Tampilkan postingan dengan label PENONTON. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENONTON. Tampilkan semua postingan

06 Juli 2008

Teguran "Nonton" Televisi Ditukar 3 Nyawa

BEKASI, MINGGU - Gara-gara tak terima ditegur saat nonton televisi, Tri Widyo (24) tega membunuh pasangan suami istri Heru (52)-Tati (40) dan anaknya, Nada Arini Al-Fatimah (11), di rumahnya, Jalan Mayor Osing, Kampung Utan RT 03/02, Kelurahan Jakasetia, Bekasi Selatan, Jumat (4/7) siang.

Ironisnya, Tri adalah tamu yang menumpang menginap di rumah keluarga Heru. Keluarga itu bersedia menerima Tri karena tersangka adalah teman akrab salah seorang anak Heru, Teguh, yang saat kejadian sedang tidak berada di rumah.
Seperti diberitakan kemarin, jenazah Heru, Tati, dan anaknya ditemukan di kamar mandi. Sementara itu, tersangka dibekuk pada saat tertidur di sebuah kamar di rumah korban.

Kepala Polrestro Bekasi Kombes Mas Guntur Laupe mengatakan, dalam pemeriksaan, Tri mengakui sebagai pelaku pembantaian sadis tersebut. Kepada polisi Tri mengaku sakit hati oleh ucapan Tati, ibu kawan akrabnya itu, karena menegurnya ketika ia tengah santai menonton televisi.

Kata Tri, ia yang sejak Rabu (2/7) menginap di rumah Teguh, Jumat siang tengah santai sambil menonton televisi. Tati yang menyaksikan kawan anaknya berleha-leha di rumahnya lalu menegurnya. Teguran itu membuat Tri tersinggung. "Ia ngomong kalau nonton TV harus tahu diri. Tati juga mengatakan, kalau menumpang di rumahnya jangan terlalu lama karena akan menambah ongkos belanja," kata Mas Guntur menirukan kata-kata Tri.

Mendengar teguran itu Tri berang. Ia pun mengambil pisau di dapur. Selanjutnya ia menghampiri Tati sambil menghunuskan pisau ke bagian leher korban. Tati terjatuh. Tri kembali menusukan pisau yang digenggamnya ke tubuh Tati sebanyak 12 tusukan. Setelah tak bernyawa Tri menyeret mayat Tati ke kamar mandi dan membersihkan bercak darah di lantai.

Peristiwa pembantaian yang kedua dilakukan Tri sekitar pukul 16.00 saat Heru, suami Tati, baru pulang kerja di PT Elektrolux. Heru yang tidak mendapatkan istrinya di ruang tengah menanyakan keberadaan istrinya kepada Tri.

Dengan enteng tersangka menjawab bahwa yang dicari ada di dapur. Heru lalu menuju dapur. Melihat istrinya sudah tak bernyawa, Heru menghampiri Tri lalu menubruknya. Keduanya terlibat perkelahian. Merasa terdesak, Tri lantas berlari ke dalam kamar dan mengambil pisau lalu menusukkannya ke tubuh Heru berkali-kali.
Saat bersamaan, datang Nada Arini, adik Teguh.

Nada yang baru pulang bermain terkejut melihat ayah dan ibunya terkapar bersimbah darah. Nada pun berteriak minta tolong. Namun, dengan cepat Tri mencekik leher Nada dan membenturkan kepala Nada ke lantai berkali-kali. Tidak hanya itu, Tri juga menusukkan pisau dapur ke bagian belakang leher Nada hingga akhirnya tewas. Mayat Nada lantas dibawa ke kamar mandi, sedangkan mayat Heru diletakkan di luar kamar mandi. Setelah membantai keluarga kawan akrabnya tersebut, Tri yang kelelahan lantas tertidur di kamar tersebut hingga akhirnya Teguh datang dan mengetahui peristiwa pembantaian tersebut. (mur/bum)
http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/07/06/06115845/teguran.nonton.tv.ditukar.3.nyawa

05 Juli 2008

Ulama dan Santri Tuntut TV Lokal Di Cirebon Tutup

kpigoid 04/07/2008 - Sekitar lima ribu orang yang terdiri dari para ulama dan santri di wilayah III Cirebon, melakukan unjuk rasa di Balai Kota Cirebon. Mereka menuntut Pemerintah kota (Pemkot) Cirebon menutup stasiun televisi lokal yakni PT Cirebon Televisi Indonesia.

Menurut koordinator aksi KH Muslim, penutupan itu harus dilakukan karena mereka menganggap pendirian stasiun televisi tersebut meresahkan dan mengusik ketenteraman umat Islam karena tidak sesuai dengan kultur dan budaya masyarakat.

"Kami menuntut kepada pemerintah kota Cirebon agar segera menutup mencabut dan membongkar semua kegiatan yang dilakukan PT CTV," ujar KH Muslim di sela-sela aksi, Kamis (3/7).

Pihak pendemo bahkan mengancam jika televisi di Kecamatan Argasunya, kota Cirebon itu tetap didirikan maka mereka akan membongkar sendiri bangunan televisi tersebut.

"Dalam waktu 7 x 24 jam jika tidak ditutup, kami akan membongkar sendiri bangunan yang ditempati PT CTV," tegasnya.

Sementara itu, massa yang melakukan aksi memenuhi Jalan Siliwangi. Akibatnya, lalu lintas dari Jalan Kartini dialihkan ke jalan Wahidin dan Tanda Barat. Sementara lalulintas dari arah Jalan Kerucut dialihkan ke Jalan Samadikun. Aksi berjalan tertib, dan hanya dijaga puluhan aparat kepolisian. Sumber terkait/Red

18 Juni 2008

Debat Kusir di TV

Saya baru dua kali menonton program Debat (malam) di sebuah stasiun TV swasta. Acara itu ramai, gaduh, saling adu argumen. Terkesan tak tertib, saling berebut, ingin menonjolkan diri, mengedepankan emosi, dan tak jelas ujung pangkalnya. Ya, seperti debat kusir saja.

Pertanyaan saya, tontonan semacam itukah contoh berdebat yang sehat sehingga TV perlu menayangkannya. Bukankah TV mestinya menyuguhkan tontonan yang patut dan menyegarkan penontonnya?
RUBIYANTO Jalan Rawa Jaya No 50, Pondok Kopi, Jakarta

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/19/00421866/redaksi.yth