang China pun melirik ke arah saya dan manggut-manggut," ceritanya.

Nah, bagaimana dengan jodoh? Catharine mengaku hingga kini masih sendiri. "Kalau ada yang cocok, saya sih mau saja," katanya. Serius nih Catharine?
http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/23/09325550/generasi.muda.tionghoa.kini.banyak.terjun.di.dunia.jurnalistik

16 Juli 2008

Wanita-Wanita Anchor Industri Berita di Layar Kaca (2-Habis)

Pertahankan Posisi Presenter Andalan, Lajang Jadi Pilihan

Menjamurnya stasiun televisi mendorong kompetisi untuk menayangkan program favorit pemirsa. Karena itu, peran anchor (presenter acara) semakin menentukan. Siapa yang dapat menggaet perhatian publik, maka akan menuai karir lebih tinggi di stasiun televisi tempatnya bekerja bahkan di stasiun televisi pesaing.

IWAN UNGSI, Jakarta

Fenomena karir menarik di bidang broadcast ikut merangsang para presenter untuk berlomba mengasah talenta masing-masing. Apalagi, pertumbuhan televisi swasta nasional dan televisi lokal semakin pesat dan menjamur. Mereka saling beradu kreativitas dalam menjual program.

Nah, di sinilah peran penting kemampuan para anchor (presenter acara). Eksistensi mereka turut menentukan kualitas suatu program. Siapa yang lebih populer serta menuai pujaan dari publik, pintu gerbang menuju jenjang lain yang lebih menguntungkan terbuka lebar.

Karena itu, laiknya industri lain yang mapan, turn over para anchor dari stasiun televisi satu ke stasiun televisi lain cukup tinggi. Layaknya pemain sepak bola, transfer presenter antarstasiun televisi kerap dilakukan. Satu visi, negosiasi gaji cocok, maka pembawa acara di stasiun televisi A bisa pindah pada stasiun televisi B.

Para presenter yang hijrah ke stasiun televisi lain di antaranya Desi Anwar (RCTI ke Metro TV), Alfito Deanova (SCTV ke tvOne), Tina Talisa (Trans TV ke tvOne), Chantal Della Concetta (Metro TV ke RCTI), Rahma Sarita (Metro TV ke tvOne), dan lainnya.

Presenter Liputan 6 SCTV Rike Amru mengakui, fenomena transfer para anchor itu tidak lain karena maraknya aksi saling bajak yang dilakukan perusahaan televisi. Tak sedikit dari mereka menawarkan fasilitas dan gaji menggiurkan. Akibatnya, banyak rekan seprofesinya memilih loncat dari satu stasiun televisi ke stasiun televisi lain. "Wajar, ya Mas. Kalau sudah menjadi industri kan memang seperti itu. Banker-banker biasanya kan juga begitu," ujarnya saat berbincang di Cafe Excelso Senayan City Kamis (3/7) lalu.

Rike mengatakan, kondisi tersebut dipicu oleh pesatnya pertumbuhan industri televisi nasional maupun lokal di Indonesia. Bahkan, untuk kota-kota besar, jumlah televisi lokal lebih dari satu. Dengan karakteristik bisnis televisi yang padat modal, dibutuhkan sumber daya manusia berkualitas. ''Persaingan yang ketat saat ini membuat adu kreativitas di antara industri televisi semakin gila-gilaan. Karakteristik pemirsa televisi Indonesia yang unik juga meningkatkan kompleksitas persaingan tersebut," sebutnya. Masyarakat menengah bawah di Indonesia yang selama ini sudah banyak disusahkan oleh kondisi mencari penghidupan, katanya, jelas tidak akan repot-repot mencari tayangan berita berkualitas.''Mereka akan mencari hiburan yang bisa dinikmati. Daripada nonton berita bikin pusing, mending kerja," kata wanita yang telah tujuh tahun berkarir di SCTV itu.

Lajang kelahiran Banda Aceh 7 Juli 1973 itu menilai bahwa tantangan terbesar industri televisi adalah membuat acara yang berkualitas dan diminati masyarakat. Indikator acara yang berkualitas bukan jaminan bahwa acara tersebut diminati publik. SCTV sendiri bukan televisi yang mengkhususkan diri pada berita. "Tayangan berita hanya sekitar 20 persen dari total siaran yang ditampilkan," ungkap pecinta kucing dan anjing ini. Namun, acara Liputan 6 Petang yang dipandu Rike termasuk salah satu tayangan berita paling diminati. Ini ditunjukkan dengan berbagai penghargaan yang diterima oleh program acara tersebut. Untuk rata-rata TV share, Liputan 6 Petang berada di kisaran 15-20 persen.

Rike bergabung dengan SCTV pada 2001. Sebelumnya, dia sempat mencicipi pengalaman kerja di salah satu bank swasta nasional. Kerja di bank dilakukan sembari meneruskan kuliah di Universitas Sumatera Utara, Medan. Pekerjaan di bank didapatkannya berbekal ijazah D3 dari STIE Perbanas Jakarta.

Munculnya sikap kritis di antara media elektronik saat reformasi 1998 menarik minat Rike untuk menerjuni profesi jurnalisme. Pembawa acara Liputan 6 dan Sigi itu mengaku, salah satu pengalaman di awal masa menekuni profesi adalah liputan tawuran di Kelurahan Galur. Saat itu, penyuka film drama tersebut mendapat shift hunting malam yang dimulai pukul 20.00 hingga pagi hari. ''Kasusnya kan melibatkan geng pemuda di situ. Meski sama kamerawan, sempat khawatir juga karena masih baru. Tapi, saya memang ingin belajar," katanya.

Pengalaman liputan berkesan lain adalah saat bertugas ke ladang ganja di Aceh. Perjalanan jauh masuk hutan di lereng Gunung Leuser pada 2003 itu membuat proses investigasi liputan menarik. Dibantu warga sekitar, akhirnya mereka berhasil menemukan ladang ganja tersebut. ''Polisi juga heran saat kami menemukan ladang tersebut. Ini karena beberapa kali mereka melakukan pantauan, tapi tidak berhasil menemukannya," papar dara yang mengaku memiliki darah Mandailing Tapanuli Selatan itu.

Menjadi presenter andalan di tempatnya bekerja, membawa konsekuensi lain bagi Rike. Di usia memasuki 35 tahun, Rike masih belum memiliki pendamping hidup. "Ini pilihan yang saya ambil," katanya saat disinggung tentang status lajangnya. Di luar waktu kerja, selain bercengkrama dengan binatang peliharaannya, Rike lebih suka menghabiskan waktu dengan menonton bersama kawan-kawannya.

Lain Rike, lain pula Chantal Della Concetta. Penyiar RCTI itu cas cis cus ketika diajak ngobrol seputar isu nasional, termasuk BBM. Istri Hans Lazuardi itu menilai, pemerintah memang tidak lagi punya pilihan menyangkut kebijakan tersebut. Penyiar dengan nama kombinasi dari bahasa Prancis dan Italia (artinya nyanyian murni dan baik hati) memang salah satu presenter yang punya banyak penggemar.

Anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Gunawan Budi Suwandi dan Shirley Gandasasmita itu melamar di semua stasiun televisi sebelum menuntaskan kuliah di Universitas Parahiyangan pada 2003.

Chantal akhirnya berlabuh ke Metro TV dengan tugas mengawal program Metro Pagi, Metro This Week, Public Corner, Suara Anda, dan lain-lain. Pengalaman meliput di berbagai peristiwa membuatnya makin yakin bahwa profesinya adalah pekerjaan yang menantang.

Selain kerap liputan malam, Chantal meliput bencana nasional tsunami di Aceh. Ibunda Trevor (2,5 tahun) itu tidak bisa lupa saat melihat seorang ibu membawa kertas putih berisi tulisan nama-nama keluarga yang hilang. ''Saya masuk saat minggu kedua setelah tsunami. Sedih sekali saat itu," ungkap penyuka kopi tersebut.

Dia juga pernah ke Vatikan untuk meliput meninggalnya Paus Yohannes Paulus XV dan penetapan penggantinya, Paus Benediktus XVI. Kemudian pada 2007, Chantal hijrah ke RCTI. Di sini dia dipercaya menjadi host bagi Seputar Indonesia dan sekilas Info. Dengan dua program yang dipandunya, Chantal harus berkompromi dengan keluarga. Waktu siaran yang ditugaskan oleh perusahaan adalah Jumat, Sabtu, dan Minggu. Padahal, suaminya libur pada Sabtu dan Minggu. ''Akhirnya saya memilih libur Senin, tapi tetap siaran Minggu malam demi keluarga. Hiburan saya ya bermain dengan anak, Mas."

Tantangan terbesar yang dimiliki industri televisi saat ini, menurut dia, terkait independensi media masing-masing. Baik industri televisi maupun koran, idealnya, dipisahkan dengan kepentingan sang pemilik. ''Berita harus dipisahkan dengan kepentingan pemilik," ujarnya. (iro) - jawa pos 17 juli 2008

25 Juni 2008

Susan Bachtiar Kembali Mengajar

Setelah cuti mengajar selama dua tahun, pada tahun ajaran baru ini pembawa acara Susan Meilani Bachtiar (35) akan kembali mengajar di sebuah taman kanak-kanak di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Sembari menunggu bulan Juli, Susan yang menjadi duta Go Red for Woman dan kontinu mengampanyekan hidup sehat bagi para wanita itu kembali membuka-buka bahan untuk mengajar. Ia juga mulai rapat kerja bersama para guru sekolah itu.

Meski bakal sibuk, Susan masih juga mencari kegiatan lain. Salah satu yang dia geluti adalah menjadi pembawa acara Jelang Siang di TransTV. Ia juga kembali memotret.

"Aku hobi motret sejak SMA. Tapi, hobi itu berhenti waktu kuliah. Sekarang aku lagi pengin motret lagi biar (hidup) ada variasi," kata Susan yang baru bermain dalam film Perempuan Punya Cerita.

Untuk mendukung hobinya itu, Susan membeli kamera digital. "Kalau dulu aku punya duit, tapi sayang buat beli kamera, jadi minjem aja. Sekarang aku beli kamera yang memang pas buat pemula. Kalau udah gape baru aku beli yang lain. Fotografi kan hobi mahal," ujarnya.

Susan tak berniat serius menekuni fotografi. "Hobi ini cuma untuk koleksi pribadi. Buat motret anak-anak temanku yang ultah," kata Susan yang juga suka menonton film dan tamasya ini. (DOE)

http://cetak.kompas.com/namaperistiwa 26 juni 2008

16 Juni 2008

BONDAN WINARNO: PELOPOR WISATA KULINER * PATAHKAN ANGGAPAN PRESENTER TV HARUS TAMPAN/CANTIK

NIAT PENSIUN MALAH JADI SELEBRITI

Pensiun jadi pengusaha, ia banting setir menekuni dunia kuliner. Siapa sangka, ia malah menjadi selebriti. Penggemarnya, mulai dari ibu-ibu hingga para gay. Namun, saat berada di puncak popularitas, ia justru bersiap-siap untuk mundur.

BERLIDAH 'CERDAS'
Memasuki tahun 2005, Bondan makin dekat dengan dunia kuliner Awalnya, PT Unilever meminta Bondan memikirkan program untuk memopulerkan Pusaka Kuliner Nusantara, yang menjadi visi Komunitas Jalansutra. Waktu itu, ia mengusulkan sebuah program multimedia yang melibatkan pers cetak, radio, dan televisi.
"Tetapi, rupanya mereka hanya berminat untuk program televisi. Maka, lahirlah acara Bango Cita Rasa Nusantara (BCRN), dan saya diminta menjadi pembawa acaranya. Saya juga heran, acara itu disukai orang. Wajah saya kan tidak sekeren Adjie Massaid atau Jason Tedjasukmana, ha...ha...ha...," ujar Bondan, yang ternyata juga gemar bercanda.

Ia juga sekaligus mematahkan anggapan bahwa menjadi presenter TV harus muda dan tampan/cantik. "Pengetahuannya tentang makanan memberikan manfaat bagi banyak orang. Lidahnya 'cerdas'," kata seniman Butet Kartaredjasa (46), yang pernah akrab dengan Bondan. Bertiga dengan sosiolog yang juga penikmat makanan, almarhum Umar Kayam, Bondan dan Butet sempat rajin mencicipi aneka makanan bersama.

Bahkan, komentar 'mak nyus' yang populer itu, diakui Bondan, ditirunya dari Umar Kayam. "Untuk menggambarkan makanan yang sangat enak, Mas Kayam kerap memakai istilah mak nyus, sebuah ungkapan umum di Yogya. Dalam pembicaraan sehari-hari juga begitu. Suatu kali, ketika syuting, terlepaslah kata mak nyus dari mulut saya. Ternyata, pemirsa menyukainya. Matur nuwun, Mas Kayam," ungkap Bondan, tulus.

'Kecerdasan' lidah Bondan juga diungkapkan Camelia (28), Associate Producer Wisata Kuliner. "Pak Bondan pandai mewawancarai pemilik restoran dan bisa mengungkapkannya kepada penonton dengan sangat menarik. Padahal, saya tidak memberikan naskah, dan pengambilan gambar pun jarang diulang," ucap Camelia.

Namun, setelah 15 bulan menjadi presenter BCRN, Bondan memutuskan mundur karena alasan prinsip. Namun, tak lama kemudian ia kembali dihubungi Trans TV. "Saya diminta tampil setiap hari di acara Wisata Kuliner," kata Bondan, yang sudah menyelesaikan lebih dari 500 episode dalam tiga tahun terakhir.

Padahal, syuting yang dilalui Bondan sama sekali tak mudah. Dalam sehari bisa berpindah lokasi hingga 10 tempat. "Di Singapura, kami bahkan pernah syuting di 16 lokasi sepanjang hari. Wah, kami semua sudah tak mampu makan lagi, meskipun cuma icip-icip. Tetapi, Pak Bondan tetap konsisten, dan syuting berjalan lancar," ungkap Camelia.

Jika syuting di luar kota, di mana hanya ada penginapan seadanya, Bondan juga tak pernah protes. Hanya satu yang membuat Bondan marah, yaitu bila menyangkut ketepatan waktu. "Di mana pun, kami selalu diminta tepat waktu. Syuting di luar kota, kami harus siap pukul 7. Demikian juga ketika kami di Eropa, pukul 7 tepat kami harus sudah berangkat syuting," lanjut Camelia, yang juga berupaya keras mengurangi jumlah kru. Menurut Bondan, kru yang terlalu banyak tapi tidak efektif, hanya membuat sempit lokasi syuting.

Camelia juga memuji kondisi fisik Bondan yang selalu prima (hanya asam urat yang menjadi kendala kesehatannya). Kondisi itu diupayakan Bondan dengan melakukan olahraga jalan kaki setiap pagi. Juga dengan melakukan detoksifikasi selama beberapa hari, dengan hanya minum jus buah dan air putih, setelah seminggu syuting. Cara lain, setiap kali icip-icip makanan, ia tidak pernah menghabiskan seluruh makanan yang dihidangkan.

Bondan yang tidak pernah mencela makanan yang dicobanya, dinilai positif oleh Butet. "Itu menunjukkan sikapnya yang arif. Bondan sudah dipercaya penonton, sehingga ucapannya yang ne-gatif bisa merugikan restoran yang dikunjunginya," kata Butet.

Di layar kaca Bondan selalu tampil santai dan akrab, mengomentari setiap makanan dengan ungkapan khas. Seperti, "Pedesnya sopan, gurihnya nendang. Bumbunya cakep, berminyak." Sesekali secara tak sengaja Bondan menunjukkan wawasannya, dengan menambahkan komentar tentang bahan makanan atau daerah yang dikunjungi,

Menyangkut hal itu, Bondan berkomentar, ia tak bermaksud menjadi kritikus, melainkan berusaha mencari setiap kelebihan dari restoran yang dikunjunginya. Karena itulah, ia kerap mendapat telepon yang penuh dengan luapan kegembiraan, dari para pemilik restoran yang dimunculkan di acara Wisata Kuliner. Bahkan, pernah ada seorang pemilik restoran yang melaporkan, restoran miliknya langsung diserbu orang sampai hampir roboh.

Bondan juga menaruh perhatian besar pada kuliner daerah. Ia memiliki obsesi agar orang mau berburu makanan-makanan khas daerah. "Kuliner Nusantara adalah bagian dari kekuatan pariwisata. Mungkin Semarang bisa dijelajahi dalam satu-dua hari. Namun, bila Anda juga menikmatinya dari sisi kuliner, liburan Anda di Se-marang pasti bisa lebih panjang lagi," ujar Bondan.

CANGGUNG DI ANTARA PENGGEMAR
Di luar dugaannya sendiri, kesuksesan Wisata Kuliner ternyata membuat Bondan menjadi selebriti. Tiba-tiba saja, ke mana pun ia pergi, para wanita memintanya berfoto bersama.

"Jujur saja, saya amat canggung menjadi selebriti. Apalagi, pada dasarnya saya private man. Namun, saya juga orang yang mudah beradaptasi, jadi semua itu bisa saya atasi," ujar Bondan, yang menolak berfoto jika penggemarnya hanya memanggil-manggil dengan se-butan mak nyus, tanpa mendatangi dirinya dengan sikap sopan.

Namun, hal-hal seperti itu tidak membuat Yvonne, istrinya, cemburu. "Saya bahkan sering menyarankan agar Bondan bersikap lebih ramah kepada penggemarnya," ungkap Yvonne, yang sesekali masih berbahasa Inggris ini, sambil tertawa.

Gwen, putri Bondan, juga sempat terheran-heran melihat antusiasme penggemar ayahnya. "Namun, saya memang salut pada Papa. Ia tertantang mencoba berbagai profesi, dan selalu berhasil," ucap ibu dua anak, yang kini juga muncul sebagai presenter pendamping di Wisata Kuliner edisi Jumat.

Ternyata, Bondan tak hanya populer di kalangan wanita. Para gay pun memujanya. "Saya beberapa kali ditelepon dan dikirimi e-mail mesra oleh sejumlah gay," lanjut Bondan, tertawa. Biasanya, ia lantas menjelaskan kondisi sebenarnya. Namun, jika penggemarnya itu ngotot, dengan tegas ia akan melarang orang tersebut untuk menghubunginya lagi.

Menurut Bondan, sampai saat ini, orang sering kali menganggap tempat pria bukanlah di dunia kuliner. "Padahal, banyak pria yang sukses di industri kuliner," ungkapnya. Namun, ia juga berpendapat, saat memasak, pria memang berbeda dengan wanita.

Namun, justru di saat kebanjiran penggemar, Bondan malah berniat mundur. Selain kegiatan syuting yang menyita waktu, ia juga merasa sudah waktunya untuk menyerahkan tongkat estafet. Alasan lain, "Lebih terhormat mundur di saat masih disukai orang daripada terpaksa mundur. Itu sudah pernah saya lakukan, ketika saya menjadi konsultan manajemen," ujar Bondan, serius.

Namun, lagi-lagi, bukan berarti ia akan berdiam diri. Ia masih punya obsesi lain, yaitu membuat program mengembangkan diri. "Bangsa kita makin tidak mengindahkan aturan dan sopan santun. Padahal, dulu kita dididik dengan budaya ketimuran. Bangsa kita juga kurang mampu berkompetisi dengan bangsa lain, karena kualitas SDM-nya tidak maksimal. Karena itu, dibutuhkan pelatihan sumber daya manusia yang bisa meningkatkan kualitas setiap individu," ungkap Bondan, bersemangat.

Namun, ia ingin program yang dicita-citakannya itu tidak dijual seharga jutaan rupiah, seperti halnya pelatihan sejumlah motivator terkenal. Ia juga berharap bisa menggunakan kekuatan media massa. "Persis seperti dakwah yang selama ini ada di radio dan televisi. Namun, yang ini sejenis dakwah non-agama, untuk pengembangan diri," ungkap pemeluk Kristiani ini.

Di sela-sela kesibukannya (syuting dan menulis biografi dua tokoh terkenal), Bondan terus berusaha mewujudkan impiannya itu, antara lain dengan menyusun modul-modul. Atau, di saat menunggu pertemuan dengan tiga anak dan enam cucu tercinta, yang rutin menginap di rumahnya di Sentul, yang memang cocok untuk liburan.

Selain itu, setahun sekali Bondan juga merancang acara jalan-jalan dengan keluarga besarnya. Tak jarang, pria romantis ini juga memberikan kejutan pada Yvonne. Misalnya, dengan mengajak sang istri jalan-jalan ke berbagai tempat dan –tentu saja-- mencoba aneka makanan. Saat melakukan wawancara terakhir dengan femina, ia sedang bersiap-siap pelesir ke Medan bersama istrinya. TAMAT

http://www.femina-online.com/serial/serial_detail.asp?id=171&views=127