14 Mei 2009

Mahasiswa Diajak Diet Nonton Sinetron

SEMARANG, KOMPAS.com--Puluhan mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Kamis, melakukan aksi mengajak mahasiswa untuk melakukan diet (mengurangi) menonton sinetron.

Aksi yang melibatkan sekitar 25 mahasiswa yang tergabung dalam Diponegoro Media Watch (DMW) tersebut dilakukan dengan menyebar brosur dan angket untuk meminta mahasiswa menilai, mengomentari, dan mengevaluasi sinetron yang saat ini merebak.

Koordinator Aksi, Maulidya Nosita Satiti mengatakan, pada dasarnya, sinetron Indonesia yang saat ini sering ditayangkan menampilkan setidaknya empat karakter dominan yang semuanya berimplikasi negatif.

"Pertama, sinetron Indonesia sering menampilkan karakter 'poor girl' (gadis miskin) yang sering mendapat siksaan dan selalu menangis dalam perannya," kata mahasiswi FISIP Undip angkatan 2007 tersebut.

Karakter kedua, katanya, sinetron Indonesia pasti menampilkan karakter manusia sadis, baik wanita atau pria yang perbuatan dan perkataannya tidak manusiawi dan tidak berperikemanusiaan.

"Biasanya, karakter ini kontradiksi dengan karakter gadis miskin sebelumnya dan memberikan perlakukan semena-mena terhadapnya," katanya.

Ketiga, sinetron Indonesia cenderung dipaksakan tayang dalam ratusan episode, tergantung rating yang diraih sinetron tersebut. "Kalau ratingnya tinggi, dapat dipastikan sinetron tersebut akan tayang lebih lama karena episodenya ditambah," katanya.

Ironisnya, kata dia, sinetron Indonesia yang sering dipertontonkan dan diperpanjang episodenya tersebut merupakan hasil jiplakan dari film atau drama luar negeri.

Karakter terakhir, lanjutnya, sebagai pelengkap sinetron Indonesia, biasanya ada pemeran "prince charming", yaitu pangeran yang diperebutkan oleh banyak gadis dalam sinetron tersebut.

Menurut dia, semua itu berdampak negatif terhadap penonton, terutama anak-anak yang sering meniru dan menelan mentah-mentah apa yang ditontonnya dalam sinetron.

"Sinetron Indonesia memang sering mengambil 'setting' sekolah, namun yang dieksplorasi bukan unsur pendidikan, unsur hormat pada guru dan orangtua, serta kegiatan pembelajarannya," katanya.

Sebab, unsur yang dieksplorasi justru nilai-nilai negatif seperti menonjolkan siswi dengan rok mini, murid-murid yang berkelahi, bahkan berani pada guru dan orangtuanya, kata dia.

Maulida Arifiani, salah seorang peserta aksi mengatakan, kalau hal ini dibiarkan kasihan anak-anak yang akan menjadi korban.

Oleh karena itu, katanya, pihaknya menghimbau kepada masyarakat, khususnya mahasiswa untuk "melek" media dan menilai tayangan itu baik atau tidak. "Minimal melakukan diet untuk menonton sinetron, khususnya yang tidak mendidik," tegasnya.

"Setelah hasil angket dan 'uneg-uneg' dari para mahasiswa tersebut terkumpul, kami akan mengajukannya kepada Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah (Jateng) untuk dilakukan tindak lanjut," katanya.

http://oase.kompas.com/read/xml/2009/05/15/01531183/Mahasiswa.Diajak.Diet.Nonton.Sinetron

Tidak ada komentar: