Tampilkan postingan dengan label METROTV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label METROTV. Tampilkan semua postingan

12 Oktober 2008

Wartawan Menjadi Caleg

Jakarta, Kompas - Wajar saja wartawan sebagai korps keempat pilar demokrasi tampil sebagai calon anggota legislatif atau caleg karena peran atau profesi apa pun punya peran sosial kemasyarakatan. Yang penting wartawan sebagai caleg tidak semata membawa ambisi politik, tetapi juga membawa tekad untuk membawa perubahan dan kesegaran baru.

Demikian mengemuka dari diskusi bertema "Wartawan Menuju Senayan" yang diselenggarakan National Press Club Indonesia, Jumat (10/10).

Dalam diskusi yang menampilkan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar, Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin, Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, dan wartawati Meutya Hafid ini dikupas fenomena masuknya 100 wartawan yang kini masuk dalam Daftar Calon Sementara untuk Pemilihan Umum 2009.

Mengamati hal itu, Anies Baswedan menyebutkan, di antara para caleg wartawan tersebut memang ada yang dalam posisi lebih diuntungkan satu dibandingkan dengan yang lain. Sebab, bisa saja para caleg wartawan tersebut sudah dikenal namanya dan juga wajahnya. "Ini tentu modal yang lebih kuat, meskipun kelak bila terpilih sebagai anggota legislatif," ujar Anies.

Ketua KPK melihat masuknya wartawan sebagai caleg memberikan harapan munculnya perubahan, khususnya di dalam upaya pemberantasan korupsi.

Meutya Hafid yang dicalonkan Partai Golkar untuk daerah pemilihan Sumut mengatakan, dia tidak bisa berjanji untuk bisa mengubah semua hal yang diharapkan oleh masyarakat sekarang ini. (nin)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/13/00244042/wartawan.menjadi.caleg

10 Oktober 2008

Presenter MetroTV Meutya Hafid Pamitan, Maju Jadi Calon Legislatif

Presenter dan reporter televisi terkenal Meutya Hafid
/

Wartawati dan presenter Metro TV Meutya Hafid (30) di Jakarta, Jumat (10/10) malam, berpamitan pada kalangan wartawan untuk maju sebagai calon anggota legislatif (Caleg) pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2009.

"Saya untuk sementara non-aktif dari kewartawanan," kata Meutya yang menjadi Caleg nomor urut dua dari Partai Golkar pada daerah pemilihan Sumatera Utara I tersebut.

Meutya mengaku menjadi politisi bukanlah cita-citanya, namun setelah melalui perenungan dan diskusi dengan berbagai pihak akhirnya ia memutuskan menerima tawaran dari partai berlambang beringin tersebut.

Ia membantah hanya latah atau ikut-ikutan terjun ke politik. Ia menyatakan memiliki idealisme serta visi dan misi yang jelas jika terpilih menjadi wakil rakyat.

Meutya mengaku banyak yang bertanya mengapa ia memilih bergabung dengan Partai Golkar, bukan partai yang lain. Menurut Meutya, Golkar adalah partai besar yang demokratis dan tidak bergantung pada kelompok tertentu.

"Golkar ini sosok partai sehat dan demokratis, juga memberi kesempatan luas pada kalangan muda," kata reporter yang pernah disandera oleh pejuang Mujahidin Irak (Jaish al Mujahideen) selama 168 jam (15-22 Februari 2005) ketika sedang melaksanakan tugas jurnalistiknya itu. MBK Sumber : Antara

http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/10/10/22472081/meutia.hafid.pamitan.maju.jadi.calon.legislatif.

06 Oktober 2008

Komedi di Depan Mesin Kopi

METRO TV / Kompas Images Camera Cafe

Minggu, 5 Oktober 2008 | 03:00 WIB

Budi Suwarna

Hanya mengandalkan satu kamera statis, lahir sebuah sinetron komedi (sitkom) yang ringan dan menarik. Inilah terobosan MetroTV melalui program "Camera Cafe".

Dibandingkan sitkom yang lain, "Camera Cafe" benar-benar berbeda. Sinetron itu menggunakan kamera statis dengan sudut pengambilan gambar hanya dari depan atau dari arah pemirsa. Seluruh pemain dalam sitkom ini pun menghadap lurus ke arah kamera yang diandaikan berada di atas mesin kopi (coffee machine). Kamera statis ini seolah mewakili mata pemirsa yang merekam semua adegan di depannya.

Setting sitkom ini juga minimalis. Hanya sebuah ruang istirahat di depan mesin kopi di sebuah kantor. Semua peristiwa berpusat di sini ketika karyawan istirahat sejenis sambil menikmati kopi dan berbicang-bincang.

Karena hanya menggunakan satu kamera statis dan setting tunggal, cerita sitkom ini harus kuat, aktornya harus berkarakter, dan pembuatnya harus kreatif dalam mengambil gambar. Mari kita tengok bagaimana elemen-elemen tersebut bisa digarap dalam "Camera Cafe".

Jalinan cerita dalam "Camera Cafe" dibuat sesederhana mungkin. Tema yang diangkat berkisar hubungan bos dan anak buahnya, gosip kantor, dan cerita cinta kantor. Pada episode 22 September diceritakan, sang bos meminta sekretarisnya membelikan pot bunga. Pada adegan lain, si sekretaris mengeluhkan perintah bosnya ini ke rekan kerjanya, John (Andre Stinky). John yang dikenal playboy menawarkan diri kepada sang sekretaris untuk membelikan pot bunga tersebut.

Pada adegan yang lain, John bercerita kepada Harvey (Auie) bahwa dia akan membeli pot untuk si bos. Harvey mengingatkan bahwa pot bunga harganya bisa mencapai Rp 500.000 per buah. John kaget. Adegan selanjutnya, John bertemu Sulaeman (Fahmi Bo). Dia merayu Sulaeman untuk investasi bisnis pot. Nanti, pot itu akan dijual kepada bosnya.

Pada adegan penutup, Harvey membeli pot dan menyerahkan kepada bosnya. Si bos berterima kasih, memujinya, dan mengganti biaya pembelian pot seharga Rp 500.000. Selanjutnya, John dan Sulaeman datang menggotong pot dan menyerahkannya kepada si bos. Si bos menatapnya acuh dan berkata, "Saya tidak butuh pot." Semua adegan dibungkus dalam situasi komedi.

Meski ceritanya tidak memiliki kedalaman, pembuat "Camera Cafe" tidak terjebak pada komedi konyol yang hanya memancing tawa dengan mengolok-olok kekurangan fisik orang lain.

Sulit

Bagaimana pengambilan gambar dengan kamera statis tidak membuat jemu penonton? Pembuat "Camera Cafe" menyiasati keterbatasan itu dengan memecah cerita dalam beberapa adegan. Masing-masing adegan dipisahkan dengan bumper, semacam penanda peralihan dari satu adegan ke adegan lain. Dalam sitkom ini, bumper tersebut berupa gambar kucuran kopi ke dalam cangkir bertuliskan "Camera Cafe". Teknik ini membuat cerita tampak bergerak dan tidak membosankan.

Pembuat sitkom juga memvariasikan cara pengambilan gambar dengan teknik close up, medium close up, hingga long shot. Dengan cara ini, gambar yang muncul tidak membosankan. Durasi sitkom juga dibuat pendek. Setiap episode hanya berlangsung selama 3 menit hingga 5 menit.

Production Manager MetroTV Agus Mulyadi, Kamis (25/9), mengatakan, pihaknya memaksimalkan blocking pemain. "Karena setting sinetron ini hanya di dalam sebuah ruangan, kami mengatur blocking pemain sedemikian rupa. Mereka keluar masuk bergantian dari arah yang berbeda," kata Agus.

Selain itu, dia benar-benar menyeleksi ketat para pemain. "Kami sadar sitkom semacam ini hanya bisa berhasil jika aktornya bagus," ujarnya.

Meski aktingnya tidak bagus-bagus amat, para pemain "Camera Cafe" bisa bermain dengan cukup wajar. Setidaknya, mereka tidak sekadar memelototkan mata ketika mengekspresikan kemarahan seperti yang lazim dilakukan kebanyakan pemain sinetron karbitan.

Agus menjelaskan, program ini adalah versi Indonesia dari acara serupa yang ditayangkan di Channel M6, Perancis. Acara ini telah dibuat dalam beberapa versi di 25 negara, termasuk di Thailand dan Filipina.

Acara yang ditayangkan tiga kali sehari (pukul 08.55, 14.27, dan 20.55), menurut Agus, mendapat respons yang baik dari penonton. "Pemirsa kaget melihat sitkom seperti ini di MetroTV."

Dia berharap "Camera Cafe" bisa memberi warna lain pada stasiun yang kesannya serius ini.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/05/01240173/komedi.di.depan.mesin.kopi

20 September 2008

Tonton dengan Hati - Andy Noya, Kini Menjadi Diri Sendiri

Minggu, 21 September 2008 | 03:00 WIB

Berbagai komentar di internet tentang tayangan Kick Andy membuat mata Andy F Noya berkaca-kaca. "Apakah betul Kick Andy memberi pengaruh sebesar itu pada penonton?" tulis Andy dalam bukunya, Andy's Corner, terbitan Bentang dan Metro TV.

Ada penonton bernama Herry Candi, warga Barru, Parepare, Sulawesi Selatan, yang menempuh jarak 40 kilometer naik motor tiap pekan untuk menonton Kick Andy. Sinyal televisi tidak tertangkap baik di Barru sehingga ia terpaksa menonton di warung-warung di kota terdekat. Di sana, Kick Andy dimulai pukul 23.00 dan selesai sejam sesudahnya. Karena untuk pulang terlalu lelah, Herry menumpang tidur di pom bensin yang dilalui. Ia melakukan itu lantaran merasa hidupnya lebih berguna sesudah menonton Kick Andy.

"Banyak tanggapan positif, terutama saat kami menghadirkan orang-orang kecil dengan kisah hidupnya. Sebaliknya, banyak pula yang mencerca. Saat kami menghadirkan Xanana Gusmao dan Mayor Alfredo, misalnya, protes datang dari pendukung keduanya. Juga saat kami mengundang Sobron Aidit sebelum meninggal, banyak SMS pro-kontra masuk. Makanya kami sering bilang, tontonlah Kick Andy dengan hati, bukan dengan otak," papar Andy.

Cerita menyentuh muncul dari seorang guru dan kepala sekolah yang terpaksa memulung barang bekas untuk biaya pengobatan istrinya yang menderita kanker otak. Kisah mengharukan datang dari Sugeng yang cacat. Ia membantu sesama orang cacat dengan membuatkan kaki palsu.

"Hidupku jadi lebih berarti ketika bisa menjadi jembatan yang menghubungkan mereka dengan para dermawan," tutur Andy, yang bersama timnya kemudian mendirikan Kick Andy Foundation.

Program pertama KA Foundation adalah gerakan 1.000 kaki palsu bekerja sama dengan Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Gerakan yang terinspirasi dari cerita Sugeng ini berhasil mengumpulkan donasi lebih dari Rp 1 miliar. ia bersama tim juga mendirikan Kick Andy Enterprise yang dikelola Media Group dengan saham patungan antara Metro TV dan KA Foundation.

Sekarang Andy masih sangat bersemangat. Namun kelak, ucap Andy, ia harus berhenti. Ia ingin mewujudkan mimpinya menjadi penulis. Hanya penulis.

Pada umur berapa? "Aku sedang berunding dengan istri," jawabnya.

Pada hari tua, ia ingin tinggal di Batu, Malang, tempat ia menghabiskan masa kanak-kanak. Kerinduan akan masa kecil itu kerap muncul manakala membayangkan sawah, pohon, dan bambu.

"Tapi istri malah ingin tinggal di apartemen. Perempuan sulit dimengerti, ya? Ha-ha-ha."

Ha-ha-ha... (IVV)




Andy Noya, Kini Menjadi Diri Sendiri
FOTO-FOTO: KOMPAS/ARBAIN RAMBEY / Kompas Images
Minggu, 21 September 2008 | 03:00 WIB

Susi Ivvaty

Susah-susah mudah mewawancarai Andy Flores Noya. Sempat ia menolak. Bukan karena wartawan kok menanyai wartawan. "Nanti over expose," katanya beralasan. Ketika akhirnya bersedia ditemui, Andy menjelaskan mengapa ia tidak mau terlalu banyak dipublikasikan. "Aku menjadi makin terkenal, tapi malah 'menderita'."

Andy memberi gambaran, betapa kalau sedang berkunjung ke daerah untuk memandu program Kick Andy off air, ia menjadi bak selebriti. Banyak orang minta foto bersama dan tanda tangan. Jika ia sedang ingin menyendiri sambil membaca buku di kafe, ada saja orang yang mendekat dan menyalaminya. Ketenaran mendadak itu tak lain berkat Kick Andy, program talk show di Metro TV yang dipandunya sejak 20 Maret 2006.

"Jujur itu bukan diri sendiri karena aku sebenarnya enggak suka terkenal. Aku ini hidup dalam kontradiksi. Aku sebenarnya introvert, suka menyendiri, baca buku, menulis, tetapi sebagai host Kick Andy, aku harus banyak omong," tutur campuran Belanda (dari ibu) dan Papua (dari ayah) ini.

Memang kalau sedang memandu Kick Andy, Andy seakan tak terbendung. Pertanyaan-pertanyaannya kerap membuat orang terperangah. Orang bilang, pertanyaannya pedas. Belakangan Andy menyadari, pertanyaan pedas itu justru memberi karakter pada Kick Andy.

Pada episode "Aa Gym", misalnya, Andy melempar pertanyaan, "Anda, kan, meminta orang untuk menjaga hati, tapi mengapa Anda tidak menjaga hati istri Anda (dengan berpoligami)?" Atau pertanyaan untuk Harmoko, "Anda seperti Brutus, bagaimana bisa Anda menusuk Pak Harto dari belakang". Kepada Sri Sultan HB X, Andy menanyakan mengapa hak istimewa sebagai sultan untuk beristri lebih dari satu tidak dimanfaatkan, padahal banyak orang yang tidak memiliki keistimewaan itu justru melakukannya. Semua pertanyaan mereka jawab seraya tersenyum.

Andy jadi teringat ketika pada suatu waktu bos Media Group Surya Paloh berujar setengah bertanya kepadanya. Waktu itu ia masih menjabat Pemimpin Redaksi Media Indonesia. "Kamu itu kalau bicara nyelekit, tapi mengapa orang-orang enggak marah".

Sulit menjawab pertanyaan itu karena, kata Andy, ia sendiri pun kadang bertanya. "Aku hanya meyakini satu hal. Selalu tak ada niat jahat di balik pertanyaan-pertanyaanku. Tak ada agenda apa pun. Aku sama sekali tak berpolitik," tegasnya.

Berdiri sendiri

Wawancara dengan Andy di gedung Metro TV sore pekan lalu membuat beberapa teman heran, "Lho, Andy Noya kan sudah tidak di Metro TV". Andy terkekeh mendengarnya. "Aku juga sering ditanya," ujar Andy, yang sore itu menutup rambut kribonya dengan topi lantaran sedang berantakan.

Ceritanya, sejak tiga tahun lalu Andy sudah berniat undur diri dari Media Indonesia dan Metro TV, tapi waktu itu Surya Paloh berberat hati. Tahun ini, hasrat Andy sudah bulat. Ia bermaksud mengurus majalah Rolling Stone yang ia dirikan bersama Eddie Soebari dan Ratna Monika, yang selama ini ia abaikan. "Sudah saatnya saya berdiri sendiri," kata Andy, yang Mei 2008 ini secara resmi mengundurkan diri.

Andy terinspirasi buku Who Moved My Cheese? (1998), yang pesan moralnya lebih kurang: jangan merasa mapan dan nyaman di satu tempat. Berada terus-menerus di comfort zone itu berbahaya. Dua kurcaci di labirin penuh keju, seperti digambarkan dalam buku, memaksa Andy merenung. Kurcaci pertama selalu bekerja mencari keju di tempat lain sementara kurcaci kedua berleha-leha di tumpukan keju sampai menyadari keju telah habis.

"Aku ini beruntung di Metro TV. Aku mau jumpalitan, bikin apa saja pasti dikasih sama Surya Paloh. Dulu waktu masih di Media Indonesia, aku bilang mau keluar karena ingin masuk ke industri TV. Surya Paloh lalu bikin TV. Di sini, aku diberi kebebasan," terang Andy.

Sambungnya, "Tapi sekarang, to be or not to be, aku harus keluar. Aku ingin jadi bos juga, ha-ha-ha. Jadi tikus tapi kepala, daripada macan tapi ekor melulu."

Sewaktu masih terikat pekerjaan di Media Indonesia, Andy kerap merasa bersalah ketika meninggalkan kantor, karena itu berarti meninggalkan tanggung jawab. Namun sekarang, Andy lebih bebas menentukan waktu dan—yang pasti—tidak lagi mengenakan seragam. Kini, selalu ada jam-jam santai untuk membaca buku atau duduk sambil menyeruput kopi.

Andy juga menjadi lebih produktif menulis, kegiatan yang ia gandrungi sejak bangku sekolah dasar. Setiap kali menulis artikel atau buku, ia selalu teringat Bu Anna, guru SD-nya yang 34 tahun lalu pernah berkata, "Kamu cocok menjadi wartawan", sehingga ia terus terinspirasi.

Agustus 2008 ini, buku yang ia beri judul Andy's Corner terbit. Buku ini membahas pengalamannya menjadi host Kick Andy sekaligus curahan perasaannya selama memandu program.

Lantas, bagaimana dengan status di kantor Metro TV? "Itu dia komprominya," sahut Andy. Rupanya, Andy diizinkan keluar dari Metro TV asalkan: 1. Kick Andy tetap jalan, 2. Andy Noya tetap duduk di Dewan Redaksi Media Group, 3. Andy Noya menjadi corporate advisor Media Group.

O… pantesan. "Iya. Senin aku di Rolling Stone dan Metro. Selasa full di RS. Rabu full di Metro. Jumat full di RS. Sabtu-Minggu urusan keluarga, ha-ha-ha."

Bukankah itu ibarat kepala dilepas, tapi ekor ditarik? "Ah… tetap aku kini lebih menjadi diri sendiri. Aku sudah menemukan lentera jiwa," tandas Andy.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/21/01311722/tonton.dengan.hati

29 Agustus 2008

Presenter MetroTV Meutia Hafidz Akan Nonaktif Sebagai Jurnalis

TEMPO Interaktif, Kamis, 28 Agustus 2008: Meutia Hafidz, jurnalis Metro TV, akan menonaktifkan diri dari dunia jurnalistik jika terpilih sebagai legislator. Ini dilakukannya demi menghormati kode etik jurnalistik.

"Saya akan nonaktif dari Metro TV. Bahkan saat KPU akan mengumumkan daftar caleg sementaranya pun, saya sudah akan nonaktif. Ini masalah kepatutan untuk menghormati kode etik," kata Meutia sat dihubungi, Kamis (28/8), di Jakarta.

Adapun mengenai proses pencalonan dirinya oleh Partai Golongan Karya sebagai calon anggota legislatif dari Daerah Pemilihan (dapil) Sumatera Utara I, Meutia mengaku belum bisa berbicara banyak.

"Semuanya kan masih proses. Saya belum bisa bicara. KPU juga masih melakukan verifikasi," kata wartawan perang yang pernah ditawan di Irak ini.

Meutia Hafidz saat ini dicalonkan oleh Partai Golongan Karya sebagai anggota legislatif DPR RI dengan nomor urut 2. Dirinya diproyeksikan menjadi wakil rakyat dari Daerah Pemilihan (dapil) Provinsi Sumatera Utara I. Daerah ini meliputi Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Kota Tebing Tinggi.  TM. Dhani Iqbal

http://www.tempointeraktif.com/hg/gosip/2008/08/28/brk,20080828-132691,id.html

10 Agustus 2008

Kemasan Baru Kick Andy. Jadwal Tayang Menjadi Jumat Durasi 90 Menit

Program bincang-bincang (talk show) Kick Andy tampaknya semakin diminati dan menarik untuk disimak pemirsa. Namun, meski demikian, Metro TV terus berusaha untuk mengemas acara ini lebih baik lagi agar tidak membosankan.

Salah satu cara yang ditempuh untuk lebih menyegarkan tontonan ini adalah dengan melakukan re-branding. ''Metro TV melakukan re-branding atau perubahan terhadap Kick Andy,'' ujar Henny Puspitasari, public relations & publicity manager Metro TV, saat dimulainya re-branding Kick Andy, akhir pekan lalu.

Menurut Henny, dalam rangkaian re-branding tersebut akan dilakukan sejumlah perubahan yang signifikan. Antara lain, jadwal tayang yang semula pada Kamis pukul 22.05 WIB menjadi Jumat pukul 21.30 WIB dengan durasi 90 menit. ''Selain perubahan jam tayang, Kick Andy juga mengganti logo baru,'' katanya. Namun, host-nya tetap mamakai Andy F Noya, sebagaimana nama acara ini, Kick Andy.

Dalam re-branding program unggulan ini, lanjut Henny, Metro TV bekerja sama dengan Branding Indonesia, sebuah lembaga branding di Jakarta. ''Langkah yang kami tempuh ini sempat menimbulkan banyak pertanyaan. Sebab, langkah re-branding biasanya dilakukan untuk sebuah produk yang sedang dalam posisi menurun. Sementara, Metro TV melakukan ini justru pada saat Kick Andy sedang berada di puncak dan sangat digemari masyarakat,'' tutur Henny.

Metro TV yakin bahwa re-branding justru akan semakin memperkuat posisi talk show ini sebagai salah satu program yang digemari pemirsa. Re-branding juga dilakukan untuk mengakomodasi keinginan pemirsa yang selama ini menghendaki agar durasi tayang Kick Andy diperpanjang. Begitu juga waktu tayangnya dimajukan agar lebih banyak pemirsa yang bisa menyaksikan tontonan ini.

Ia mengharapkan dengan adanya perubahan akan semakin tinggi animo masyarakat menyaksikan acara ini. Sebenarnya, lanjut Henny, saat ini posisi Kick Andy sebagai sebuah tontonan televisi sudah sangat baik. Hal ini ditandai dengan pencapaian rating dan share yang terus meninggi. Itu artinya, acara ini makin populer dan penontonnya pun semakin banyak.

Dulu, kata dia, ketika awal acara dimulai, >rating Kick Andy hanya 0,5 poin. Sekarang, rata-rata di atas dua dengan share6,4 persen. ''Salah satu kelebihan Kick Andy adalah menghadirkan suatu peristiwa dari sudut pandang yang berbeda untuk merebut hati pemirsa televisi--di tengah-tengah banyaknya acara sejenis yang lebih menghibur. Sebuah sudut pandang yang hanya dapat dipahami dan dinikmati jika dilihat dengan mata hati,'' ujar Henny.

<Kick Andy menampilkan tamu-tamu yang berbeda dari talk show lain yang kebanyakan mengundang selebriti. Acara ini tak hanya mengundang para >seleb dan tokoh politik, tapi juga orang-orang biasa yang mungkin tak pernah dikenal sebelumnya; seperti Sugeng Siswoyudono, seorang penyandang cacat; Ibu Rabiah, sang Suster Apung; Kiyati, yang mencari ibu kandungnya setelah terpisah selama 30 tahun; atau Feby Firmansyah, Iwan Setiawan, dan Asep Wahyudi, korban peledakan bom Marriot.

Kick Andy juga mengundang tamu-tamu yang kontroversial, seperti Hercules, Xanana Gusmao, Mayor Alfredo, dan tokoh-tokoh lainnya, sebut saja tentang Anggun C Sasmi yang memilih jadi warga negara Prancis, Sri Sultan Hamengkubuwono X yang menolak dicalonkan jadi gubernur, atau Harmoko yang berkeinginan menjadi presiden.

Kick Andy Foundation
Selain perubahan jam tayang dan logo, mulai 8 Agustus 2008,Kick Andy secara resmi mendirikan Kick Andy Foundation yang bergerak dalam kegiatan-kegiatan sosial.

Menurut Henny, program Kick Andy Foundation berawal dari kehadiran Sugeng Siswoyudono dalam episode Berbagi Dalam Keterbatasan yang telah memberikan inspirasi bagi banyak pemirsa. Sugeng adalah seorang penyandang cacat yang telah mendobrak keterbatasan akibat musibah yang menimpa dirinya--menjadi sebuah spirit yang tidak hanya berguna bagi diri sendiri, tapi juga orang lain. Ia bahkan mampu membantu sesama penyandang cacat untuk bisa berjalan kaki dengan bantuan kaki palsu yang dibuatnya, meski dengan teknologi sederhana.

''Semangat Sugeng telah memberi inspirasi bagi Kick Andy Foundation bersama Menteri Riset dan Teknologi untuk membuat Program Gerakan 1.000 Kaki Palsu Gratis. Program ini telah diluncurkan pada tayangan Kick Andy di episode Seribu Kaki, Sejuta Harapan pada 8 Mei 2008 lalu,'' katanya. ruz

http://www.republika.co.id/launcher/view/mid/22/kat/43/news_id/30262008-08-06 14:24:00