26 Juli 2008

Musim Politik Artis Tiba

Daya jelajah artis makin luas. Mereka tidak lagi hadir di panggung-panggung hiburan, tapi sudah jauh mengisi panggung-panggung politik. Sistem politik telah membuat artis makin menjadi incaran partai-partai politik untuk dijagokan bertarung di pilkada dan pemilu legislatif. Popularitas artis menjadi modal besar meraup dukungan konstituen. Tidak perlu heran bila makin banyak artis yang terjun ke politik belakangan ini.

Fakta teraktual, hasil verifikasi faktual KPU yang mengakomodasi 34 parpol menjadi peserta Pemilu 2009, telah membuat hampir semua parpol mengambil jalan pintas; memberdayakan artis.

Sejumlah nama artis populer dikabarkan telah didekati oleh parpol untuk diusung sebagai vote getter. Makin populer seorang artis maka makin banyak pula parpol yang memperebutkannya. Nama-nama seperti Luna Maya, Tamara Blezinsky, Bela Saphira, Delon, laris manis diincar banyak parpol. "Saya sudah diminta menjadi caleg oleh lima partai politik. Tapi sampai saat ini saya belum bisa memutuskan karena sesungguhnya saya masih sangat menikmati pekerjaan saya sekarang," ujar Bela Saphira, suatu siang pekan lalu, saat diminta oleh sebuah parpol menjadi calegnya.

Memang sistem politik kita saat ini telah membuat; dikenal dan disukai, menjadi dua syarat dasar sebelum akhirnya dipilih. Jangan harap bisa terpilih dalam perhelatan politik seperti pilkada dan pemilu legislatif jika tidak dikenal oleh konstituen. Logikanya, jika dikenal saja tidak, bagaimana bisa disukai apalagi dipilih. Tak pelak kondisi ini membuat visi dan misi, serta kapasitas dan kapabilitas kandidat, menjadi nomor sekian.

Dengan kondisi seperti itu tak perlu heran bila belakangan ini parpol beramai-ramai melakukan perburuan terhadap artis untuk dimasukkan dalam daftar calon anggota legislatif (caleg). Masa kampanye sepanjang sembilan bulan ini ibarat musim berburu artis bagi banyak parpol.

Sejauh ini, Partai Amanat Nasional (PAN) merupakan partai yang paling sukses menjaring artis untuk diusung pada Pemilu 2009. Sedikitnya 20 artis telah menyatakan siap menjadi caleg dari PAN untuk kursi DPR RI. Jumlah itu jauh meningkat dibanding Pemilu 2004, saat PAN mengajukan sekitar 10 artis menjadi caleg. Namun yang lolos ke Senayan hanya Dede Yusuf, yang kini menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat.

Sederetan artis yang mewarnai daftar caleg PAN untuk Pemilu 2009, antara lain Derry Dradjat dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat, Ardian Maulana (Sumatera Barat), Eko Patrio (Jawa Timur), Marini Zumarini dan Wanda Hamidah (DKI), Wulan Guritno (Jawa Tengah), Ikang Fauzi (Banten), dan pelawak Cahyono (Jawab Barat).

Ketua Umum DPP PAN Sutrisno Bachir menolak anggapan partainya mengusung banyak artis menjadi caleg karena ingin memanfaatkan popularitas mereka guna mengumpulkan suara terbanyak (vote getter). "Kami mengusung artis jadi caleg bukan karena ingin mendongkrak perolehan suara pemilu. Tapi karena para artis memang terbukti bisa menjaga integritasnya ketika menjadi wakil rakyat," katanya.

Terbukti, tak seorang pun artis yang duduk di DPR terlibat kasus-kasus korupsi uang rakyat. "Coba lihat, mana ada artis yang jadi anggota DPR terlibat korupsi. Artis itu ternyata lebih jujur, lebih punya integritas, mampu menjaga kepercayaan publik," katanya.

Soal kualitas, lanjut Sutrisno, bisa dilatih. "Kemampuan setiap orang akan bertambah jika selalu mengikuti pelatihan-pelatihan menambah wawasan. PAN punya program khusus untuk peningkatan kualitas politik, dan mereka tetap harus diberikan pelatihan-pelatihan," ujarnya.

Tentang kemungkinan para caleg PAN yang berlatar belakang artis bisa lolos dalam pemilu, menurut Sutrisno, PAN menggunakan asas suara terbanyak. "Artinya caleg yang bisa mengumpulkan suara terbanyak akan lolos sebagai anggota legislatif," katanya.

Ia menambahkan, lebih dari separuh caleg PAN pada Pemilu 2009 adalah wajah baru, dominan generasi muda yang rata-rata berusia di bawah 40 tahun.

Lama Aktif

Pengusungan artis menjadi caleg juga terjadi di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Untuk Pemilu 2009, PDI-P antara lain mengusung Rieke Pitaloka dari dapil Jawa Barat, Sonny Tulung (Sulawesi Tenggara), Dedy Agung Gumelar (Banten), dan Edo Kondologit (Papua Barat).

Sekjen DPP PDI-P Pramono Anung mengatakan, partainya mengusung para artis menjadi caleg bukan karena latar belakang keartisannya. "Tapi karena mereka sejak lama aktif di partai," tandasnya. Ia mencontohkan, Rieke yang juga dikenal sebagai aktivis perempuan, sejak lama juga aktif di PDI-P. Artis-artis lainnya seperti Dedy, Sonny, dan Edo, sejak lama aktif di PDI-P.

"Kita sudah sangat mengenal mereka, sehingga karena itu kita mencalonkan mereka menjadi wakil rakyat. Tinggal rakyat akan memilih mereka," tuturnya.

Sebagai partai besar, lanjut Pramono, PDI-P tak akan sembarang memilih artis untuk duduk lembaga di wakil rakyat. Caleg-caleg PDI-P pada Pemilu 2009, lebih dari 50 persen adalah wajah baru yang masih fresh yang performanya dijamin tidak mengecewakan rakyat.

Ketua DPP Partai Republika Nusantara (RepublikaN), Anton Suseno berpandangan, munculnya para selebriti di daftar caleg adalah keinginan masyarakat. Karena itu, partainya juga akan menampilkan beberapa artis dalam daftar caleg. ìKami belum bisa sebutkan namanya. Yang pasti ada," katanya.

Namun demikian, menurut Anton, RepublikaN tidak akan sembarangan menjaring para selebritis tersebut. Kalau hanya sekadar cantik dan mengandalkan kemolekan tubuh, sudah barang tentu tidak akan masuk dalam daftar caleg. ìYang kami ingin adalah artis yang mempunyai karakter dan kualitas. Karena hal itu juga sangat berpengaruh pada citra partai kami," tandasnya.

Anton, yang juga mantan atlet tenis meja nasional itu mengemukakan, selain artis, partainya juga sedang mengincar para mantan atlet nasional, yang sudah barang tentu memiliki prestasi baik nasional dan internasional. ìYang jelas mantan atlet itu juga harus berkarakter," paparnya. [VL/128/M-16]

Primadona yang Tahu Diri

Jagat politik Indonesia semakin meriah. Luna Maya yang dengan wajah permainya mengepung Indonesia lewat iklan sebuah produk, dikabarkan akan menjadi calon anggota legislatif.

Berita itu segera menyebar ke delapan penjuru mata angin Tanah Air. Bukan apa-apa, wajah Luna yang sumringah jelas lebih popular daripada wajah para politisi kita. Apalagi wajahnya memang benar-benar mudah dilihat dari mulai Kabupaten Biak dan Sentani Papua, di dekat Pesantren Cipasung, Tasikmalaya hingga tanah Aceh. Bukan itu saja, senyumnya selalu muncul di iklan televisi untuk produk pulsa telepon. Lebih sering ketimbang Sutrisno Bachir, Prabowo Subianto, atau Rizal Malarangeng, para tokoh yang mengiklankan diri melalui televisi belakangan ini.

Apapun, berita soal hubungan bintang serba bisa itu dengan dunia politik jelas menarik perhatian banyak kalangan. Di jejaring komunitas Sunda sudah muncul beragam berita mengenai kabar Luna Maya merambah dunia politik. Dari yang bersikap gembira hingga pertanyaan soal kemampuan Luna di ranah politik. Bukan apa-apa, Luna dikabarkan akan menjadi caleg dari daerah pemilihan Jawa Barat!

Tapi, benarkah berita itu? "Aduh mas. Nggak ada tuh pikiran untuk menjadi anggota DPR. Saya tidak tertarik dan merasa tidak punya kemampuan bekerja untuk menjadi wakil rakyat. Saya sudah senang dengan dunia saya sekarang," kata mahasiwa jurusan Hubungan Internasional Universitas Paramadina itu.

Lepas dari soal bantahan Luna, gelombang masuknya kalangan selebritas ke dunia politik sudah lama jadi perhatian banyak kalangan. Sudah cukup banyak diskusi soal fenomena itu sejak Angelina Sondakh, Adjie Massaid dan Dede Yusuf berkiprah di DPR. Efektivitas kepopuleran Dede Yusuf dengan bantuan jejaring kuat Partai Keadilan Sejahtera malah terbukti ampuh mengantar sang bintang laga menjadi wakil gubernur Jawa Barat.

Mencari Dana

Hubungan dunia politik dengan tokoh di luar dunia politik semakin meriah menyusul kabar dari Ratna Sarumpaet. Sang sutradara teater itu menyatakan kesiapannya terjun ke dunia politik. Bukan hanya untuk menjadi calon anggota DPR atau calon kepala daerah. Ia melangkah lebih jauh lagi. Ratna maju sebagai calon presiden. Luar biasa!

Pendiri kelompok teater Satu Merah Panggung ini serius. Ia tahu persis, untuk maju dalam pertarungan politik, dana harus tersedia. Padahal, pundi-pundi uangnya terbatas. Kreativitasnya diuji. Rabu (23/7) malam ia menunjukkan kreativitasnya. Mencari dana. Caranya, lelang lukisan di Galeri Cemara 6 Jakarta. Dua puluh perupa rela karya mereka dilelang. Beberapa pengggiat seni yang mau karyanya dilelang ialah Firman Lie, Tisna Sanjaya dan Semsar Siahaaan (almarhum) melalui persetujuan keluarganya.

Sebagian dana dari hasil lelang itu akan dipergunakan untuk biaya perjalanan politik Ratna ke kursi nomor satu di dunia politik. Kursi presiden.Malam itu, Ratna yang dikenal sebagai aktivis itu sudah menyampaikan pidato politik berjudul "Indonesia yang Punya Harga Diri".

"Apa kehilangan terbesar bangsa Indonesia sekarang?" Ratna bertanya. Ia menjawab sendiri, "Kita terjajah kekuatan asing, praktik korupsi merajalela, hutang menumpuk dan yang pasti harga diri kita sebagai bangsa hilang," tegasnya.

Suara Ratna mantap. Maklum dia adalah penggiat teater. Jadi soal olah suara bukan perkara besar. Yang menjadi soal sekarang adalah dana kampanye.

Hasil akhir lelang belum bisa diketahui jelas. Namun yang pasti, dua lukisan yang dilelang sudah dibeli. Ratna belum tahu persis berapa harga lukisan yang terjual. Dua buah patung juga sudah ada yang membeli. "Saya belum terima laporan soal nilai karya itu. Mudah-mudahan banyak orang yang mendukung pencalonan saya lewat membeli karya seni itu," kata Ratna yang pernah ditangkap polisi saat menyelenggarakan People Summit, sebuah pertemuan para anti-Soeharto di era Orde Baru.

Jebakan "Betmen"

Berbicara soal politik dengan Luna mengasyikan. Selain tahu menempatkan dirinya sebagai orang yang tidak fasih urusan politik, banyak istilah gaul anak muda yang bermunculan. "Saya gak mau kena jebakan betmen para politisi. Mereka kan hanya memanfaatkan kita saja. Jadi saya harus waspada nih, " ujar bintang film Alexandria itu.

Jebakan betmen adalah istilah popular di kalangan anak muda yang jelas tidak ada hubungannya dengan Batman, tokoh super hero komik Marvel. Tapi di kalangan anak muda istilah itu diartikan sederhana sebagai jebakan. Itu saja. Bahwa nama Batman terbawa dan disebut betmen mungkin ada kaitannya dengan kisah pahlawan itu yang sering dijebak oleh musuh-musuhnya. Jadi Batman sebenarnaya tidak pernah menjebak.

Menjawab pertanyaan ia menegaskan betapa belakangan ini banyak sekali orang parpol yang mendekatinya. Awalnya mereka tidak berbicara soal politik. Biasanya hanya meminta sang bintang sabun mandi ini untuk tampil dalam sebuah acara yang memang menarik dan penting. Sebut saja kampanye anti narkoba.

"Saya jelas mendukung kampanye anti narkoba. Tapi begitu mereka katakana mereka ingin agar saya mau menjadi anggota parpol mereka atau bahkan menjadi caleg dari partai mereka, saya lebih baik mundur saja. Kampanye anti narkoba toh bisa dilakukan bersama siapa saja. Jadi, please jangan ajak saya ke dunia politik. Saya tidak mau mengecewakan rakyat karena saya merasa tidak pantas, " imbuhnya. [Pembaruan/Aa Sudirman]

Bekerja dalam Diam

Ungkapan "Diam itu Emas", menjadi filosofi hidup yang selalu melekat dalam diri Adjie Massaid (40). Itu sebabnya ketika orang mencibir para artis yang duduk di Senayan tak mampu menyuarakan aspirasi rakyat, karena kurang berbicara (diam), mantan aktor dan model Indonesia yang kini jadi anggota DPR tersebut, juga tetap memilih diam.

"Kita butuh kerja konkret, bukan cuap-cuap di koran," kata Adjie dalam perbincangan dengan SP baru-baru ini di Jakarta. Namun Adjie yang jadi anggota DPR periode 2004-2009 dari Partai Demokrat mengakui bahwa sikap diam itu mendatangkan citra negatif dalam aktivitasnya di DPR.

"Kemampuan kita jadi diragukan, Kelihatannya kelincahan berbicara selalu dijadikan ukuran kecerdasan seorang anggota Dewan," kata Adjie yang bernama lengkap Chandara Pratomo Samiadji Massaid ini.

Tapi sekali lagi Adjie menolak penilaian itu. Sebab berdasarkan pengalamannya semenjak jadi anggota DPR, banyak anggota Dewan yang dilihatnya tiap hari tampil ngomong di televisi atau di koran tapi tak jelas hasilnya.

Malah, kata Adjie, omongan para anggota Dewan terkadang hanya bikin orang tambah bingung, sarat kepentingan politik. Terjadi hujat menghujat, saling menjatuhkan satu sama lain. "Kasian rakyat banyak ditipu dengan kata-kata politik, apa seperti itu yang dikehendaki? Saya kira tidak, rakyat butuh kerja konkret," kata pria berdarah Belanda-Jawa ini

Sebagai seorang artis yang punya idealisme membangun bangsa, Adjie mengaku tak ingin jadi politisi yang kerjanya hanya cuap-cuap di koran, tampil di televisi untuk pamor ide dan gagasan. "Kalau kami artis, tak ada di koran untuk bicara persoalan rakyat, carilah kami di tempat tinggal rakyat. Kami ada di sana, lebih baik berdialog langsung dengan rakyat ketimbang berdiplomasi di media massa," ujar aktor yang pernah sukses membintangi film layar lebar "Cinta dalam Sepotong Roti" karya Garin Nugroho (1990).

Itulah sebabnya Adjie memilih lebih banyak mendatangi pusat-pusat kehidupan rakyat dan mencari tahu apa masalah rakyat, dan bagaimana bisa mengatasinya.

Ia melihat persoalan utama rakyat saat ini adalah kemiskinan. Rakyat miskin di tengah kekayaan yang dimilikinya. Kemiskinan terjadi karena lemahnya sumber daya manusia (SDM). "Rakyat kita kekurangan air bersih, padahal bumi Indonesia kaya air bersih," katanya.

Dalam kunjungannya ke Sulawesi, Papua, dan Kalimantan, Adjie menemukan persoalan minimnya infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan, telekomunikasi, rendahnya pendidikan menjadi hambatan besar yang menyebabkan rakyatnya masih hidup terbelit dalam kemiskinan.

"Dana-dana APBN mestinya dikonsentrasikan untuk memperbaiki semua

Adjie yang duduk di Komisi V mengaku bahagia karena sebagai anggota DPR, dia berhasil memperjuangkan penggunaan aspal buton untuk pembangunan jaringan jalan sekunder di Indonesia. "Bayangkan saja setiap tahun Indoensia harus mengimpor bahan baku aspal hingga 1,2 juta ton per tahun, padahal kita memiliki potensi aspal buton mencapai 365 juta ton. Jika kita gunakan 1 juta ton saja per tahun berarti kita mempunyai cadangan aspal buton untuk 365 tahun," ujarnya.

Soal wakil rakyat yang terjebak dalam sejumlah praktek korupsi, Adjie mengatakan, keterlibatan itu hanya individu. Artinya, lembaga DPR masih menyisakan para wakil rakyat yang memiliki integritras, bisa dipercaya rakyat.

Soal prospek para artis menjadi wakil rakyat, menurutnya, jika rakyat menghendaki, para artis yang concern di bidang politik tentu tak akan menolaknya. Hanya saja, dibanding dengan anggota DPR, pendapatan artis lebih banyak. "Ketika menjadi artis pendapatan saya bisa Rp 100 juta per bulan, tapi sekarang tak sampai separuhnya," ungkapnya.

Karena itu, Adjie mengaku tidak jadi soal jika nantinya dalam Pemilu 2009 dirinya tidak lagi terpilih. Yang terpenting dia sudah pernah melakukan sesuatu bagi rakyat. [SP/Voni Lithamanuputy dan Jeis Montesori]

Bisa Memukul Balik

Sistem dan realitas politik Indonesia saat ini telah menempatkan figur menjadi sangat penting. Asal dikenal dan disukai, sudah menjadi harapan tersendiri untuk merebut kursi kekuasaan, legislatif maupun eksekutif. Definisi konstituen hanya sebatas kerumunan orang yang bisa dimanfaatkan hak suaranya. Padahal, basis dari figur sesorang bisa saja berbeda dengan pilihan politiknya. Perselingkuhan antara figur yang laku dijual dengan pilihan politik inilah yang mungkin masih sulit dihindari. Maka berlomba-lomba pula partai politik mencari figur, khususnya artis, sebagai pendulang suara (vote getter).

Visi dan misi, serta kapasitas dan kapabilitas kandidat atau figur bukanlah hal yang utama. Persetan dengan integritas, jenjang pendidikan, kecerdasan dan kematangan dalam politik, asal bisa meraup suara. Pragmatisme parpol cenderung mengabaikan unsur tersebut dan menomorduakan kader-kadernya yang lebih intelek, berpengalaman, dan berintegritas baik. Dengan mengusung artis, parpol tak perlu capek-capek mempopulerkan lagi. Cukup dengan sedikit polesan kualitas sehingga sang artis dengan kemahiran melodrama bawaannya, bisa tampil memukau konstituen.

Di mata pengamat politik Sukardi Rinakit, selain popularitas, artis banyak dijual dalam pilkada atau pemilu, karena faktor tampang yang rata-rata sedap dipandang. "Tipe pemilih Indonesia itu melodramatik. Mudah hanyut kalau disodori calon-calon yang bertampang cool, menyejukkan, dan mengayomi," katanya.

Pakar komunikasi politik Effendi Gazali melihat, ada dua konsekuensi dari pilihan parpol terhadap artis tersebut. Pertama, jika seorang artis terpilih tetapi tidak mempunyai kapabilitas, maka akan menjadi pukulan balik terhadap para artis. "Kegagalan artis dalam jabatan politik akan menjadi pukulan balik," tegas Effendi. Kedua, artis yang dipilih secara instan kemudian menegasikan peranan para kader parpol tertentu, akan menghancurkan kinerja internal parpol. "Bagaimana pun dalam parpol tentu ada jenjang kaderisasi dan karir. Lain halnya kalau para artis juga sudah ikut bekerja dan membesarkan parpol," ujar staf pengajar Universitas Indonesia (UI) ini.

Namun, lanjut Effendi, kehadiran artis juga harus ditempatkan sebagai kontrol atas keberadaan figur yang menjadi saingan. Katakanlah untuk menjadi pimpinan daerah, maka sang artis bisa mengalahkan figur yang tidak mempunyai kualitas. Sebaliknya, jika tokoh yang dihadapi artis mempunyai kualitas, maka publik belum tentu akan memilih seorang artis yang instan dalam politik dan mempunyai penggemar tertentu.

"Ada beberapa figur pejabat atau non artis yang sangat baik dan mempunyai banyak konstituen, sehingga tidak bisa dikalahkan begitu saja oleh seorang artis. Jika seorang tokoh bersih dari korupsi, mempunyai kapabilitas dan sudah teruji tentu rakyat akan lebih memilihnya daripada seorang artis," jelas Effendi.

Dia juga menjelaskan, pemahaman artis dan selebriti politik juga masih rancu dalam masyarakat. Artis adalah salah satu bagian dari selebriti politik. Definisi selebriti politik itu adalah orang atau politisi yang sudah dikenal namanya, tokoh yang dikenal karena tindakan negatif seperti koruptor, atau juga politisi dan tokoh yang selalu membawakan isu tertentu. [H-12]

Nurul Arifin

Artis Juga Berhak

Belakangan banyak artis yang terjun ke dunia politik dan birokrasi. Kapabilitas mereka pun mulai dipertanyakan. Sejauh mana mereka akan mendedikasikan dirinya untuk masyarakat luas.

"Saya sedih jika para artis yang terjun ke dunia politik disebut hanya sebagai pelarian mencari popularitas yang baru. Artis juga punya hak yang sama untuk bersama-sama terjun ke masyarakat," ujar Nurul Arifin yang aktif di Partai Golongan Karya.

Nurul menyebutkan, mungkin ada artis yang dinilai kurang kapabel ketika terjun ke dunia politik. Namun, jika label 'pelarian' itu disandingkan pada semua artis yang terjun ke dunia politik hal itu tidak benar. Menurutnya, ada beberapa artis yang berkualitas dan pantas terjun ke dunia politik.

"Tapi mungkin pandangan itu bisa menjadi cara bagi artis yang terjun ke dunia politik untuk introspeksi diri. Artinya, artis harus mau memberdayakan dirinya agar memiliki kualitas yang lebih baik. Mereka harus mau belajar pendidikan politik, baik di partai maupun di masyarakat," jelas Nurul.

Pendidikan politik, kata Nurul, udah didapat. Banyak seminar atau diskusi. Mereka bisa mengikuti itu untuk menambah wawasan. Terserah bidangnya apa, mau lingkungan hidup, tentang perempuan atau bidang lainnya.

Maraknya artis yang dicalonkan sebagai anggota legislatif atau birokrasi di pemerintahan memang tidak sepenuhnya datang atas kemauan para artis. Nurul menyebutkan ada keseimbangan antara partai dan artis. Partai membutuhkan sosok yang populer untuk meraih suara sementara artis mampu melakukan itu. "Tapi bisa jadi hal ini sebuah bukti bahwa pengaderan di partai tidak berjalan sehingga mereka harus mencari orang luar," ujarnya. [K-11]

Popularitas Bukan Alasan Utama

sp/Alek SubanTantowi Yahya

Penempatan artis sebagai calon anggota legislatif (caleg) di beberapa partai politik (parpol) diwarnai berbagai alasan. Popularitas artis untuk menarik dan menambah suara, diakui bukan alasan utama.

Demikian rangkuman pendapat Ketua Pelaksana Harian Badan Pengendalian dan Pemenangan Pemilu Golkar Firman Soebagyo, Sekjen PKB Lukman Edy, dan Ketua Umum DPP Partai Pemuda Indonesia (PPI) Hasanuddin Yusuf kepada SP di Jakarta, Rabu (23/7).

Firman menilai pengajuan artis sebagai caleg di Golkar tidak menjadi masalah. Pasalnya, Golkar sudah memiliki standar untuk caleg yang akan didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Jadi, pengajuan caleg tetap mempertimbangkan kemampuannya, tidak hanya popularitas artis itu. "Kami fleksibel terhadap caleg. Bisa dari tokoh muda, intelektual, bahkan artis. Sejak dulu pun sudah ada beberapa artis yang terlibat aktif. Semua unsur ini tetap akan diseleksi lagi. Ada banyak artis di Golkar, seperti Tantowi Yahya, Jeremy Thomas, Nurul Arifin, dan Dewi Yul," katanya.

Dikatakan, salah satu hal penting yang membuat Golkar memasukkan sejumlah artis ke dalam daftar caleg karena terkait dengan profesi mereka. Melalui para artis itu, komunitas seni dan budaya juga memiliki wakil di DPR. Dengan demikian, hak-hak pekerja seni dapat terus diperjuangkan, karena hak cipta para pekerja seni saat ini belum terlalu dihargai.

Memberi Tempat

Sementara itu, Lukman Edy mengatakan, PKB memberi tempat bagi semua golongan untuk bisa menjadi caleg, termasuk artis. Pada pemilihan umum mendatang, PKB berencana merangkul tiga artis.

Lukman enggan menyebutkan siapa saja mereka. Dia hanya menyebutkan inisial AI sebagai salah satu artis yang akan masuk dalam jajaran daftar caleg PKB kubu Muhaimin. Nama artis yang masuk dalam daftar caleg PKB akan diumumkan awal Agustus mendatang.

"Yang pasti, artis tersebut dijamin cerdas, memiliki ideologi yang sama dengan partai, dan nasionalis. Psikologi masyarakat memang butuh figur baru, namun harus diseimbangkan dengan kualitas figur tersebut," tutur Lukman.

Lukman menyatakan celah untuk meraup suara lewat kemunculan artis itu bukan masalah utama. Fokusnya tetap pada kualitas artis.

Secara umum, PKB mempunyai kriteria caleg. Berbagai mekanisme juga tengah disusun, di antaranya penguatan caleg, apakah memiliki hubungan erat dengan struktur dan kultur Nahdlatul Ulama (NU). Penampilan dan kinerja yang baik juga tak luput dari proses penggodogan itu.

Bagi Lukman, semua itu dilakukan agar kesalahan pada masa lalu tidak terulang. Dia mengakui, wakil rakyat dari PKB di DPR tidak menguasai masalah. Dari 52 anggota PKB di dewan, hanya 10 hingga 15 yang berkualitas.

Sementara itu, Hasanuddin Yusuf mengatakan, sebagai partai yang mengusung kepemudaan, pihaknya tidak terlalu fokus pada calon dari kalangan selebriti. Namun demikian, Hasanuddin yang Ketua Umum DPP KNPI itu menyebutkan, di dalam kepengurusannya terdapat salah seorang artis yakni Monica Oemardi. Dia sendiri meyakini kepopuleran para artis itu tidak elalu menjadi vote getter.

"Kalau terkenal ya, tapi saya tidak menjamin mereka bisa menjadi vote getter," ujarnya. Namun demikian, partainya akan tetap menerima jika ada selebritis yang mendaftar sebagai caleg. "Sudah barang tentu akan kami seleksi ketat, dan harus yang berkualitas," tegas Hasanuddin. [ASR/M-16]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/07/27/index.html

1 komentar:

Just For Music mengatakan...

mbak/mas hehehe... blognya pasangi iklan biar dapat duit aku liat di search engine blog saudara lumayan teratas , ni link program bisnis yang menyediakan iklan dan kita dapat bayaran
www.kumpulblogger.com </a